Rekayasa Cuaca Bukan Solusi Atasi Banjir Jakarta

0
413

depoktren.com-Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan rekayasa cuaca untuk mengurangi curah hujan yang tinggi di Ibukota Jakarta. Setelah diguyur hujan deras selama 2 hari berturut-turut sejak sabtu (11/1), sejumlah wilayah di Jakarta terendam banjir dengan ketinggian yang bervariasi. Operasi rekayasa cuaca akan dilaksanakan selama 2 bulan terhitung mulai hari ini.

Ketika meninjau korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta Timur kemarin, Kepala BNPB Syamsul Maarif menyatakan, “Pak Jokowi sudah menandatangani surat untuk melakukan rekayasa cuaca. Besok kita bisa mulai operasi rekayasa cuaca,” ucap Syamsul seperti yang dikutip di sejumlah media online.

Dalam operasi yang menggunakan teknologi penggaraman ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggunakan dana yang diambil dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebesar Rp. 20 Miliar dan Rp. 8 Miliar dari dana siap pakai BNPB.

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tidak mempermasalahkan besarnya dana yang dikeluarkan, karena menurutnya rekayasa cuaca terbukti mampu mengurangi frekuensi curah hujan. Operasi Rekayasa cuaca bekerja sama dengan BPPT sejak akhir 2013 ini sedianya cukup efektif, hari ini, selasa 14 Januari 2014 cuaca Jakarta terlihat sangat cerah. Mendung yang menyelimuti Jakarta dan sekitarnya dalam kurun waktu  hari terakhir sama sekali tidak tampak.

Tokoh pemuda Martin Manurung mengapresiasi langkah yang diambil Jokowi. Hanya saja musim hujan ini masih panjang, hal yang menjadi pertanyaannya adalah, apakah dana APBD cukup untuk mengatasi bencana ini sampai musim hujan selesai. “Anggarannya besar sekali, itu ‘kan pakai pesawat, sekali terbang sudah berapa uang yang dikeluarkan, bisa tahan lama nggak. Saya piker itu bukan solusi untuk mengatasi banjir di Jakarta,” ujarnya.

Dia mengkritik pembangunan perumahan di Jakarta dan sekitarnya yang tidak memperhatikan pembuangan saluran airnya. Menurutnya pertumbuhan sektor properti yang tidak bertanggung jawab merupakan salah satu penyumbang banjir terbesar di Jakarta. “Lihat itu bangunan-bangunan perumahan, mana ada yang beres saluran pembuangannya,” tandasnya.

Martin menghimbau agar masyarakat mulai sadar akan kebersihan. menurutnya bencana banjir bukan salah siapa-siapa, semua elemen melakukan kesalahan dan semua elemen wajib bertanggungjawab. “No offense, banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Kalau satu buah gelas minuman kemasan dikali sepuluh juta penduduk Jakarta dikali 356 hari, sudah berapa ribu genangan yang kita buat,” pungkasnya. @akan

 690 total views

LEAVE A REPLY