Wisata Niaga Menjamur, Jangan Lupakan Pasar Tradisional

0
597

Margo-City-Istdepoktren.com-Jakarta dengan fungsinya sebagai Ibukota Indonesia menjadi magnet bagi pebisnis yang berlomba-lomba membangun gedung-gedung raksasa yang berorientasi pada wisata niaga. Namun demikian, dengan menjamurnya tempat-tempat wisata niaga seperti mall membuahkan masalah baru, terutama berdampak pada lahan terbuka hijau yang semakin sedikit dan banjir.

“Dengan menjamurnya lokasi-lokasi wisata niaga sebenarnya berindikasi baik, karena itu artinya terjadi lonjakan ekonomi yang membuat daya beli meningkat. Inilah yang menyebabkan banyak pengembang yang membangunmall,” ujar anggota Komisi IV DPR-RI, Anton Sukartono Suratto, di Jakarta, Ahad (23/2).

Lebih lanjut pria yang akrab disapa Kang Anton ini mengatakan, meski kebutuhan akan wisata niaga juga meningkat sebaiknya Pemerintah Daerah tidak melupakan pasar tradisional sebagai basis niaga paling dekat dari masyarakat.  “Meski memberi izin untuk pembangunan mall dan lokasi wisata niaga, sebaiknya Pemda juga tidak melupakan pasar tradisional. Boleh bangun mall, tapi jangan ditutup mall semua. Pasar tradisional juga harus dibuat senyaman mungkin seperti diberi AC,” terangnya.

Selain menggerus keberadaan pasar tradisional, keberadaan mall dan lokasi wisata niaga juga membuat lahan hijau di menjadi terganggu. “Jakarta banjir, yang dituduh orang Bogor dan Depok. Sebenarnya banjir bisa jadi penyebab utamanya adalah lahan terbuka hijau dan daerah serapan dimanfaatkan oleh mall semua. Sebagai contoh adalah Kelapa Gading, dulunya itu adalah lahan resapan air. Wilayah Jakarta Utara saja sekarang mall-nya sudah sangat banyak,” papar Anton.

Pemda, tutur Anton, sebaiknya tetap memperhatikan tata ruang yang baik. Daerah hijau sebaiknya tetap menjadi daerah hijau. “Kalau memang sudah tidak ada lahan yang kosong, sebaiknya Pemda membeli lahan. Atau tanah untuk dijadikan daerah hijau. Peruntukannya, kalau ada pengembang yag ingin membangun mall, boleh saja. Tapi tetap harus memperhatikan dampaknya terhadap lingkungan. Atau kalau mau Ibukota dipindahkan saja, mengapa tidak. Jakarta tetap menjadi pusat bisnis dan pusat niaga, wilayah terpilih untuk Ibukota hanya sebagai pusat pemerintahan saja,” tuturnya.

Anton yang sempat duduk di Komisi X DPR-RI ini menegaskan, bila ingin swasembada pangan dan swasembada beras berjalan, pembangunan mall-mall atau pusat niaga lain sebaiknya jangan di wilayah yang subur untuk pertanian. “Kalau mau di daerah pesisir atau dekat-dekat pantai yang lahannya memang tidak bisa untuk bercocok tanam. Itu artinya ketahanan pangan tetap berjalan aman,” tegasnya. @sagita

 1,471 total views

LEAVE A REPLY