Tim Pengabdian Masyarakat UI Dampingi Revitalisasi Puta Dino Tenun Tidore

0
241

www.depoktren.com–Tenun di Kesultanan Tidore, yang dikenal dengan nama Puta dino, sudah punah. Kain, alat tenun, maupun pengrajin sudah tidak lagi dapat dijumpai berada di antara masyarakat Tidore-Maluku Utara, padahal Kesultanan dan masyarakat Tidore masih mempertahankan banyak tradisi dan ritual yang mengharuskan berpakaian adat, yang salah satunya adalah pemakaian kain tenun.

Anitawati (46), seorang perempuan kelahiran Soasio Tidore, yang juga seniman keramik, tergerak mengajak para pemuda Tidore (Ngofa Tidore) untuk menghidupkan kembali budaya menenun guna melahirkan kembali Puta dino.

Anitawati, yang masih bagian dari keluarga Kesultanan Tidore, meyakini bahwa kesultanan Tidore memiliki sejarah tenun. Dengan keyakinannya yang kuat, Anitawati menelusuri jejak-jejak peninggalan tenun di Tidore.

Dengan dukungan penuh Bank Indonesia (BI) cabang Maluku Utara, gerakan melahirkan kembali Puta dino ini telah menghasilkan kreasi 10 motif tenun Tidore, yang menggambarkan kemegahan dan kejayaan Kesultanan Tidore dan juga keindahan alamnya.

“Dalam upaya menemukan kembali motif-motif tenun Tidore, Anitawati memerlukan pendampingan melalui kerja ilmiah para periset dan pengabdi masyarakat Universitas Indonesia (UI),” ujar Ketua Tim Pengmas UI untuk Tenun Tidore, Dr. Ade Solihat, S.S., M,A dalam rilis yang diterima Republika, Sabtu (13/7).

Menurut Ade, dengan memanfaatkan Program hibah dengan skema IPTEKS bagi Masyarakat (IbM), yang didanai Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI Tahun 2019, Tim Pengmas Tenun Tidore FIB UI, yang terdiri dari Dr. Ade Solihat, S.S., M.A., Dr. Ari Anggari Harapan, M.Hum., dan Dwi Woro Retno Mastuti, M.Hum. melakukan pendampingan konsultasi akademis kepada Anitawati dan Ngofa Tidore untuk merevitalisasi Puta Dino dengan Model Revitalisasi Berbasis Translokal.

“Model Revitalisasi Berbasis Translokal ini melibatkan, masyarakat Tidore sebagai pemilik asli kebudayaan Puta dino, Anitawati, Ngofa Tidore, dan masyarakat luas di Jakarta, sebagai aktor yang memperkenalkan Puta Dino kepada masyarakat nasional dan internasional, wilayah Jepara, sebagai tempat belajar menenun bagi komunitas Ngofa Tidore, karena di Tidore sudah tidak ditemukan lagi individu atau kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan menenun,” jelas Ade.

Pengajar Kebudayaan Indonesia Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI ini memaparkan, program IbM DRPM UI ini memiliki target, mengumpulkan dan menganalisis motif tenun Tidore, serta mengelaborasi makna historis dan filosofis motif-motif itu, menghidupkan kembali kebudayaan menenun di masyarakat desa Soasio, Tidore-Maluku Utara.

“Pendampingan tahap awal yang sudah dimulai sejak Januari 2019 ini akan ditindaklanjuti melalui kerja sama yang lebih kuat antara FIB UI dengan Kesultanan Tidore-Maluku Utara, dan juga BI cabang Malut,” terang Ade.

Dengan kekuatan 10 penenun yang bekerja di Rumah Tenun di desa Soasio, yang dibangun dengan bantuan dana BI, karya kreasi anak-anak muda Tidore menjadi salah satu dari 370 kelompok Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang lolos seleksi dari 898 UMKM Indonesia yang berhak tampil di pameran Karya Kreatif Indonesia 2019 di Jakarta pada 12—14 Juli 2019.

Menurut Kepala BI cabang, Malut, Dwi Tugas Waluyanto, karya kreasi Puta Dino memang belum dapat dibandingkan dengan karya kreasi daerah Indonesia lain yang masyarakatnya masih membudayakan kerajian menenun. “Di Tidore, masyarakat baru mulai diperkenalkan kembali dan didorong untuk mempraktikkan budaya menenun,” terang Dwi.

Oleh karena itu diperlukan kesabaran dan kegigihan untuk menggerakkannya. Namun, menurut Pak Dwi, peluang pasar Puta dino sangat menjanjikan, baik skala lokal, nasional, dan juga internasional. Selain itu, motif-motif kreasi Ngofa Tidore mengandung makna identitas yang kuat tentang Tidore, dan itu merupakan sumbangan yang luar biasa besar bagi kekayaan tenun Indonesia. “Merevitalisasi Tenun Tidore tidak saja bernilai ekonomi bagi masyarakat Tidore, namun juga bernilai penting dalam menjaga warisan budaya yang tinggi,” tuturnya.

Dalam upaya mengembangkan Puta Dino, Ngofa Tidore juga bekerja sama dengan Yayasan Cita Tenun Indonesia (CTI), terutama untuk mendapatkan inspirasi dari berbagai pengalaman komunitas penggerak tenun dari daerah lain dalam mengembangkan tenun lokal masing-masing.

Selepas mengikuti Program KKI 12—14 Juli 2019 ini, komunitas Ngofa Tidore bersiap-siap mengikuti ajang Fashion Show yang akan diselesnggarakan oleh Yayasan CTI Agustus 2019 mendatang.

“Mari kita bersinergi untuk turut mendukung revitalisasi Puta dino, Tenun Tidore. Pada saatnya nanti Puta dino akan memperkaya khazanah tenun nusantara dan mampu menjadi produk unggulan bagi masyarakat Tidore dan Maluku Utara,” pungkas Dwi. (Ayu/Risjaddin Muhammad)

246 total views, 2 views today

LEAVE A REPLY