Catatan 2013, Depok Kota Terkotor dan Terkorup di Indonesia

0
801

depoktren.com-Periode pertama kekuasaan Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail (2005-2010), Kota Depok berpredikat sebagai Kota Terkotor di Indonesia, dan Sungai Ciliwung yang melintasi wilayah Kota Depok disebut sebagai Keranjang Sampah Terbesar se Dunia.

Kemudian, pada periode keduanya (2010-2015), rezim Nur Mahmudi Ismail, “Menorehkan tinta emas dalam sejarah Kota Depok”, sehingga pada tahun 2012, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai dan menyebut Depok merupakan Kota Terkorup dan Kota Terburuk dibanding Kota-Kota lainnya diseluruh Indonesia.

Ketika dikonfirmasi pada waktu itu, Nur Mahmudi Ismail mengatakan : “Saya tidak perlu berkomentar, nanti semakin berpanjang-panjang”, katanya ketika itu.

Pengamat perkotaan, Marco Kusumawijaya, menilai, Kota Depok dalam tataran realita telah mengalami diskoneksi (keterputusan) dengan sumber-sumber daya yang dimilikinya. Kota ini terlalu berorientasi pada Jakarta, namun abai mengelola potensi yang justru bisa dijadikan nilai tambahnya. Salah satu potensi tersebut tergambar pada pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2012 IPM kota dengan 11 kecamatan ini sebesar 79,49. Angka ini merupakan IPM tertinggi di Jawa Barat dan urutan ke-3 di tingkat nasional.

”Siapa yang tidak kenal Universitas Indonesia (UI)? Perguruan Tinggi terbesar dan paling populer di Negara ini, menyimpan periset-periset dan dosen andal. UI harusnya bisa menghasilkan lebih dari sekadar periset, melainkan pekerja-pekerja kreatif. Merekalah yang seharusnya berkontribusi menyumbangkan gagasan, pemikiran sekaligus produk yang ramah industri dan kapital sehingga bernilai ekonomis,” ujar Marco Kusumawijaya.

Bila itu dilakukan sejak lama, lanjut Marco, sudah dari dulu Depok tumbuh sebagai kota modern yang dapat menghidupi dirinya sendiri sekaligus mengakomodasi kebutuhan masyarakatnya. Kota ini bisa berlari pesat lebih dari sekadar memiliki sepuluh 21 pusat belanja, 12 perguruan tinggi, 26 situ maupun angka partisipasi kerja yang mencapai 63 persen (data Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Depok 2011).

Menurut Staf Pengajar Departemen Geografi FMIPA, UI, Tarsoen Wiryono, Depok dapat dikembangkan lebih baik lagi dengan desain lebih besar ketimbang sebagai “Kota yang Maju dan Sejahtera” sebagaimana
slogan yang kerap didengungkan.

”Kota yang dilengkapi economic base yang sesuai dengan kapasitas sumber daya alam dan sumber daya manusianya yang harus dikembangkan Pemerintah Kota. Sayangnya, Depok tidak cerdas (tak becus-red) melihat potensi ini. Sampai sekarang tidak ada cetak biru akan di bawa kemana arah pengembangan Depok ke depan,” tanya Tarsoen.

”Saat ini Kota Depok bukannya semakin maju malah semakin semerawut diseluruh bidang, baik dalam hal pelayanan, perencanaan pembangunan hingga soal-soal mengatasi kemacetan yang semakin parah dan menanggulangi banjir yang dulunya Depok tidak pernah banjir,” pungkas Firmansyah, seorang warga Depok yang menilai dua periode berkuasa kepemimpinan Nur Mahmudi gagal total dalam segala hal. @ris

 1,894 total views

LEAVE A REPLY