Perang Terhadap Narkoba

0
883
No Drugs. Focomto:moveoeveraverage.

depoktren.com – Genderang perang terhadap narkotika dan obat-obat berbahaya (narkoba) sudah dimulai. Eksekusi enam terpidana mati yang dilakukan Kejaksaan Agung Republik Indonesia Minggu (18/1) dinihari merupakan tanda berkibarnya bendera perang terhadap gembong narkoba, pengedar, dan pemakainya.

Enam terpidana mati ditembah regu penembak dari Brimob Polri di dua tempat. Lima terpidana ditembak mati di LP Nusakambangan pukul 00.10. Dan satu terpidana mati lainnya ditembak di Markas Brimob Boyolali Jawa Tengah.

Keenam terpidana mati tersebut adalah Namaona Denis (48, warga negara Malawi), Marco Ancher Cardoso Moreira (53, Brasil), Daniel Enemuo alias Diarassaouba Mamadou (38, Nigeria), Ang Kiem Soi alias Kim Ho (62, Belanda), Tran Thi Bich Hanh (37, Vietnam), dan Rani Andriani alias Melissa Aprilia (38) warga negara Indonesia asal Cianjur, Jawa Barat. Kecuali Tran Thi Bich warga negara Vietnam yang dieksekusi di Boyolali, lima terpidana lainnya dieksekusi di LP Nusakambangan.

Pasca penembakan mati enam terpidana narkoba tersebut, tekanan datatang kepada pemerintah RI. Pemerintahan Belanda dan Brazil menarik duta besarnya sebagai tanda protes atas eksekusi mati warganya, Dari enam terpidana tersebut, satu dari Brasil, dan satu dari Belanda.

Tekanan dari kedua negara itu rupanya juga sudah disampaikan sebelumnya kepada pemerintah RI ketika para terpidana mati meminta pengampunan dari Presiden RI alias grasi. Namun, permohonan grasi mereka ditolak.

Banyak memang pro dan kontra terhadap eksekusi mati para gembong narkoba tersebut. Ada yang menilai bahwa eksekusi mati adalah pelangaran atas hak hidup seseorang dan melanggar HAM. Sementara yang pro terhadap eksekusi mati menilai bahwa perilaku mereka telah melanggar kemanusian dan mengancam kehidupan orang lain karena narkoba.

Ketegasan pemerintah menjalankan eksekusi mati merupakan langkah ini merupakan bukti keseriusan pemerintah untuk memberantas narkoba di tanah air. Indonesia disebut sebagai tempat lalu lintas peredaran dan pasar besar bagi mafia narkoba internasional. Para gembong narkoba dari berbagai negara antara lain menggunakan warga negara Indonesia, sebagian diantaranya perempuan, menjadi kurir narkoba. Seperti Rani Andriani yang tertangkap membawa beberapa kilogram narkoba disebut-sebut sebagai kurir sindikat narkoba tersebut.

Hukuman mati terhadap gembong dan pengedar narkoba diatur oleh UU Narkoba. Apa yang dilakukan pemerintah adalah penegakan hukum. Banyak negara lain yang menerapkan hal serupa bagi para penjahat narkoba.

Hakim Indonesia sudah memvonis hukum mati terhadap sejumlah pengedar dan gembong narkoba di tanah air. Mereka kini sedang menunggu giliran eksekusi, setelah proses hukum lainnya dijalani, yaitu, banding, kasasi, peninjauan kembali, dan grasi.

Masyarakat harus mendukung pemerintah dalam memberantas narkoba. Gembong dan pengedar narkoba tampaknya tidak perlu diberi ampun. Mereka telah merusak mental dan masa depan sebagian masyarakat Indonesia, diantaranya anak-anak dan remaja menjadi korban narkoba.

Kita dukung langkah pemerintah memberantas narkoba! (red/inn)

 1,649 total views

LEAVE A REPLY