Surat Orangtua Murid, Soal Anaknya Dikeluarkan Dari Sekolah

0
946

SMAN 99 JaktimMelalui email ini saya ingin berbagi pengalaman atas apa yang telah terjadi pada anak saya yang jelas berpotensi membunuh cita-cita anak saya sebagai siswa.

Terlampir kronologis kejadian yang telah menimpa kami ini. Semoga teman-teman wartawan  dapat memberi ruang bagi tulisan kami agar para orang tua siswa lebih jeli terhadap proses pendidikan yang terjadi di negeri ini.

Pada saat kami membuat keluhan ini anak kami masih terdaftar sbg pelajar kelas X IPS 3 SMA N 99 Jaktim, tapi kami dipaksa untuk mengundurkan diri oleh pihak sekolah dgn alasan sdh melakukan kesalahan 3x dalam waktu yang sangat singkat. Kami terjebak dgn surat perjanjian diatas materai, hukuman yang diterima oleh anak kami tidak sesuai dengan bobot kesalahannya.

Pelanggaran pertama dia memukul 1x teman satu kelasnya yang diselesaikan secara damai dan anak kami telah meminta maaf namun sebagai hukuman, anak kami mendapat skors selama 3 hari.

Pelanggaran yang kedua terjadi pd tgl 30 Januari 2014 disaat jam pulang sekolah. Terdapat kesalahpahaman dengan kawan sepermainanya, anak kami sudah meminta maaf, namun yang terjadi temannya tersebut malah memberikan pukulan duluan kepada anak kami. Untuk tidak memperpanjang masalah dan menghindari perkelahian, anak kami lari tetapi temannya masih tetap mengejar hingga akhirnya anak kami terdesak dan dengan sangat terpaksa melawan sehingga terjadilah perkelahian.

Dalam hal ini anak kami dipersalahkan karena membalas pukulan, karena pihak sekolah menyebutkan bila terjadi pukulan jangan melawan sekalipun babak belur bahkan mungkin mati! Pola pikir yang tidak bertanggung jawab ini keluar dari mulut seorang guru berinisial “S”.

Guru tersebut mengatakan karena tindakan yang diambil oleh anak kami untuk melindungi dirinya pun dipersalahkan dengan resiko dikeluarkan (dipaksa harus mengundurkan diri). Setelah melalui perdebatan yg sangat alot akhirnya anak kami diberi ksempatan untuk tetap melanjutkan pendidikan di SMA N 99, dengan menjalani skorsing terlebih dahulu selama 3 hari terhitung mulai tanggal 4,5,6 Februari 2014.

Selanjutnya pada tanggal 10 Februari anak kami bersekolah seperti biasa. Memasuki jam istirahat sekitar pukul 12.30 anak kami ke kamar mandi. Disana sdh ada kakak kelasnya siswa kelas XI (kurang lebih 5 orang) sedang merokok dan setelah diminta untuk mencoba oleh senior-seniornya anak kami tergoda untuk mencoba beberapa hisap. Tidak beberapa lama datanglah seorang guru berinisial “P”, inilah awal petaka bagi anak kami karena sekolah memaksa kami untuk mengundurkan diri. Tentu saja kami menolak dengan pertimbangan ini adalah masa-masa tengah semester.

Sungguh hal ini sama dengan membunuh cita-cita anak kami dan sangat menyakitkan serta menyulitkan. Awalnya kami meminta kepada pihak sekolah agar anak kami diberi kesempatan sampai tahun ajaran baru 2014 setelah itu anak kami akan dipindahkan ke sekolah lain. Ini berkaitan dengan sulitnya sekolah menerima murid pindahan di tengah semester dan tentu masalah keuangan juga menjadi kendala karena memindahkan anak ke sekolah lain tidaklah gratis walaupun itu adalah sekolah negeri apalagi swasta.

Tapi pihak sekolah bersikukuh karena dengan alasan sudah dirapatkan oleh dewan guru yang ternyata terjadi provokasi didalamnya yakni anak saya difitnah!. Pada kejadian yang terakhir menurut keterangan para saksi (siswa kelas XI) yg merokok di kamar mandi mengatakan anak kami lah yang membawa dan mengajak merokok di kamar mandi. Ini jelas fitnah berjamaah yang diduga terjadi konspirasi antara guru dan siswa kelas XI atau keterangan palsu yang dibuat secara terpaksa untuk mencari aman.

