Omset Bisnis Ikan Hias Depok Capai Rp 43 Miliar

0
1816

20141105_130834-1cardinal 1

depoktren.com—- Bisnis ikan hias di Kota Depok ternyata sangat luar biasa. Bahkan Kota Depok termasuk daerah penghasil iklan Neon Tetra yang sangat terkenal di dunia. Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail menyebut, omset bisnis ikan hias di Kota Depok mencapai Rp 43 miliar per tahun.

Sentra-sentra ikan hias di Kota Depok terdapat di 10 kecamatan dari 11 kecamatan yang ada di. Padahal Depok  hanya ada 11 kecamatan. Artinya, hanya satu kecamatan di Depok yang tidak memiliki sentra ikan hias. Bahkan Balai Litbang Budidaya Ikan Hias yang hanya satu-satunya di Indonesia, terdapat di Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok.

Sejumlah petani ikan hias di Kota Depok menyebut Kota Depok termasuk 5 besar pengekspor ikan hias jenis Neon Tentra di dunia. Melihat kondisi  seperti itu,  Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail sangat yakin Depok bisa menjadi eksportir ikan hias terbesar di dunia. Apalagi Balitbangdias baru saja berhasil mengembangkan ikan hias Pelangi Papua yang sudah nyaris punah.

Keyakinan Depok akan menjadi pemain utama di bisnis ikan hias di kancah internasional juga dikemukakan Kepala Balitbangdias, Anjang Bangun Prasetio. Menurut dia, ikan hias yang berhasil dikembangkan di Kota Depok kini menjadi tren di perdagangan internasional, seperti Neon Tetra.

Seorang  petani ikan hias di Curug, Bojong Sari menyebut, setiap bulan paling tidak 500 ribu ekor ikan Neon Tetra diekspor ke sejumlah negera di Eropa. Artinya, satu tahun paling tidak 6 juta ekor yang diekspor. Ini belum termasuk dari sentra ikan hias lain di Kota Depok. Angka ini juga termasuk penjualan di tingkat lokal, antar pedagang dan konsumen langsung. Kalau saja rata-rata satu ekor ikan itu dijual Rp 35o, maka total nilai jual untuk keperluan ekspor itu dari tingkat petani sudah mencapai Rp 2 miliar lebih. Itu baru dari daerah Curug, belum dari daerah lain.

Angka itu akan jauh lebih besar lagi kalau harga di tingkat petani bisa ditingkatkan,  karena sejak beberapa tahun terakhir terjadi penurunan harga jual yang sangat signifikan. ”Beberapa tahun lalu harga bibit Neon Tetra itu bisa mencapai  Rp 1.200 per ekor. Bahkan paling rendah Rp 800 per ekor. Tapi kini berkisar antara Rp 200 sampai Rp 500 per ekor tergantung ukuran. Kami petani tidak mengerti kenapa ini terjadi,” kata seorang petani ikan hias lain yang ditemui di sela-sela acara REIKKA di kawasan Balitbangdias,  Depok, Kamis (6/11/2014).

Dia yakin, kalau Pemkot Depok benar-benar serius membantu petani ikan hias itu, ekspor ikan hias Depok akan jauh lebih meningkat. ”Benar Pak, kami yakin nilai ekspor ikan hias dari Depok ini akan meningkat kalau kami mendapat perhatian lebih serius lagi dari Pemkot Depok,” kata petani lain yang enggan disebutkan namanya.

”Kami tidak pernah tahu berapa harga jual suplier ke eksportir, karena selama ini kami tidak bisa berurusan langsung dengan eksportir,” kata petani lain. Kalau Pemkot Depok bisa menjembatani petani langsung dengan eksportir, mereka yakin nilai ekspor ikan hias itu akan meningkat tajam.

Harga jual ikan hias itu di tingkat suplier sejak beberapa tahun terakhir tidak pernah naik, bahkan turun. Sementara biaya pakan yang sebagian besar impor mengalami kenaikkan yang sangat signifikan. ”Soal pakan, ini persoalan lain yang tidak kalah peliknya yang kami hadapi karena semua pakan itu diimpor. Harganya sangat mahal bisa Rp 700 ribu untuk 400 gram,” kata dia. Kalau saja pakan itu bisa diproduksi di dalam negeri dengan kualitas yang bagus seperti kualitas impor, maka banyak devisa yang bisa dihemat,” kata dia. Selama ini kualitas pakan ikan hias produksi dalam negeri kurang bagus, karena gampang luntur sehingga air gampang kotor.

Mereka juga meminta perlindungan kepada pemerintah agar tidak dipermainkan oleh suplier, termasuk kalau ada kasus-kasus ikan hias yang dilaporkan mati oleh suplier. Padahal suplier itu membeli dari sejumlah petani. ”Kita kan tidak tahu, apakah ikan yang mati itu mereka beli dari kita, atau dari petani lain. Mereka tidak mau membayar, otomatis kami rugi,” kata mereka.

Dari pantauan depoktren.com, bisnis ikan hias di Depok rata-rata dikelola secara tradisional dan otodidak. Rata-rata mereka berbisnis secara  turun temurun, atau karena diajak tetangga di lingkungan tempat tinggal mereka. Secara bisnis, ikan hias ini kata mereka sangat menggiurkan, karena keuntungannya bisa sampai 100 persen.Masa panen ikan itu sangat pendek, hanya satu bulan.

Kalau saja ini benar-benar dikelola dengan baik, dan  ada dukungan yang kongkrit dari Pemkot Depok maka tidak mungkin ikan hias akan menjadi iconnya Kota Depok. ”Ya daripada Belimbing, lebih baik ikan hias menjadi icon Kota Depok. Ini ril bisnis. Kebun belimbing tidak kelihatan di Depok, apalagi hasilnya,” kata seorang tokoh masyarakat Depok. (red)

,

 4,779 total views

LEAVE A REPLY