Pernikahan Dini di Depok Masih Terbilang Tinggi, Begini Bahaya yang Mengintai

0
429

www.depoktren.com–Kota Depok tercatat memiliki tingkat pernikahan dini yang terbilang tinggi. Berdasarkan data dari survey Badan Pusat Statistik Kota Depok tahun 2017, sebanyak 27,87 persen dari total jumlah pernikahan di Depok merupakan angka persentase pernikahan dini yakni yang dilakukan remaja di bawah 17 tahun.

Angka itu meningkat apabila dilihat dari data BPS di tahun sebelumnya. Tahun 2014 lalu, BPS mencatat sebanyak 11,77 persen angka pernikahan di bawah 17 tahun, sedangkan antara usia 17-18 tahun tercatat 16,07 persen.

Menurut Kepala Subbidang Kesejahteraan Masyarakat Bappelitbang Kota Depok Bety Setyorini, pernikahan dini bisa dilandasai beberapa faktor yakni, faktor MBA (Married by Accident), faktor ekonomi keluarga, dan kurangnya pengetahuan tentang dampak kesehatan dari menikah muda.

Memang, jika mengacu ke dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia perempuan untuk menikah adalah 16 tahun sedangkan untuk pria 19 tahun.

Batas usia pernikahan dalam UU ini belakangan menjadi perdebatan, pasalnya pernikahan di bawah 17 tahun akan menimbulkan dampak kesehatan baik fisik dan psikis yang buruk bagi pelaku dan anaknya kelak. Bahkan, pernikahan dini juga menjadi salah satu penyumbang besar penyebab tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Tingginya persentase tingkat perceraian pun juga tak lepas dari faktor ini.

Kontras dengan UU Perkawinan, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengampanyekan batas usia menikah bagi perempuan itu di usia 21 tahun. Sebab menurut Dr. Julianto Witjaksono, SpOG, menikah di usia dini bagi perempuan berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan karena organ tubuh yang berkaitan dengan alat reproduksi belum siap.

Bahkan, menurut dia, anak yang dilahirkannya memiliki kemungkinan besar lahir dengan berat badan rendah dan berisiko stunting (bertubuh pendek). “Anak stunting ini lebih banyak lahir dari ibu yang hamil di bawah usia 20 tahun. Anak stunting itu tubuhnya pendek, kecil, dan ukuran otaknya kecil. Risikonya mudah kena penyakit jantung dan pembuluh darah,” papar Dr. Julianto Witjaksono AS yang merupakan seorang Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan.

Bahaya lain juga dikemukakan oleh Plan Indonesia yakni sebuah organisasi kemanusiaan yang fokus pada perlindungan dan pemberdayaan anak. Ia menyebut sejumlah dampak buruk dari pernikahan dini antara lain; rentan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), risiko meninggal pada ibu dan bayi, dan terputusnya akses pendidikan. Ditambah, pernikahan dini ini nantinya akan berpengaruh pada pola pengasuhan anak dan berisiko rentan perceraian karena emosi yang belum stabil pada remaja di bawah usia 20 tahun. (Siska)

 619 total views

LEAVE A REPLY