Wah, Ternyata Depok Sudah Jadi Negara Merdeka dan Pernah Dipimpin 5 Presiden

0
2757

www.depoktren.com–Jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, ternyata salah satu wilayah di perbatasan Jakarta dengan wilayah Bogor, Jawa Barat (Jabar) telah terlebih dulu merdeka yakni Negara Republik Depok pada tahun 1913 dengan presiden pertamanya adalah Presiden Gerrit Jonathans.

Depok sudah ada sejak abad ke-17. Berkat peran Cornelis Chastelein. Secara tertulis, bukti yang menyebutkan adanya “Depok” tercantum dalam naskah Belanda yang menyatakan, Cornelis Chastelein, salah satu bangsawan Belanda eks VOC (1657-1714) membeli tanah di Depok dari seorang Residen di Cirebon yang bernama Lucas Meur pada 18 Mei 1696 dengan harga 700 ringgit. Status adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. 

Cornelis Chastelein menjadi tuan tanah yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari pengaruh dan campur tangan luar.

Daerah otonomi Chastelein ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Kemudian nama Depok tercatat kembali dalam ekspedisi Inspektur Jenderal VOC, Abraham van Riebeeck pada tahun 1704 dan 1709. Ekspedisi ini merupakan survei wilayah ke pedalaman Sungai Ciliwung.

“Saat itu Cornelis Chastelin memboyong sekitar 150 budak ke kota ini. Mereka berasal dari Makasar dan Bali. Dipilihnya budak Bali dan Makassar karena dianggap paham bercocok tanam. Saat itu, dia ingin Depok jadi lahan persawahan. Lambat laun mereka dibebaskan dari perbudakan, ya meski sebagai bangsawan Belanda, Cornelis Chastelin menentang adanya perbudakan. Mereka yang bebas kemudian diberikan tanah dan ternak,” kata Ferdy Jonathans, koordinator bidang harta milik Yayasan Lembaga Cornelis Chastelin.

Memang tak banyak yang mengetahui bahwa Kota Depok di masa lampau ternyata sudah mempunyai pemerintahan dan bahkan presiden sendiri.

Pemerintahan maupun presiden itu bukan sekadar simbol, bukan pula lelucon, tetapi dalam arti sesungguhnya dengan segala perangkat maupun aparaturnya, seperti para menteri dengan urusan spesifik.

Pemerintahan itu Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok awalnya dipimpin langsung Cornelis Chastelin sejak tahun 1696 hingga 1714. Cornelis Chastelin meninggal di Depok pada 28 Juni 1714 di usia 56 tahun.

Pusat pemerintahannya terletak di titik Kilometer 0 yang ditandai dengan Tugu Depok. Sejengkal dari situ berdiri sebuah gedung yang dahulu difungsikan sebagai kantor pemerintahan, kini digunakan sebagai Rumah Sakit Harapan.

Sejak Chastelein meninggal, Depok kemudian menjadi sebuah daerah otonom satu-satunya di wilayah jajahan Belanda yang dipimpin oleh seorang presiden yang dipilih dari keturunan 12 marga itu.

Di masa kolonial Belanda sampai kemerdekaan RI, Depok telah dipimpin oleh empat presiden. Pada tahun 1913, rakyat Depok pada saat itu memilih pemimpin secara demokratis

Presiden pertamanya adalah Gerrit Jonathans, menjabat pada tahun 1913. Presiden berikutnya tercatat ada tiga, yakni Presiden Martinus Laurens menjabat pada tahun 1921, Presiden Leonardus Leander menjabat tahun 1930, dan presiden terakhir Depok, yakni Presiden Johannes Matijs Jonathans yang menjabat hingga tahun1952.

“Setiap tiga tahun ada pemilihan, di situ ada menteri-menterinya juga; ada menteri pasar, dan sebagainya,” kata Ratu Farah Diba ahli sejarah Kota Depok sekaligus Ketua Heritage Community.

Negara Republik Depok yang meliputi wilayah Kecamatan Pancoran Mas, Kecamatan Beji dan Kecamatan Sukmajaya yang zaman itu seluas 1.244 hektar sudah ada pemerintahan dan sudah ada peraturan dan UU.

Dengan sistem pemerintahan sendiri yang terlepas dari luar, Depok saat itu juga memiliki presiden sebagai pemimpin. Salah satu presiden yang masih dikenang dan dapat ditunjukan bukti keberadaannya adalah Johannes Matijs Jonathans yang merupakan Presiden ke 5 sekaligus terakhir di Depok pada jaman sebelum kemerdekaan RI.

Sementara para pendahulunya sampai saat ini tidak ada yang tahu jejak sejarahnya. Jahonnes adalah orang Indonesia, namun tidak diketahui secara pasti ia berasal dari mana.

Meski sebagian besar sudah hilang, namun bukti peninggalan maupun jejak kolonial Belanda masih terlihat jelas. Beberapa peninggalan itu bahkan masih tampak utuh berada di Jalan Pemuda, Pancoran Mas Depok.

Peninggalan kekuasaan Belanda yang masih utuh itu di antaranya, Jembatan Panus, gedung pemerintahan yang kini menjadi Rumah Sakit Harapan, kemudian sekolah elite anak bangsawan Belanda yang kini menjadi SDN Pancoran Mas Dua. Selanjutnya, rumah Presiden ke-5 Depok dan gereja tertua di Depok yang juga berada di sekitar Jalan Pemuda.

Setelah Indonesia merdeka, Rakyat Depok dianggap tidak mendukung kemerdekaan Republik Indonesia. (Meidya/Rusdy/dari berbagai macam sumber)

 2,764 total views

LEAVE A REPLY