Kritikan dan Pujian Berlebihan, Jerumuskan Pemerintah Kejurang Kehancuran

0
464

Kritikan dan Pujian Berlebihan, Jerumuskan Pemerintah Kejurang Kehancuran

Oleh:
Rusdy Nurdiansyah

Wali Kota Depok, Mohammad Idris, mengungkapkan bahwa pernah ada seorang wartawan Arab Saudi, Salman terpaksa berurusan dengan pihak berwajib karena terlalu berlebihan yang tanpa dasar mengkritik kepemimpinan Raja Arab Saudi yang dikenal menganut sistem pemerintahan kerajaan yang absolut dan otoriter. Dan, itu bukan rahasia umum lagi.

“Si wartawan berdalih kritikannya soal otoriter kepemimpinan raja yang tak sesuai dengan norma-norman sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan kehidupannya sangat bobrok, yang selalu hidup glamour tanpa memperdulikan nasib rakyat,” ujar Idris, saat bersilahturahmi dengan insan pers yang tergabung dalam Depok Media Center (DMC) di Balai Kota Depok, Senin, (25/9/1017).

Menurut Idris, kritiklah yang positif yang sesuai dengan etika, norma dan budaya bangsa Tentu, seorang pemimpin memiliki gaya masing-masing dalam menanggapinya. Saya senang dapat bersilaturahmi dengan para wartawan di DMC, kedepan saya berharap terjadi hubungan kemitraan yang profesional yang berpedoman pada kode etik jurnalistik Dewan Pers dan mentaati UU Pokok Pers,” papar Idris.

Ketua Dewan Pembina DMC, Rusdy Nurdiansyah menuturkan, pemerintah yang antikritik dan pemerintah yang senang dengan pujian-pujian yang berlebihan dari pers, itu pemerintah yang otoriter yang tentunya salah satu yang dapat menghambat pembangunan.

Dalam.pandangan Rusdy, Pemkot Depok harus memerlukan kritik yang positif tapi sebaiknya juga harus waspada dengan pujian-pujian yang berlebihan yang justru membuat “lubang kuburan” pemimpin itu sendiri.

Dicontohkan Rusdy, seorang wartawan dan kolumnis di Arab Saudi, Ramadan al-Anzi dicekal Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz karena dinilai terlalu berlebihan memuji sang raja hingga menyamakannya dengan Tuhan.

“Raja Arab Saudi, lebih senang dengan kritikan pers yang positif dan kredibel, tidak di setting apalagi penuh dengan rasa permusuhan dan kebencian atau juga pujian yang berlebihan yang membuat pemimpin terlena yang menuju jurang kehancuran,” jelas Rusdy, wartawan senior Republika yang telah 25 tahun ‘makan asam garam’ dan sudah melalang buana di dunia pers indonesia dan di dunia pers internasional.

Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika dari Dewan Pers Agus Sudibyo menegaskan bahwa pekerja media atau wartawan tidak kebal hukum, sehingga tetap bisa diproses pidana jika melakukan tindak kriminal.

“Kalau wartawan melakukan tindak kriminal, tidak bisa lagi menggunakan identitas sebagai wartawan. Aparat kepolisian bisa memprosesnya sesuai KUH Pidana, jika itu bukan produk pers dari bukan perusahaan pers,” katanya sosialisasi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

***

Teori normatif pers atau teori normatif media pertama kali dikenalkan dan dituangkan dalam buku Four Theories of the Press oleh Fred Siebert, Theodore Peterson, dan Wilbur Schramm. Teori tanggung jawab sosial membantu terciptanya profesionalisme dalam media dengan mengatur akurasi, kebenaran, dan informasi ke tingkatan yang tinggi.

Berdasarkan tanggung jawab sosial media, Komisi Kebebasan Pers bertugas untuk menyusun kode etik pers, memperbaiki standar jurnalisme, menjaga wartawan serta minat jurnalisme, mengkritisi dan membuat hukuman bagi pelanggar Kode Etik Jurnalistik dan menaati UU Pokok Pers..

,***

Silahturahmi dan diskusi yang penuh kehangatan tersebut diakhiri dengan pemberian cindera mata, topi dari DMC yang diberikan Ketua DMC Joko Warihnyo ke Wali Kota Depok Muhammad Idris beserta jajarannya.

Semoga kemitraan pers Depok yang profesional dengan Pemkot Depok dapat mempermudah program pelaksanaan pembangunan Kota Depok untuk mewujudkan Kota Depok yang nyaman, aman dan religius. Aamiin!.

Penulis:
Rusdy Nurdiansyah
Wartawan Senior Republika
Ketua Dewan Pembina
Depok Media Center (DMC)
Pendiri Pokja Wartwan Depok
Anggota PWI Depok

 464 total views

LEAVE A REPLY