Presidenku Seorang Hafizh

0
184

uym

depoktren.com – “Saya memimpikan negeri ini kelak dipimpin sama seorang haafizh, seorang penghafal Al-Qur’an. Yang memimpin dengan kearifan dan keberkahan Al-Qur’an. Dia menjadi rahmat bukan hanya buat seluruh masyarakat Indonesia yang beraneka ragam, tapi juga menjadi rahmat buat semesta.”

Bakal adem hati kita para orang tua, kalau di hati anak-anak kita, ada Al-Qur’an. Anak-anak kita mau menjadi apa saja kelak, dia juga adalah seorang haafizh. Dan amazing-nya, anak keturunan kita itu belajar dan menghafal Al-Qurannya, tidak jauh dari rumah kita. Yakni dengan menjadikan rumah kita sebagai pesantren mini yang disebut Rumah Tahfizh.

(+) Rumah Tahfizh itu apaan sih?

Sebelum bicara tentang Rumah Tahfizh, saya ingin mengomentari dulu soal judul di atas.

(+) Judul yang mana?

Judul: “Presidenku Seorang Haafizh.”

(+) He he he, silahkan Ustadz.

Judulnya bagus, tapi sebenarnya lebih penting itu adalah memiliki anak seorang haafizh, seorang penghafal Al-Qur’an. Presidennya nanti haafizh, tapi anak kita nggak haafizh, tetap rugi. Seorang anak yang hafal Al-Qur’an, akan menyelamatkan orang tuanya dan banyak keluarganya dari neraka dan siksa kubur. Anak ini akan menjadi penyelamat. Dia akan disuruh Allah untuk memasukkan orang-orang yang dicintainya ke dalam surga.

Indah betul membayangkan anak kita wisuda S1, S2, dengan dua gelar; gelar dunia dan gelar dari Allah, yakni gelar Al-Haafizh, gelar penghafal Al-Qur’an. Jadi apapun anak kita, dokter-kah, ekonom-kah, insinyur-kah, pebisnis-kah, pejabat-kah, anak kita itu hafal Al-Qur’an. 30 juz! Dan bukan hanya hafal, tapi berakhlak Al-Qur’an, hidup dengan Al-Qur’an, dengan pengetahuannya akan Al-Qur’an dan pengamalannya. Subhaanallah.

Di tempat lain, ada keindahan yang luar biasa. Ada keluarga-keluarga sahabat saya, yang memiliki 4 anak, 6 anak, 8 anak, bahkan 11 anak, yang semuanya penghafal Al-Qur’an. Semuanya. Di usia saya yang terbilang belum tua, melihat senyuman kebanggaan di wajahnya, bahwa anak-anak mereka adalah anak-anak penghafal Al-Qur’an.

Saya menyaksikan satu demi satu dari para orang tua ini mengantarkan anak-anaknya kepada cita-citanya, dengan modal yang tidak tanggung-tanggung. Modal Al-Qur’an 30 juz. Ada di antara mereka yang juara olimpiade fisika, ada di antara mereka yang kemudian menjadi pedagang hebat. Ada di antara anak-anak tersebut yang sudah memimpin pesantren di usia belia. Ada yang baru saja mengambil gelar master. Bukan di Indonesia. Tapi di luar negeri.

Bahkan ada satu kawan yang saya kenal, yang anaknya hafal Al-Qur’an sebelum menginjak usia 11 tahun. Anaknya ini dari kecil sekolah di luar negeri. Di Australia. Karena lahirnya di Asutralia, he he he. Ya, anak ini dan ayah ibunya tinggal bukan di Indonesia. S1 di Amerika. Mengambil S2 di Amerika pula. Jurusan yang sulit lagi, Tehnik Mesin! Fadhil, begitu nama anaknya. Sejak akhir 2010 dia membantu saya mengelola institusi Tahfizh di Melbourne, Australia. Padahal kalau dipikir-pikir beliau seorang pekerja dan pengusaha yang relatif sukses. Bahagia benar rasanya jadi orang tuanya.

Di akhir Januari 2011, di tanggal 30, saya menyaksikan akad nikah anak yang istimewa juga dari sahabat saya; Bu Wiwi dan suaminya. Beliau menikahkan 1 dari 10 anaknya yang semuanya penghafal Al-Qur’an! Dan nikahnya ini dengan penghafal Al-Qur’an juga. Sepasang suami istri yang haafizh dan haafizhah. Ya Allah, saya pengen anak-anak saya dan mantu-mantu saya, serta anak keturunan saya seperti itu. Dan pendidikannya? Dua-duanya mempelai ini, berpendidikan luar negeri. Maasyaa Allah.

Belum lagi keluhuran anak-anak yang ada Al-Qur’an di dadanya, bagaiman akhlak dan perhatiannya kepada orang tuanya yang sakit. Anak-anak lain nungguin ayah ibunya di kantin, atau sambil baca majalah dan koran, ini mereka, anak-anak generasi penghafal Al-Qur’an, menemani dengan membaca Al-Qur’an. Kehadirannya, suaranya, sudah menjadi tambahan obat yang istimewa buat orang tuanya. Mereka bahkan seringkali shalat 2 rakaat untuk orang-orang tua mereka. Anak-anak penghafal Al-Qur’an ini selalu hidup malam harinya, mendoakan orang-orang tua mereka; untuk rizkinya, untuk umurnya, untuk kesehatannya, dan untuk nawaitu ke baitullahnya. Subhaanallaah.

Kalau menyiapkan anak sendiri saja sudah masya Allah, apalagi kemudian kita mau terlibat di upaya menjadikan anak-anaknya orang lain menjadi penghafal Al-Qur’an. Masya Allah. Lihat dan perhatikan kalimatnya: Kalau menyiapkan anak sendiri saja sudah masya Allah, apalagi kemudian kita mau terlibat di upaya menjadikan anak-anaknya orang lain menjadi penghafal Al-Qur’an. (Ustadz Yusuf Mansur)

 

BINGKAI PPPA DAARUL QUR’AN BOCIMI

Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an Daarul Qur’an Cabang Bogor Cianjur Sukabumi

Kantor: Jl. Pandu Raya No 140 Bantarjati, Bogor

Call Center: 0251 – 8322 355 Pin BB : 30B8BAED

SMS Center: 081380303380 Layanan Konseling: Pin BB: 26670687

Website:  http://pppa.or.id.

Rekening Donasi:

BCA 603 0750 444

Bank Mandiri 128 000 603 0842

BSM 7011 087 277

BTN 00288 0130 00000 17

a.n Yayasan Daarul Quran Nusantara

 

 805 total views

LEAVE A REPLY