PLN Depok Mengapresiasi Kepedulian DMC Menjembatani dan Menampung Keluhan Masyarakat Terhadap Pelayanan PLN

0
833

dmc rusdydepopktren.com-Ketua Dewan Pembina DMC (Depok Media Center), Rusdy Nurdiansyah, melakukan rapat dengan para petinggi pejabat PLN Area Depok dalam rangka kerjasama peningkatan pelayanan kepada masyarakat yang berlangsung di kantor PLN beberapa waktu lalu. ”DMC banyak menerima pengaduan masyarakat atas ketidakyamanan pelayanan PLN, terutama soal telah terjadinya kesalahan pencatatan meteran listrik yang menyebabkan membengkaknya biaya iuran bulanan listrik,” ujar Rusdy.

Tidak hanya itu, lanjut Rysdy, masyarakat juga banyak mengeluh soal sistem yang belum mumpuni dalam penerapan penggunaan sistem isi ulang listrik (token) sistemnya sering eror sehingga masyarakat kesulitan membeli voucher listrik, baik yang dijual di mini market, toko pulsa listrik maupun membeli melalui ATM Bank, bahkan di kantor PLN Depun tidak ada. ”Pernah terjadi masyarakat banyaknya yang panik tak kala kesulitan membeli voucher listrik karena sistem nya seharian rusak, terpaksa mereka membelinya di kantor PLN di Duren Tiga Jakarta,” ungkap Rusdy.

Sebuah media nasional menulis soal keluhan selangitnya iuran listrik di Depok. Berikut tulisan tersebut: Besarnya tagihan bulanan listrik PLN banyak dikeluhkan warga Depok. Tagihan yang “selangit” tersebut seperti di “mark up” yang besaranya mencapai 100 persen hingga 1.000 persen. ”Biasanya tagihan bulanan listrik saya cuma bayar Rp 300 ribu dan paling tinggi bayar Rp. 600 ribu, masak bulan ini tagihan bulanan listrik saya membengkak hingga Rp 1.9 juta,” keluh Ayu, seorang ibu rumah tangga yang beralamat di Jalan Jagung No 17, Perumnas Depok Utara, Beji, Kota Depok, Jumat (21/11/2014).

”Yang bener aja, saya kan tingal di Perumnas, emangnya saya tinggal di Pondok Indah?,” geram ibu Ayu, seorang ibu rumah tangga yang beralamat di Jalan Jagung No 17, Perumnas Depok Utara, Beji, Kota Depok, Jumat (21/11/2014).

Tidak hanya Ayu, seorang ibu rumah tangga lainya juga mengeluhkan hal yang sama. Ibu Tri kaget bukan kepalang melihat tagihan bulanan listriknya yang mencapai Rp 4 juta. ”Masa sih tagihannya sebesar itu, rumah saya kan rumah kosong, listrik yang menyalapun cuma di teras rumah dan dapur saja,” terangnya.

Lanjut Ibu Tri, ini sudah keterlaluan dari mana munculnya biaya tagihan “siluman” sebesar itu. ”hitung-hitungnya seperti apa?,” tanya Tri geram yang mengutarakan kalau rumahnya itu rumah yang tidak ia tempati alias rumah kosong yang berada di Jalan Hamahera, Perumnas Depok Utara, Beji, Kota Depok.

Atas seringnya tagihan bulanan listrik yang membengkak diluar batas kewajaran, Ibu Ayu, Ibu Tri dan beberapa warga Depok yang dirugikan pun protes dan sepakat untuk menanyakan tingginya tagihan bulanan listrik tersebut ke Kantor Pengaduan Pelangan PLN Depok yang berada di Jalan Sentosa Raya, Kelurahan Sukmajaya, Kota Depok. Mereka mendapat jawaban yang kurang memuaskan dan pihak PLN mengakui adanya kesalahan pencatatan nomor meteran oleh petugas pencatat.

”Kata mereka, petugas pencatat meteran kesulitan untuk mencatat karena saat didatangi banyak rumah-rumah yang terkunci pagernya, jadi petugas kami akhirnya memperhitungkannya bedasarkan asumsi mereka. Saya tidak bisa terima alasan itu, karena pager rumah saya tidak dikunci, tapi yang menjadi pertanyaan saya, kalaupun ada pager rumah yang terkunci kenapa mereka asal-asal menghitungnya tidak berpatokan pada riwayat tagihan bulan-bulan sebelumnya,” tutur Ayu.

Warga yang memprotes mencurigai adanya permainan oknum-oknum di PLN Depok dengan “me mark up” biaya tagihan listrik tersebut. Coba bayangkan timpal Tri, saya dapat kabar kejadian ini sudah berlangsung cukup lama bukan terjadi saat ini saja jika tagihan bulanan listrik yang “selangit” tersebut di luar tagihan normal sudah lama terjadi, mungkin sudah terjadi selama setahun ini.

Tri mencontohkan, berapa besar uang masyarakat yang masuk ke PLN, misalnya ada 100 ribu rumah saja ada kesalahan tangihan mencapai rata-rata Rp. 500 ribu, coba kalikan jadi berapa itu uang yang masuk, ya bisa mencapai Rp. 50 miliar.

”Itu kan gila namanya, kemanain tuh duit, dan kami merasa dirugikan atas kelebihan tagihan tersebut dan uangnya mengendap di PLN. Walaupun mereka menjamin kelebihan tagihan uang bulanan listrik itu akan dikembalikan dengan cara menguranginya atau dipotong pada tagihan listrik bulanan berikutnya,” jelas Tri.

”Siapa yang bisa dapat menjamin kalau kelebihan uang tagihan itu akan dikurangi pada tagihan bulanan berikutnya, kenapa ngga dikembalikan saja langsung kelebihan uang atas kesalahan tersebut. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak memprotes, apakah uang tersebut akan diproses untuk dikurangi pada tagihan bulanan berikutnya,” tanya Ayu geram.

Dalam pertemuan para pengurus DMC dan pejabat PLN Depok, pihak manajemen PLN Depok mengapresiasi kepedulian DMC menampung dan menjembatani keluhan masyarakat atas kurang maksimalnya pelayanan PLN Depok. ”Kami sangat berterima kasih kepada DMC karena turut membantu menampung keluhan masyarakat terkait pelayanan PLN. Sinergisitas ini harus terus dijaga agar dapat meningkatkan pelayanan,” ujar Purwanto, salah satu pejabat tinggi di PLN DEpok.

Pada kesempatan itu, PLN Depok mengakui adanya kelalaian petugas pecatat meteran yang menyebabkan adanya kesalahan hitung. ”Tapi kami akan bertanggungjwab dan menggati kelebihan pembayaran iuran bulanan listrik tersebut dengan cara memotongnya pada pembayaran bulan berikutnya. Kami mohon maaf kepada masyarakat atas kejadian ini,” pungkas Purwanto. (meytha)

 1,573 total views

LEAVE A REPLY