ASEI Memperkuat Bisnis Reasuransi

0
206

asei

depoktren.com – PT Asuransi Ekspor Indonesia (Pesero) atau ASEI bertekad menjadi pemain di tingkat regional dalam kurun lima tahun mendatang. Arah menuju ke sana telah dimulai dengan langkah memperkuat dan memperluas cakupan bisnis di bidang reasuransi.

Niat untuk memperluas bisnis reasuransi ini juga sudah mendapat restu dari Kementerian BUMN. Dalam RUPS yang diselenggarakan pada 10 Maret 2014 lalu, Menteri BUMN Dahlan Iskan memutuskan perubahan nama perseroan  seperti yang tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) dari PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero)  atau ASEI  menjadi PT Asei Reasuransi Indonesia atau disingkat PT Asei-Re (Persero).

Selain itu, AD yang berisi Maksud dan Tujuan serta Kegiatan Usaha yang tertera dalam Pasal 3 ayat (1) juga berubah menjadi :’’Maksud dan tujuan Perseroan ini adalah melakukan usaha di bidang asuransi kerugian termasuk usaha dengan prinsip Syariah dan memberikan jasa dalam pertanggungan ulang (reasuransi) terhadap risiko yang dihadapi oleh perusahaan asuransi kerugian untuk menunjang peningkatan ekspor non minyak dan gas serta kegiatan non ekspor, termasuk tetapi tidak terbatas pada asuransi ekspor dan asuransi kredit serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya Perseroan untuk menghasilkan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk mendapatkan/mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan terbatas.’’

Keputusan RUPS tersebut merupakan dasar bagi ASEI untuk melakukan transformasi bisnis dari sekadar sebagai perusahaan asuransi kerugian menjadi perusahaan asuransi kerugian dan reasuransi. ‘’Kami selama ini memang sudah menjalani dua bidang tersebut, sebagai asuransi dan reasuransi. Tapi dengan adanya mandat RUPS ke depan kami akan memperkuat dan memperluas bidang bisnis reasuransi,’’ kata Dirut Asei-Re Eko Wari Santoso kepada wartawan di Jakarta, Rabu (19/3). Asei-Re tidak akan meninggalkan bisnis asuransi yang sudah ditekuni selama ini.

Jika disimak dari fakta yang ada, kebijakan Kementerian BUMN tersebut sangat beralasan. Prestasi Asei-Re di bisnis reasuransi menunjukkan pertumbuhan signifikan. Dalam enam tahun terakhir dari 2008 hingga 2013, pertumbuhan bisnis reasuransi yang dikelola Asei-Re mencapai 1.904%. Pada 2008, premi dari reasuransi masih relatif kecil Rp 9,02 miliar. Nilai ini meningkat menjadi Rp 180,8 miliar pada 2013.

Kontribusi reasuransi juga selalu meningkat dari waktu ke waktu. Jika pada 2008, komposisi reasuransi masih sebatas 3,99%, maka pada 2013 sudah meningkat hingga 16,7%. Komposisi ini jauh di atas rata-rata industri yang masih 4,65%.

Manajemen Asei-Re sejak awal melihat bahwa potensi bisnis reasuransi di Indonesia sangat besar. Data menunjukkan transaksi reasuransi dengan luar negeri pada industri asuransi Indonesia selalu negatif. Industri asuransi nasional lebih banyak membayar ke luar negeri dibandingkan dengan menerima dari perusahaan reasuransi luar negeri. ‘’Selalu terjadi defisit neraca pembayaran reasuransi luar negeri,’’ tukas Eko Wari. Kalau kondisi ini berlangsung terus-menerus maka capital out flow semakin besar. Pemerintah berkepentingan menurunkan pembayaran dan defisit dengan luar negeri dalam rangka untuk menghemat devisa.

 

Dengan memperkuat bisnis reasuransi, manajemen Asei-Re berupaya meningkatkan  pendapatan reasuransi semaksimal mungkin. Jika saat ini komposisi pendapatan asuransi masih dominan sekitar 84% dan reasuransi 16%, maka pada masa mendatang bisa jadi komposisi pendapatan dari reasuransi lebih besar dari asuransi.

 

Selama 2013 lalu, Asei-Re berhasil meraih pendapatan dari premi bruto sebesar Rp 1,083 triliun, naik  27,9% dibandingkan 2012 yang mencapai Rp 847,4 miliar. Dari bisnis underwriting, pada 2013 Asei-Re berhasil mengumpulkan Rupiah sebanyak Rp 180,15 miliar atau mengalami pertumbuhan 39,3% dibandingkan tahun sebelumnya Rp 129,3 miliar. Nilai aset Asei-Re juga tumbuh signifikan 46,8% dari Rp 1,3 triliun pada 2012 menjadi Rp 1,9 triliun pada 2013. Sedangkan nilai ekuitas tumbuh 10,2% dari Rp 777,2 miliar menjadi Rp 856,59 miliar pada 2013.

Perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp 107,3 miliar pada 2013, 15,67% lebih tinggi dibandingkan perolehan laba bersih 2012. Eko optimis bahwa pada 2014 ini, pertumbuhan kinerja perusahaan yang dipimpinnya masih akan stabil. Ia menargetkan pada 2014, pendapatan premi bruto bisa mencapai 1,36 triliun atau tumbuh 25,48%. Sedangkan laba bersih diproyeksikan bisa meningkat sebesar 13,88% dari Rp 107,3 miliar menjadi Rp 122,24 miliar. ‘’Potensi pasar masih sangat besar dan kami optimis bisa melakukan penetrasi pasar lebih baik,’’ katanya. (Anbf)

 492 total views

LEAVE A REPLY