Dangdut Jangan Sampai Rusak Citra Demokrasi

0
334

depoktren.com-Pertunjukan dangdut biasanya menjadi primadona dalam pesta demokrasi di Indonesia. Ironisnya, seluruh lapisan masyarakat mengakuinya sebagai bagian dari budaya lokal yang kental.
Pegiat Kebudayaan, Warseno menyebutkan, dangdut merupakan bagian yang sulit untuk dipisahkan dari kegiatan-kegiatan kampanye, karena dangdut sangat familiar di telinga masyarakat Indonesia.

Menurutnya, bila kampanye hanya diisi dengan orasi akan terasa sangat membosankan, itu sebabnya musik dangdut menjadi pilihan hiburan di antara orasi tersebut. “Pertunjukan dangdut kan sebenarnya hanya hiburan di tengah kampanye, biar nggak bosan dan memang cuma dangdut yang bisa dinikmati semua orang,” ujar Warseno, Senin (13/1).

Warseno menambahkan, dangdut sulit dielakkan dalam kegiatan kampanye, namun jangan hanya dipandang sebagai hiburan semata tanpa memperhatikan faktor moral dan edukasi yang baik bagi citra demokrasi itu sendiri. “Boleh saja pertunjukan dangdut, tapi goyangnya, pakaiannya jangan seronok, tetap harus memperlihatkan budaya yang santun, baik dan tidak sensual. Masa calon pemimpin memberi contoh tidak baik,” tambahnya.

Pertunjukan dangdut memang dapat menarik minat masyarakat untuk mengikuti kampanye salah satu caleg dari suatu partai, tapi kemampuannya sebagai pendongkrak elektabilitas masih sangat diragukan.
Warseno yang juga berprofesi sebagai dalang ini mengatakan, “Masyarakat sudah sangat cerdas, dari manapun stratanya, mereka saat ini tidak mudah untuk dirayu dan dibeli suaranya, apalagi cuma dari pertunjukan dangdut,” kata Warseno yang pernah memecahkan Rekor MURI Mendalang 24 Jam Non Stop ini.

Lebih jauh Warseno mengatakan, dangdut hanya sebagai pertunjukan dalam memeriahkan pesta demokrasi atau kampanye, tidak lebih dari itu. Dia berharap, pertunjukan jenis itu dapat dilakukan dengan sensitivitas moral yang tinggi agar citra demokrasi yang kental dengan budaya yang membumi tidak rusak. @fan

 676 total views

LEAVE A REPLY