MID Vokasi UI Selenggarakan kegiatan Kampung Main II

0
602

depoktren.com-Mahasiswa Program  Studi MID (Manajemen Informasi dan Dokumen) Vokasi Universitas Indonesia (UI) kembali mengadakan kegiatan Kampung Main. Bertempat di halaman Masjid Al-Furqon Kukusan Teknik Depok, Kampung Main kedua ini mengajak 150 orang warga di sekitar lokasi kegiatan, terutama anak-anak untuk memiliki mental yang sehat sekaligus mengenal budaya Indonesia sejak dini.

anak-anakBerdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang 2013 kasus kekerasan antar anak meningkat sebesar 20% dari tahun sebelumnya. Salah satu penybeba meningkatnya kekerasan antar anak ialah dipicu oleh tingginya konsumsi anak pada gadget, yang menurut banyak ahli mampu meningkatkan agresivitas anak.

Menurut data yang dilansir oleh majalah Time pada tahun 2013 menyampaikan bahwa saat ini 6 juta anak di Amerika saat ini terjangkit “virus” ADHD (attention-deficit/hyperactivity disorder), yang menyebabkan anak-anak sulit berkonsentrasi dan hiperaktif. Berdasarkan hasil penelitian di Amerika ADHD dipicu salah satunya oleh kebiasaan anak yang menghabiskan waktu di depan layar selama 7 hingga 8 jam sehari. Di Indonesia kasus ADHD juga ditemukan, walau belum diketahui angka pastinya.

Hal inilah yang melatarbelakangi kelompok mahasiswa dari MID UI untuk mulai “merebut” perhatian anak-anak Indonesia dari gadget, dengan kembali memperkenalkan permainan tradisional yang sarat dengan aktifitas fisik luar ruang sekaligus membangun identitas baru anak Indonesia, sebagai anak yang berbudaya.

Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama 5 jam dan melibatkan secara aktif mahasiswa dan masyarakat. Ada beberapa kegiatan dalam KAMPUNG MAIN kedua ini yaitu mendongeng, bermain dengan beberapa permainan tradisional seperticongklak, gobak sodor, kucing dan tikus, ular naga, injit-injit semut, bekel, dan petak jongkok serta mengenalkan budaya Indonesia secara visual melalui tampilan video yang mudah dimengerti oleh khalayak. Khusus untuk permainan tradisional yang akan dimainkan, beragam filosofi terkandung dalam permainan-permainan tersebut.

Congklak misalnya mengajarkan tentang berhitung, melatih kesabaran, dan kecermatan. Gobak Sodor mengedepankan bagaimana bekerja dalam tim untuk meraih satu tujuan. Nilai-nilai gotong royong dan bekerja sama menjadi nilai yang dapat dipetik dari permainan tersebut. Sementara petak jongkok membuat stimulasi pada kreativitas, melatih sportivitas, dan mengembangkan kecerdasan spasial pada anak.

Untuk kegiatan Kampung Main kedua ini, terpilih tema Muda Berbudaya dengan maksud di kalangan generasi muda -terutama anak-anak-, pengenalan budaya Indonesia menjadi salah satu cara mengembangkan benih-benih kecintaan dan nasionalisme bangsa. Di tengah gempuran budaya asing serta era borderless country (negara tanpa batas) budaya lokal menjadi oase sebuah bangsa dalam mendefinisikan diri di tengah bangsa-bangsa lain.

Tidak terkecuali dengan budaya permainan yang kini didominasi oleh games yang dapat dimainkan di pelbagai gawai (gadget), tanpa perlu aktivitas fisik yang berarti. Bagi anak-anak, kondisi tersebut disadari atau tidak telah mengingkari naluri sebagai anak-anak yang lekat dengan aktivitas fisik dan bermain bersama dengan teman sebayanya.

Keadaan tersebut tentu menjadi keprihatinan mahasiswa MID. Melalui warisan permainan tradisional yang diangkat kembali ke permukaan tersebut, harapannya anak-anak kelak tidak tercerabut dari akar budaya mereka.  Mahasiswa MID  merasa perlu untuk mengembalikan keceriaan anak-anak melalui aktivitas fisik yang tidak sekadar memiliki tubuh yang sehat tapi juga mengembangkan karakter sosial yang positif seperti toleran, peduli, dan kerjasama antar anak-anak tersebut. Program kegiatan KAMPUNG MAIN  ini akan terus diselenggarakan secara konsisten dan berharap akan terselenggara di tempat-tempat lainnya. (ardian)

 1,319 total views

LEAVE A REPLY