Fortazi Tapos Mancing di Kampung Setu

0
226

www.depoktren.com–Puluhan ustadz yang tergabung dalam Forum Tausyiah dan Zikir (Fortazi) mancing bareng di kolam pemancingan di kawasan Kampung Setu, Rw 09, Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Tapos, Jumat (4/10/2019).

Menurut Ketua Fortazi, KH Roby Dongkal, kegiatan rileksasi tersebut bertujuan untuk membangun semangat kebersamaan, serta menjadi ajang diskusi dan membahas berbagai program organisasi.

“Disini kita menghibur diri, menghilangkan rasa jenuh dan penat. Tapi sambil mancing kita juga membicarakan banyak hal, salah satunya membahas program-program organisasi,” kata Roby Dongkal kepada depoktren.com.

Dijelaskan Roby, hingga saat ini Fortazi telah memiliki 1.000 lebih anggota, yang menyebar di tujuh kelurahan di wilayah Kecamatan Tapos.

“Alhamdulillah sejak empat belas tahun berdiri, anggota Fortazi sudah mencapai ribuan, dari 58 mushola dan masjid se-Kecamatan Tapos,” ungkap Roby yang juga selaku Ketua Majelis Taklim (MT) At Taubah Kota Depok.

Kompak dan Solid
Di tempat sama, Pembina Majelis Taklim At Taubah, KH Abubakar Madris, mengaku bangga dengan kekompakan dan soliditas anggota Forkazi.

Menurutnya, kehadiran Forkazi sangat membantu dalam melancarkan program-program induk organisasinya (Majelis Taklim At Taubah), terutama di wilayah Kecamatan Tapos.

“Forkazi itu bagian dari At Taubah, dan saya bangga Forkazi sudah menjadi organisasi yang besar di Tapos,” kata Abubakar.

Dia menjelaskan, sebagai wadah pendidikan non-formal, Majelis Taklim At Taubah dan Forkazi memiliki kesamaan dalam menggulirkan program-program keumatan.

Selain berdakwah, para ustadz yang tergabung di MT At Taubah juga melakukan berbagai kegiatan sosial, seperti menyantuni yatim/piatu dan duafa, serta memberikan (wakaf) Quran ke mushala/masjid.

Bahkan sejak tiga tahun lalu, Majelis Taklim At Taubah telah mendirikan pesantren di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II B Cilodong.

“Setiap hari Senin hingga Kamis, ustadz-ustadz At Taubah ngajar di Rutan Cilodong. Bukan hanya ngaji, tapi juga mengajar seni dan keterampilan,” ungkap Abubakar.

Kesenian yang diajarkan kepada para narapidana di Rutan Cilodong, di antaranya musik etnis, hadroh, marawis. Adapun materi keterampilan yaitu seni lukis, menulis kaligrafi.

“Nanti pada 22 Oktober, bertepatan dengan Hari Santri, tujuh narapidana binaan pesantren At Taubah akan bebas. InsyaAllah mereka sudah siap diterjunkan ke masyarakat untuk mengajar ilmu agama,” demikian Abubakar Madris.

Acara mancing bareng yang digelar Fortazi Tapos juga dihadiri Pendiri Majelis Taklim At Taubah, Pradi Supriatna, dan Ketua Umum Kumpulan Orang Orang Depok (KOOD) Ahmad Dahlan.(amr)

226 total views, 1 views today

LEAVE A REPLY