Cegah Depresi dengan Bicarakan dan Dengarkan

0
374

www.depoktren.com–Hari Kesehatan Internasional yang jatuh pada 7 April 2017 lalu mengusung tema Depression? Lets talk! atau dalam bahasa Indonesianya, Depresi? Yuk curhat! Tema tersebut diangkat sebab belakangan ini marak fenomena bunuh diri yang berakar dari depresi.

Beberapa waktu lalu, Indonesia dihebohkan dengan peristiwa bunuh diri yang direkam secara siaran langsung di media sosial facebook oleh seorang pria asal Jagakarsa, Jakarta Selatan, Pahinggar Indrawan. Kemudian, dunia entertainment kembali digemparkan oleh kematian manajer JKT 48 Jiro Inao yang tewas diduga bunuh diri.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan mencatat, tahun 2020 kelak, depresi bisa menduduki peringkat ke-empat untuk penyakit di dunia. Lembaga tersebut juga menyoroti minimnya kesadaran masyarakat di Negara berkembang seperti Indonesia untuk berobat ke psikiater atau psikolog terkait depresi. Padahal, ungkap WHO, depresi adalah penyumbang besar kematian akibat bunuh diri dan tingginya penyalahgunaan narkotika.

Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. Jihane Tawilah mengatakan, bahwa stigma terhadap depresi harus dikurangi. Masyarakat harus lebih peka terhadap tanda dan gejala depresi. “Setiap orang perlu bicara tentang depresi secara terbuka dan dewasa. Peka terhadap tanda dan gejala agar bisa mendapatkan bantuan layanan kesehatan jiwa,” papar Jihane dalam siaran pers, Sabtu (8/7/2017).

Sepakat dengan itu, Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr. Diah Setia Utami menambahkan, bahwa masyarakat seharusnya mampu membantu orang-orang yang terkena depresi dengan cara mendengarkan mereka.

“Stigma depresi di masyarakat harus dikurangi bahkan kalau bisa, dihilangkan. Karena stigmasi itu justru menjadi penghambat seseorang keluar dari situasi depresi, bahkan itu justru memperparah keadaannya,” jelas Diah. Ia menyebut bentuk stigmasi itu antara lain, dilabeli tidak dekat dengan Tuhan, kurang iman, tidak sabar terhadap cobaan Tuhan, diguna-guna atau didekati makhluk halus, dan lain sebagainya.

Secara umum, kata Diah, yang dibutuhkan orang depresi adalah pendengar yang baik. “Tidak memotong pembicaraan, bersifat mendukung atau supported, bisa memahami, ada reflective listening. Harus benar-benar bisa menjadi orang yang bisa mendengar, bukan just hearing melainkan listening,” tutup dia.

Berdasarkan penelitian, curhat atau berbicara tentang soal yang membuat depresi mampu secara efektif mengurangi beban masalah kejiwaan. Sebab, curhat merupakan salah satu bentuk katarsis sebagai salah satu cara termudah dan cara terpenting untuk mengekspreksikan perasaan. Bahkan dengan curhat, secara emosional juga dapat membangun hubungan yang baik dengan orang lain dan mendapat dukungan untuk bangkit dari depresi. (Siska)

 471 total views

LEAVE A REPLY