Stress Saat Bekerja Mampu Tingkatkan Kinerja?

0
422

Umumnya, stress terhadap pekerjaan, tenggat waktu yang mencekik, waktu luang yang sempit, dan pekerjaan yang menumpuk mampu menimbulkan performa kerja yang buruk. Namun, sebuah penelitian baru menemukan sesuatu yang tak biasa yakni, stress saat bekerja mampu tingkatkan kinerja. Bagaimana bisa?

Penelitian baru yang dipublikasikan di Social Cognitive and Affective Neuroscience menunjukkan bahwa stres dapat menjadi hal yang baik dengan cara yang tidak terduga. Laporan dari Universitas Wina April lalu menemukan, bahwa stres bukan hanya mekanisme psikobiologis, tetapi mampu membantu penderita untuk mengelola situasi yang mengancam dan meningkatkan perilaku pro-sosial.

Profesor Ian Robertson, Co-Director Global Brain Health Institute di Trinity College Dublin dan salah satu peneliti terkemuka dunia dalam ilmu neuropsikologi mengatakan, gagasan terkenal Nietzsche; “Apa yang tidak membunuh saya, membuat saya lebih kuat,” merupakan landasan penelitian bagaimana seseorang menjadikan ‘lawan’ sebagai kekuatan atau energi yang positif. Dalam konteks ini, stress dalam bekerja.

“Kami mengalami stres saat kami percaya bahwa tuntutan pada kami melebihi kemampuan kami. Persepsi itu mengarah pada perasaan cemas dan ancaman, yang memicu respons fight or flight,” ungkap Robertson, mengutip dari laman Telegraph, Sabtu (6/5/2017).

Menurut Robertson, banyak sistem hormon memiliki fungsi terbalik. “Terlalu sedikit hormon dan kita berperforma buruk, terlalu banyak hormon dan kita overperform. Rahasianya, kita harus pintar-pintar menemukan titik tengah untuk meningkatkan performa kerja,” jelas dia.

Robertson menyebut ada delapan cara untuk mengelola stress agar bermanfaat untuk mendongkrak performa kerja. “Pertama, ubah pola pikir ‘ancaman’ menjadi pola pikir ‘tantangan’,” kata dia. Ia menjelaskan, dengan membuat tantangan kerja, sikap dan pengaturan diri Anda dapat membangun keterampilan profesional yang penting untuk mencapai tujuan.

“Kedua, bernapaslah. Itu membuat otak Anda tenang. Noradrenalin adalah bagian penting dari respons stres Anda. Untuk mengurangi jumlah noradrenalin yang dihasilkan, kendalikanlah pernapasan Anda,” jelasnya. Ketiga, lanjut dia, tetapkan target kecil. “Jika Anda berfokus pada target kecil itu dan mencapainya, otak akan merespons dengan melepaskan dopamin neurotransmitter, yang merupakan antidepresan alami otak kita.”

Keempat, yakni Robertson merekomendasikan berjalan kaki selama 10 menit. “Ini akan melepaskan protein neurotropika facto (BDNF) yang berasal dari otak. Kegiatan ini akan meningkatkan kadar noradrenalin. Sementara mengatur dan memenuhi tujuan, latihan ini akan memberi Anda dorongan dopamin yang bermanfaat.”

Sisanya, kata Robertson, lakukanlah hal-hal berikut ini; berhenti multitasking, duduk tegak, dan remas tangan Anda. “Multitasking membuat konsentrasi Anda terpecah. Sementara duduk tegak membuat Anda tetap waspada, remas tangan Anda dengan bola squeezy jika Anda memilikinya. Ini akan meningkatkan penembakan sel otak di sisi kiri otak Anda,” papar dia.

Terakhir, ungkap Robertson, adalah meditasi di tengah tugas-tugas Anda. “Latih perhatian Anda dengan berhenti di antara tugas-tugas untuk melakukan meditasi istirahat lima menit. Ini akan membantu Anda mengendalikan perhatian, pernapasan, dan akhirnya membuat Anda tetap dekat dengan sweet spot kinerja yang Anda inginkan.” (Siska/telegraph.co.uk)

 501 total views

LEAVE A REPLY