Hubungan Kopi dengan Kepribadian Anda

0
264

kopiOleh: Vera H-C Chan

Apakah Anda suka meminum kopi dengan tambahan sirup? Atau mungkin Anda lebih menyukai kopi berbusa dengan banyak krim?

Betul sekali kami sedang membahas tentang jenis-jenis kopi. Kedai-kedai kopi merupakan sebuah keharusan ketika semua orang beraktivitas di luar (seperti yang dialami Yahoo! saat terjebak antrean konser musim semi – klik di sini untuk mencari tahu agar tidak terlambat menonton konser), jadi kami agak sedikit penasaran dengan berbagai kepribadian  Anda ketika memesan kopi hangat dengan permen Haribo rasa persik (itu menunjukkan sesuatu).

Kepribadian Anda menurut Jenis Kopi

Gagasan dari kedai kopi bersifat aspirasional. Dengan kata lain, tradisi seharga lima sen (sekitar Rp60) dalam makan malam menjadi simbol dari kemakmuran kalangan kelas menengah, baik di Amerika Serikat maupun di seluruh dunia. Memesan secangkir kopi berarti Anda sudah termasuk kalangan itu.

James Moore dan Judi James yang mengarang “The You Code: What Your Habits Say About You” mengklaim bahwa pilihan kopi jauh melebihi rasa “Dengan berbagai pilihan busa, krim dan topingnya minuman ini sudah menciptakan tingkat psikologi yang sangat dalam terkait kepercayaan diri, tingkat stres dan kenyamanan ketika masa kanak-kanak.” Kepribadian kopi, diparafrasekan dari “The You Code”:

Penikmat Espresso: Kepuasan instan, hasil cepat, “yang paling terkenal dari seluruh pilihan kopi,” sinis, sarkasme, bahkan pemburu tenang yang agresif. Meremehkan hidup sehat, pemurung, dan ambisus, mengincar posisi elit serta ogah bergosip.

Penikmat kopi hitam: Tanpa basa-basi, minimalis, sosok dewasa yang tenang, menyukai hubungan langsung, kompetitif, pendiam dan pemurung, walaupun sesekali bersikap ekspresif.

Penikmat latte: Mengurangi risiko dengan susu dan busa, cenderung mencari aman, ingin disukai, imut namun keras kepala, enggan  frontal dan suka mendelegasikan tugas-tugas berisiko, sosok penyayang keluarga, menikmati kenyamanan lingkungan dan memiliki teman kepercayaan. Kehidupan seksnya biasa-biasa saja.

Penikmat cappucino: sosok ekspresif yang optimis dan menghargai gaya dan barang-barang keren, tidak begitu serakah. Cenderung memulai sesuatu ketimbang menjalani semua detail yang membosankan.

Penikmat kopi instan: tanpa basa-basi, frontal, ceria namun tidak terburu-buru dalam menyelesaikan sesuatu, sosok yang mungkin terlihat biasa-biasa saja. Mudah murung dan periang; tidak begitu berani dalam karier atau pun seks, sosok yang penuh pertimbangan.

Penikmat decaf soymilk: bersikap sok lingkungan ketimbang pejuang lingkungan. Bagi mereka yang tidak alergi dengan susu sapi, pilihan itu menyiratkan sikap rewel dan arogan.

Penikmat Frappucino (dan kobi berbusa lainnya): Pecandu busa dan krim. Korban trend ketimbang trendsetter, duh, sosok tidak karuan dan tanpa perasaan ironi.

Bukan peminum kopi: Si pengarang sangat menganggap sosok yang menolak secangkir kopi sebagai orang yang takut hidup dan bersikap kekanak-kanakan (sebuah penghinaan  yang terdapat dalam bagian “What Your Tea Says About You”)

Lebih dari Sekadar Tumpukan Biji Kopi

Fakta mengenai kopi, menurut National Coffee Association: Lebih dari delapan dari 10 warga Amerika pecandu kopi dalam setahun terakhir, dan separuhnya hanya sesekali meminum kopi. Namun, masing-masing generasi – mulai dari Greatest Generation hingga GenXers – rupanya semakin jarang meminum kopi ketimbang generasi sebelumnya, dan rata-rata jumlah kopi yang diminum seorang warga Amerika mencapai puncaknya pada 1960-an. Etnis warga yang terus menempati posisi teratas di antara peminum espresso adalah warga keturunan Hispanik-Amerika.

Sedangkan untuk kepribadian menurut pilihan kopinya, studi dari produsen kopi pada 2007 menyusun apa saja yang akan dikorbankan warga Amerika demi secangkir kopi, saat menyimak berita pagi, makan siang, tidur, bahkan ketika menggosok gigi. Studi serupa juga menjabarkan lima tipe kepribadian peminum kopi:

1. Peminum gaul (33 persen), yang cenderung hidup sendirian, sehingga komunitas peminum kopi merupakan penyelamat bagi dirinya.

2. Pecinta kenyamanan (14 persen), yang cuma mengunakan cangkir panas untuk menghangatkan tangannya.

3. Pecandu kopi (14 persen), yang tidak bisa hidup tanpa kopi. Menariknya, mereka yang bergaji besar cenderung menyebut perilaku mereka sebagai kecanduan.

4. Peminum kopi untuk tugas (11 persen), biasanya pemula yang membutuhkan kopi agar selalu fokus.

5. Bukan pecandu kopi (7 persen). Meskipun tidak ada kategori usia yang dijelaskan di sini, kaum muda cenderung mengikuti tren seperti es kopi dan kopi dengan rasa tertentu,sedangkan generasi tua cenderung memilih kopi tubruk.

Konyol? Pasti. Beneran? Entahlah. Bagaimana kalau menuliskan pilihan kopi Anda dalam komentar di bawah ini beserta alasannya?(ac/nh/yahoo)

 899 total views

LEAVE A REPLY