Ketika Senja di Capolaga

0
212

Depoktren.com – Hamparan langit sore bertautkan rasa di antara sang senja. Lampu-lampu tenda satu persatu menyala. Sekelompok orang menggenggam rindu dan rasa. Mega nirwana menampakkan sinar cintanya.

Yayat Zuriat, Obar Suryana, Supardjiono, Aa Sophian, dan Merciano masih bertelanjang dada. Mereka bukan untuk pamer otot. Kelima pria paruh baya itu menikmati sensasi segarnya air terjun Karembong. Jeram airnya yang deras jatuh mengaliri bebatuan.

Sesuai namanya, curug ini menyerupai karembong atau selendang yang “dikebutkan”. Derai airnya yang khas dapat dimanfaatkan untuk terapi air. Bagi Anda yang sering pegal linu dan rematik, dapat mencoba keampuhan Curug Karembong ini.

“Sayang untuk dilewatkan. Badan yang pegal terasa dipijat alami saat diguyur air terjun. Badan jadi segar,” kata Obar Suryana yang turing bersama 33 warga Permata Depok sektor Nilam, Kota Depok, Jawa Barat.

“Curahan airnya bikin badan kembali segar. Mata yang tadinya sepet sekarang bisa melotot,” timpal Aa Sophian.

Mereka memang baru melakukan perjalanan jauh yang melelahkan. Mereka menyisir jalan sejauh 158 km dari Kota Depok ke Capolaga Adventure Camp, Subang, Jawa Barat. Rombongan bikers yang beranggotakan 33 orang itu dipimpin oleh EO Mariono.

“Kami menyukai alam. Kami ingin bercengkerama. Makanya tiap turing kami mencari destinasi yang ada curugnya atau pegunungan,” kata Mariono.

Menurut Mariono perjalanan menuju Capolaga, Subang penuh lika-liku. Para riders sempat bingung ketika memasuki Jalan Cariu Loji menuju Palasari, Kerawang. Banyaknya pertigaan membuat ada yang salah jalan. Belum lagi menghadap rintangan truk yang acap menghadang.

Tapi, semua akhirnya berhasil diatasi setelah saling komunikasi dengan share loc via Whatsapp. “Jujur bingung jalannya kalau ketemu pertigaan. Apalagi jarak antar motor yang satu dengan lainnya berjauhan. Sebenarnya tidak kesasar, cuma kita saling tunggu dan tidak tahu siapa tunggu siapa,” ujar Yayat berbagi cerita.

Tak terasa malam pun makin larut. Gemerick air sungai dan deru air terjun memecah keheningan malam. Di sudut lereng tenda-tenda kecil berwarna biru tampak tenang. Tapi, di seberangnya suara musik meledakan telinga.

Sekelompok orang ada juga yang bersandar di sebuah kedai. Secangkir kopi diharap dapat menghangatkan tubuh. Tapi, udara di Capolaga Adventyre Camp, Subang, Jawa Barat, Sabtu (13/7) malam, itu sulit dilawan. Dingin hingga menusuk tulang sumsum.

Api unggun dari sepikul kayu bakar hanya bertahan sejenak. Tubuh pun tak bisa lama bermanja kehangatan. Sleeping bag atau setebal apapun selimut masih menembus kulit.

“Kalau diam terus kita makin kedinginan. Bisa kaku nanti badan. Makanya saya terus bergoyang. Lumayan berkeringat juga,” kata Riswan yang enerjik urusan bergoyang diiringi musik.

Musik karaoke akhirnya memecah keheningan malam. Lagu pop, barat hingga dangdut dilantunkan Ramadanu, Afit, Dani Pujiantoro, Doddy Firmansyah dan rider lainnya bergantian.

Riswan yang enerjik mulai bergoyang. Ayah dua anak ini menggerakan pinggulnya ke kiri dan kanan. “Saya nggak bisa tidur. Dinginnya bukan main. Tapi begini serunya turing bersama warga nilam Permata Depok,” kata Edy Sulistiyo yang mengaku cuma “tidur ayam”.

Dinginnya udara lereng gunung Tangkuban Parahu memang menjadi kekuatan wisata camping Capolaga Adventure Camp, Panaruban, Sagalaherang, Kawasan Wisata Ciater, Subang, Jawa Barat.

Lembayung malam hiasi cakrawala. Digantikan tamaram rembulan, ditemani jutaan bintang dan sasmita. Terbelenggu senja dan cinta, para riders akhirnya lelah tertidur di balik tenda.*Suryansyah

210 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY