Pengelolaan Kolaboratif Situ-Situ di Depok

0
300

depoktren.com-Setiap OPD (organisasi perangkat daerah) di Kota Depok yang tupoksinya terkait dengan situ, seperti Dinas Bina Marga Marga dan Sumberdaya Air, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, Dinas Pariwisata, dan dinas lainnya yang terkait dengan pengelolaan situ, pasti memiliki perspektifnya masing-masing berkaitan dengan bagaimana situ-situ itu dikelola.

Masyarakat sekitar situ juga, setidaknya yang diwakili oleh Pokja-Pokja Situ, tentu saja memiliki mimpi tersendiri pula. Demikian juga dengan para akademisi di kampus, lembaga swadaya masyarakat dan kalangan dunia usaha.

Dengan mengidentifikasi pihak-pihak yang perlu terlibat (dilibatkan) dalam pengelolaan situ, dan mengidentifikasi perspektif dan mimpinya masing-masing, maka sesuatu yang tak dapat dihindari adalah keharusan pengelolaan situ yang, dalam referensi pengelolaan sumber daya alam, dikenal dengan konsep “pengelolaan kolaboratif”.

Pengelolaan kolaboratif dalam pengelolaan situ  adalah model pengelolaan yang menempatkan para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk berperan secara setara dalam proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan situ-situ di Kota Depok.

Disamping itu, salah satu hal yang menonjol dalam pengelolaan situ-situ di Kota Depok saat ini adalah pengabaian peran warga catchtment (daerah tangkapan air hujan) dari situ yang bersangkutan. Seolah-olah pengelolaan situ hanya membutuhkan peran dari warga di sekitar situ saja.

Catchment situ adalah hamparan wilayah dimana air hujan yang jatuh di mana pun di hamparan wilayah itu akan menuju ke situ tersebut. Air hujan itu yang mengalir dalam bentuk aliran permukaan (run off) akan membawa sedimen yang tererosi (yang akan mendangkalkan situ), membawa zat hara (nitrogen dan fosfat) yang akan menyebabkan pengkayaan mineral (eutrofikasi), serta membawa  polutan (zat pencemar) yang akan mencemari situ. Eutrofikasi akan merangsang pertumbuhan tanaman air (seperti eceng gondok). Eceng gondok yang mati dan bahan organik yang masuk ke situ akan membutuhkan oksigen untuk proses penguraiannya, sehingga mengurangi oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan.

Berkenaan dengan itu, maka  setiap warga catchment dari situ itu perlu dilibatkan dalam ikhtiar untuk mengendalikan run off dan mengendalikan limbah cair yang masuk ke badan air situ.

Pelibatan warga catchment situ perlu dilakukan dalam bentuk aksi kolektif (collective acton), dimana aksi kolektif merupakan implementasi dari rencana / keputusan kolektif. Sedangkan keputusan kolektif merupakan produk dari rembug warga di tingkat lokal.

Dengan demikian, maka pelaku utama dari pelestarian fungsi situ adalah warga catcchment situ itu sendiri. Sedangkan peran pihak lainnya adalah sebagai fasilitator untuk rembug warga, fasilitator untuk penyusunan rencana kolektif warga, dan sebagai fasilitator untuk membantu agar rencana-rencana warga catchment situ dapat terealisir. @van/sumber : http://konservasisitudepok.wordpress.com

 521 total views

LEAVE A REPLY