Kami betul-betul kecewa dan sedih kenapa pihak sekolah begitu kejam kepada kami. Perlu diketahui selama 2 minggu ini anak kami hanya dirumahkan dan tidak  mendapatkan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Seperti inikah dunia pendidikan saat ini? Jelas tercantum di UUD 1945 Pasal 31 ayat 1 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” dan Pasal 28I ayat 2 “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apapun dan berhak untuk mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskrimintaif itu”.

Perlu teman-teman wartawan ketahui sewaktu anak kami diinterogasi oleh seorang oknum guru kesiswaan yang berinisial “D” pada tanggal 10 Februari pukul 13.00 yang kurang lebih disaksikan oleh 2 orang guru lainnya, guru tersebut bertanya pd anak kami, ”kamu mau mengundurkan diri atau keluar?  ”saya masih mau belajar disini bu,” jawab anak kami. Namun tiba-tiba guru tersebut membalasnya dengan berkata “tai! Kamu masih pengen disini?”.

Sungguh mengejutkan profesi yang paling dianggap paling terdidik mengucapkan hal tersebut dihadapan anak saya! Pantaskah seorang guru/pendidik, wanita, berjilbab, mengeluarkan kata-kata kotor dan tentunya menghina harga diri anak saya!. Pada saat pemanggilan kami ke sekolah, sempat kami tegur guru tersebut namun dia tidak mengakui sampai kami minta untuk bersumpah dan dia pun tidak mau!. Bahkan untuk meminta maaf pun tidak!. Kami betul-betul kecewa, kenapa pihak sekolah begitu tergesa-gesa dan memaksa kami mundur? Apakah bangku anak kami sudah banyak dipesan sehingga anak kami tidak diberikan kesempatan walau hanya sampai kenaikan kelas? Faktanya pada semester pertama saja pihak SMA N 99 terutama untuk kelas X sudah menerima murid pindahan lebih dari 5 orang bahkan diduga setiap murid pindahan dikenai biaya antara 7-10 juta bahkan lebih.

Silahkan di kroscek, kami memiliki rekaman antara anak kami dgn anak pindahan yang membicarakan masalah pembayaran. Sekalipun pihak sekolah mengklaim tidak mudah masuk SMA N 99 karena ada tes yang
harus dilalui (sebagai formalitas saja) memangnya kalau hasil tesnya bagus jadi gartis?

Dengan diterapkanya peraturan pemerintah DKI bahwa Sekolah Gratis, jelas SMA N 99 telah menjalankan pendidikan dengan tangan besi terhadap siswa-siswa yg bertabiat berbeda dgn siswa lainya, SMA N 99 tidak seperti lembaga pendidikan tapi Bergeser seperti Lembaga Pengadilan terhadap anak didiknya! Itulah yang kami rasakan!

Berkenaan dengan masalah yang kami hadapi sekarang ini, kami menghimbau/mengajak ex orangtua/siswa SMA N 99 yang Dipaksa Mengundurkan Dir karena kesalahan dan pelanggaran tata tertib yang ringan untuk bergabung dengan kami dengan harapan mari kita tertibkan lembaga pendidikan SMA N 99 yang sakral ini dan masih dirusak oleh oknum-oknum yang mengatasnamakan pendidikan. Kami berharap SMA N 99 dapat dibersihkan dari anasir-anasir guru komersial atas nama dunia pendidikan yang sakral.

Siapapun yg membaca keluhan kami, jadikanlah ini sebagi pelajaran agar orang tua murid dimana pun baik yang anaknya sedang mendapatkan pendidikan ataupun yang berniat masuk SMA N 99 hendaknya berhati-hati jangna pernah membuat kesalahan sedikitpun, dan apabila itu sudah terjadi berhati-hatilah jgn sampai terjebak dgn surat perjanjian. Awal kita mendaftar sekolah itu dengan aturan yang legal, tapi kalau sudah terjadi seperti yang kami alami pada akhirnya posisi Legal kami akan digantikan oleh yang Ilegal.

Terimakasih Untuk Para Wartawan

ellawijatmoko@yahoo.com
Puguh Wijatmoko/Ela Nurhayati : HP 085311546946
Orangtua dari Fadhiel Muhammad An’naufal kelas X IPS 3 SMA N 99 Jakarta Timur.
Komplek Harapan Baru Taman Bunga Blok T/2 Harjamukti, Cimanggis, Depok.

 2,855 total views

LEAVE A REPLY