Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok (2): Peliknya Persoalan Sampah di Kota Depok

0
2192

DSC_0032Kepala UPT TPA CipayungKota Depok kini mengalami persoalan yang cukup pelik dalam hal pengelolaan sampah. Produksi sampah di Kota Depok per hari mencapai 1.200 ton. Sedangkan kemampuan untuk mengangkut sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) per hari hanya 400 ton. Lalu bagaimana sisa yang 800 ton lagi? Sampah sampah itu tidak bisa diangkut karena keterbatasan armada truk pengangkut sampah.

Saat ini Unit Pelaksana Teknis (UPT) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Dinas Kebersihan dan Pertamanan  (DKP) Kota Depok hanya memiliki 70 unit truk dengan kapasitas angkut 7 ton per unit per hari. Dengan demikian total daya angkut sampah maksimal  per hari hanya sekitar 490 ton.  Itu pun kalau semua armada berfungsi dengan baik. Jadi untuk bisa mengangkut semua produksi sampah yang mencapai 1.200 ton itu, setidaknya dibutuhkan armada truk sebanyak 210 unit. Artinya butuh tambahan 140 unit mobil lagi. Wow. Itu baru satu persoalan.

Persoalan lain adalah daya tampung TPA Cipayung yang sudah mencapai titik kritis, karena dari 3 landfill (kolam) yang ada, tinggal satu kolam yang belum terisi penuh. Dua kolam lainnya, sudah tidak bisa diisi lagi. Jika sampah warga Depok terus meningkat dan tidak ada pelebaran lahan, kemungkinan besar akan terjadi longsor di TPA Cipayung.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPA DKP Kota Depok, Iyay Gumilar, mengatakan TPA Cipayung seluas 11,2 hektar itu, kini masih  menggunakan sistem Controlled Landfill.  Sistem tersebut merupakan sistem yang menimbun sampah dalam suatu TPA. Setelah sampah secara teratur dibuat barisan dan lapisan setiap harinya dalam kurun waktu tertentu, timbunan sampah akan diratakan dan dipadatkan oleh alat berat seperti Buldozer maupun Track Loader. Bila sudah rata dan padat, timbunan sampah ditutup dengan tanah.

“Kami masih menggunakan sistem Controlled Landfill. Sistem ini memerlukan lahan yang luas. Di TPA Cipayung sebenarnya ada 3 landfill, landfill A, B, dan C. Tapi yang masih aktif cuma landfill B. Yang A dan C sudah tutup sejak tahun 2012 karena sudah over load dan jaraknya terlalu dekat dengan rumah warga,” ujar Iyuy.

Karena itu, Iyay meminta agar masyarakat ikut membantu memecahkan persoalan sampah di Kota Depok. Salah satu yang bisa dilakukan oleh masyarakat adalah dengan memilah sampah organik dan non organik. Sekarang ini, sampah yang diangkut petugas kebersihan dari perumahan, kawasan bisnis dan sebagainya masih campur aduk antara sampah organik dan non organik. Sampah campuran itu kemudian yang menumpuk tinggi di TPA Cipayung.

 

Untuk mengantisipasi penuhnya TPA Cipayung, DKP Kota Depok sedang  menjalin kerjasama dengan TPA Bantar Gebang, Jakarta Timur dan TPA Regional Nambo, Cileungsi, Bogor. Kerjasama dengan Bantar Gebang itu diharapkan bisa efektif mulai tahun depan. Sedangkan dengan TPA Nambo tahun 2017.

Tapi itu program jangka pendek, karena tidak mungkin selamanya Depok bisa membuang sampah ke TPA Bantar Gebang dan TPA Nambo, karena kebutuhan lahan TPA kedua daerah itu juga akan terus meningkat.

 

Waste to Energi sebuah solusi:

Lalu apa upaya lain  yang bisa untuk jangka panjang ?  Kini, DKP Kota Depok sedang mengkaji satu program yang diberi nama “Waste To Energy”. Program ini  untuk mengubah sampah menjadi tenaga listrik atau sumber tenaga lainnya. Perluasan lahan TPA Cipayung tetap dibutuhkan untuk membangun pabrik sampah penghasil energi. “Saat ini masih dalam tahap kajian, idenya sih muncul dari teori-teori yang sudah ada saja, kalau lahan untuk pabrik sampah sudah ada, saya kira akan cepat proses penyelesaiannya,” kata iyuy.

Iyay berharap agar program “Waste To Energy” ini bisa menjadi solusi. Paling tidak bisa membantu mengurangi produksi sampah yang masuk ke TPA Cipayung. Dalam program ini, nantinya TPA Cipayung akan melakukan kontrak Bangun Guna Serah (BGS) dengan pihak-pihak tertentu.

Pihak DKP Depok melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi penuhnya TPA Cipayung. Namun upaya ini pasti tidak akan berjalan bila warganya belum ada kesadaran untuk memilah sampah.

DKP Kota Depok sudah menyediakan Unit Pengolahan Sampah (UPS) di berbagai titik di Kota Depok. UPS ini menjadi tempat untuk warga sekitar memilah mana sampah organik dan mana sampah non-organik. Sampah organik akan diproses menjadi pupuk dan akan diberikan pada masyarakat yang butuh. Sedangkan yang anorganik akan dikirim ke bank sampah, lalu ditimbang dan bank sampah akan membayar ke masyarakat yang mengirim sampah tersebut. Pemilahan ini sangat membantu mengurangi penumpukan sampah di TPA Cipayung.

Menurut Sekretaris Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Depok, Oka Barmara, di Depok saat ini ada 45 UPS yang tersebar di beberapa wilayah. Sayangnya, UPS yang aktif hanya 23. Dari 23 UPS itu hanya 10 UPS yang sudah berfungsi dengan baik, sudah bisa mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos. DKP menargetkan tahun depan 13 UPS lagi akan disempurnakan sistemnya sehingga bisa mengolah sampai menjadi pupuk kompos.

Pupuk kompos hasil olahan sampah organik itu ternyata berkualitas bagus. Pupuk itu bahkan sudah mendapat sertifikasi dari Jepang. Sebagian besar pupuk itu sudah dimanfaatkan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok. ‘’Sekitar 30-40 ton pupuk kompos hasil olahan itu sudah dimanfaatkan oleh Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Depok,’’ kata Oka (Advertorial)

 

DSC_0032

 4,639 total views

LEAVE A REPLY