2 November 1993, Tragedi Tabrakan Kereta Ratu Jaya

0
3261

www.depoktren.com–Tepat 26 tahun lalu, pada 2 November 1993, telah terjadi tabrakan kereta terburuk dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia yang dikenal dengan Tragedi Ratu Jaya.

Betapa hebatnya tabrakan kereta api yang terjadi di Ratu Jaya, Depok, pada Selasa (2/11/1993) pukul 07.25 WIB. Terlihat dari kehancuran gerbong terdepan rangkaian KRL Jakarta-Bogor yang menabrak rangkaian KRL Bogor-Jakarta. Gerbong tersebut setelah menabrak terlipat ke atas akibat tumbrakan di depan serta daya dorongan dari belakang.

Setelah semua korban yang bisa dievakuasi selesai dipindahkan, pukul 13.30 WIB, gerbong yang terlipat itu ditarik dari arah belakangnya dengan menggunakan kereta diesel. Pada terikan pertama, rongsokan gerbong itu hampir saja terguling, sehingga petugas segera memberi isyarat agar penarikan dihentikan. Pada upaya kedua, gerbong ringsek itu berhasil ditarik dari lipatannya, disertai suara berderak dan kepulan debu.

Semua tindakan itu dilakukan untuk dapat mengambil jenazah masinis Adi Purnomo dan seorang lainnya yang masih terhimpit di kabin masinis rangkaian itu.

Kecelakaan kereta api di Ratu Jaya adalah peristiwa tabrakan hebat dua kereta api yang merupakan kecelakaan terburuk ketiga dalam sejarah perkeretaapian di Indonesia setelah terjadinya Tragedi Bintaro atau peristiwa kecelakaan kereta api di Bintaro pada 19 Oktober 1987 dan kecelakaan kereta api 146 Empu Jaya yang menabrak kereta api 153 Gaya Baru Malam Selatan pada 25 Desember 2001.

Sebelumnya pada tahun 1968 pernah terjadi kecelakaan serupa yang menewaskan 116 orang, melibatkan KA Bumel atau Ekonomi yang ditarik oleh lokomotif listrik dan lokomotif BB200.

Pada masa itu jalur Depok menuju Kota Bogor masih menggunakan jalur tunggal. Kecelakaan ini mengakibatkan jatuhnya 20 korban meninggal dunia dan seratus orang mengalami luka-luka.

Peristiwa kecelakaan ini terjadi pada pagi hari dan berawal dari kesalahan informasi antara petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di pemberangkatan Stasiun Depok Lama dan Stasiun Citayam.

Kejadian bermula ketika rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) dengan rangkaian delapan gerbong diberangkatkan oleh Petugas PPKA stasiun Depok Lama tanpa mengabarkan berita jalur aman terlebih dahulu pada Petugas PPKA Stasiun Citayam, dan pada saat yang bersamaan sebuah rangkaian KRL lain yang sarat penumpang dari arah Bogor baru saja berangkat dari stasiun Citayam.

Peristiwa nahas itu persis terjadi di sekitar tikungan Ratu Jaya, masing-masing masinis dari jauh tidak saling melihat, baru setelah dekat kedua belah pihak saling menyadari hingga tabrakan pun tak terhindarkan.

Kereta dari Depok yang lebih ringan dengan penumpang yang nyaris kosong remuk dan terangkat ke atas, ketika kedua KRL tersebut bertabrakan muka dengan kecepatan sedang. Rangkaian gerbong terdepan dari empat rangkaian kereta terbelah dua, terangkat ke atas serta menindih persambungan kereta kedua yang juga remuk.

Sementara kereta yang melaju dari arah Citayam, yang kondisinya penuh dengan penumpang juga tak jauh berbeda. Tabrakan ini mengakibatkan semua penumpang terdesak ke depan sehingga penumpang yang berada di bagian depan setiap gerbong terimpit sedangkan mereka yang berada di pintu terpental ke luar.

Terimpit dan terpental inilah yang diduga menyebabkan banyaknya korban meninggal dunia termasuk masinis dan kondektur kedua KRL.

KRL yang terlibat kecelakaan adalah KRL Rheostatik, yaitu Rheostatik Mild dan Stainless, dan akibat kecelakaan KRL ini, dua kereta dari masing-masing set rusak, sehingga digabung menjadi KRL “Catdog”.

Kini jalur Jakarta-Bogor telah ganda sepenuhnya, sehingga angka kecelakaan dapat ditekan, serta lalu lintas KRL atau KA jarak jauh menjadi semakin lancar. (rakuman depoktren dari berbagai sumber)

 3,256 total views

LEAVE A REPLY