Waspada dan Hati-Hatilah Mencari Pembantu

0
927
illustrasi Waspadalah Mencari Pembantu
illustrasi Waspadalah Mencari Pembantu
illustrasi Waspadalah Mencari Pembantu

depoktren.com-Sebenarnya saya tidak terlalu butuh asisten rumah tangga. Kalau sekadar mencuci baju, nyapu, ngepel, masak, beres2, bisalah saya kerjakan gotong royong bersama suami dan anak-anak. Selama ini kami hanya menggaji mbak yg dtg ke rumah 2-3 kali seminggu utk urusan setrika pakaian saja. Tapi, kedatangan seorang ibu kemarin sore ke rumah membuat saya menerima Mega, gadis usia 16 tahun, yang ditawarkan sang ibu untuk bekerja di rumah saya.

“Saya dengar ibu tidak punya pembantu. Anak saya saja kerja di sini saja bu,” ujarnya. Mega yg duduk di sebelah ibunya terlihat malu-malu. “Kamu kok tdk sekolah?” tanya saya. “Saya sekolah sampai kelas 2 SMP bu, di SMP negeri dekat rumah. Tp saya berhenti sekolah dan bekerja sebagai pembantu, sdh 1 thn ini,” ujar Mega yg tinggal bersama orang tuanya di kawasan Pitara, Depok ini.

Mendengar Mega putus sekolah, saya tak lagi fokus pada urusan pembantu. Saya bertanya cukup keras kepada ibunya. “Kenapa Mega putus sekolahnya bu? Setahu saya sekolah negeri di Depok tidak memungut biaya 1 rupiah pun. Jd tidak ada alasan buat ibu utk tidak menyekolahkan Mega dan mendorong dia jadi pembantu,” tegasku yang membuat si ibu langsung menundukkan kepalanya.

Ya sudah, lanjut saya, Mega ikut tinggal bersama saya. “Tapi, kalau ikut saya berarti Mega harus sekolah. Mulai tahun ajaran berikut, Mega saya daftarkan sekolah lagi,” ujarku yang disambut anggukan Mega yang berparas manis dan berpenampilan bersih ini.

Supaya suami saya tidak kaget saya pun mengirim pesan singkat: Ini ada yg menitipkan anaknya di rumah, namanya Mega, usianya tidak jauh dari anak kita, Ara. Dia disuruh jadi pembantu sama orang tuanya. Kasian sekali.

Maka, mulai kemarin sore, Mega pun menjadi salah satu anggota keluarga baru kami. Kemampuannya bersosialisasi dengan anak-anak saya membuat saya cukup lega. Tadi pagi pun, obrolan sama bersama Mega mengenai rencana-rencana saya utk datang ke sekolahnya dan mengurus raportnya yg sempat terbengkalai berlangsung lancar. “Kamu kerja dengan baik ya, semampu kamu. Tahun ajaran nanti kamu sekolah lagi ya,” kata saya.

Hingga tadi siang, ketika saya pergi, tiba-tiba saya dikejutkan oleh telepon dari satpam yang berjaga di pintu gerbang kompleks. ”Maaf Bu Yenny, ibu punya mbak yg namanya Mega? Sptnya dia mau kabur. Jd kami tahan di sini,” ujar Pak Dadan, salah satu satpam di kompleks kami.

Waduh…. Ada apa ini? Kenapa Mega yg baru ikut saya 1 hari tiba-tiba pergi tanpa pamit? Saya pun buru-buru pulang dan kaget setengah mati melihat Mega yg diantar satpam sudah ‘berubah wujud’.

Wajah manis Mega yang kemarin datang ke rumah dengan rambutnya yg terurai sebahu kini sudah ditutupi dengan jilbab warna abu-abu. Mega juga memakai masker yang menutupi hidung dan mulutnya. Saya sama sekali tidak mengenali Mega dengan penampilannya itu.

Wah… bahaya ini… “Ibu, coba periksa tas Mega bu, jangan-jangan dia kabur karena mencuri” ujar Pak Mus, sopir saya. “Tidak ada lah pak mus, kan kamar selalu saya kunci kalau saya keluar rumah,” tangkisku. “Tapi periksa saja bu,” desak Pak Mus.

Saya pun dengan berat hati meminta Mega membongkar tas-nya. Dengan menahan tangisnya, Mega mengeluarkan semua barangnya. Alhamdulillah, tidak ada benda berarti. Hanya 1-2 barang milik anak saya yg diambilnya.

Saya tidak mampu lagi berkata banyak kepada Mega yang sempat saya anggap anak sendiri ini, meskipun dia baru satu hari ikut saya. Bahkan, saya sempat bercanda ke suami dengan mengatakan: Pa, anak kita bertambah jadi 4 ya, ada Mega sekarang, yang disambut anggukan suami saya. Suami saya bahkan sempat mengingatkan saya utk mengurus sekolah Mega yg terputus.

Sekarang saya lebih merasa patah hati dibandingkan marah. Saya yang biasanya waspada dan begitu hati-hati memasukkan orang lain ke dalam rumah begitu mudah ‘jatuh hati’ kepada Mega yg baru saya kenal. Tapi, siapa sih yang tak jatuh hati dan kasihan kepada Mega, gadis muda yang begitu manis dan putus sekolah ini?

Ya sudahlah…. semoga ke depan lebih waspada.. (Maghfiroh Yenny/Sukmajaya, Depok)

 1,596 total views

LEAVE A REPLY