Hakim PN Depok Vonis Dukun Palsu Penjara Seumur Hidup

0
352

www.depoktren.com–Dukun palsu Anton Hardianto alias Toni alis Bopo bin Hendi Subandi, warga Sukmajaya Depok yang membunuh dua ‘pasiennya’ dengan kopi campur racun sianida divonis hukuman seumur hidup. Terdakwa dinyatakan dan terbukti bersalah telah melakukan pembunuhan berencana.

Putusan itu dibacakan oleh hakim ketua YF Tri Joko didampingi hakim anggota Sri Rezeki M dan Linda Trimurti Arsih di hadapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kozar SH di Pengadilan Negeri (PN) Depok, Senin (22/5/2017).

Vonis itu lebih ringan sebab sebelumnya Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa dengan hukuman mati.

Dalam dakwaan, Anton mengaku orang pintar bisa mengadakan emas . Nyatanya Anton adalah dukun palsu dan hanya ingin menguasai harta milik Shendy Eko Budianto dan Ahmad Sanusi yaitu mobil Toyota Avanza warna putih no. pol : B 2963 TFT dan lainnya.

Kedua tewas lalu dibunuh dengan cara disuguhkan kopi yang telah dicampur racun sianida.

Menurut hakim FY Tri Joko, kedua jenazah korban dibuang di tempat berbeda yaitu Shandy di Jalan Raya Pertanian RT 05/04, Kelurahan Grogol, Limo, Depok dan jasad Achmad ditemukan di Jalan Makam Kopi Limo September 2016.

Pembunuhan dilakukan saat mereka bertiga menggunakan mobil Toyota Avanza warna putih B 2963 TFT yang dikendarai Ahmad Sanusi dan di dalam mobil juga ada Shendy Eko mereka pergi ke Karwaci, Tangerang untuk bertemu dengan Santoso .

Ternyata sesampainya di Karawaci, Santoso, kata Anton tak ada di tempat sehingga mereka kembali ke Depok.

Sesampainya di Depok terdakwa membawa korban ke rumah pamannya di Gang H. Naim RT 05/04, Kelurahan Mekar Jaya, Sukmajaya. Usai mampir ke rumah pamanya kemudian terdakwa mengajak kedua korban pergi lagi dan mampir ke warung untuk membeli kopi dan the es manis.

Kedua korban yang tak mengetahui niat jahat terdakwa kemudian meminum kopi yang telah dicampur sianida yang diperoleh dari kampung halaman Pacitan. Setelah minum kemudian kedua korban meninggal dunia dan dibuang di tempat berbeda. Sedangkan kendaraan mobil milik Ahmad dijual ke Lampung.

Kasusnya terungkap setelah mayat kedua korban ditemukan warga dan kasusnya diusut Polres Depok, 2 Oktober 2016 saat terdakwa dengan Riyadi (saksi) ingin menjual mobil ke Lampung dan ada razia kendaraan sehingga terungkap kasus pembunuhan yang dilakukan terdakwa.

Atas putusan tersebut JPU Kozar SH pikir-pikir dan terdakwa menerima setelah berkonsultasi dengan penasehat hukumnya. (Jamaal)

Sutati, ibu kandung Shendy Eko, mengaku kurang puas atas putusan hakim seharusnya hukuman mati. “Cucu saya kan jadi anak yatim piatu dan perjalanan hidupnya masih panjang, ” katanya. (anton)

 374 total views

LEAVE A REPLY