Program Ngaco Kalau Jalan Margonda Berbayar

0
133

www.depoktren.com–Rencana Jalan Margonda berbayar atau Electronic Road Pricing (ERP) pada 2020 dinilai ngaco oleh sebagian besar masyarakat. “Ngaco itu program, kurang kerjaan. Ngatasi kemacetan bukan seperti itu, cari solusi lain dong,” ujar ujar Ketua Satgas Pemantau Perijinan dan Pembangunan Depok (SP3D), Ichsan Harahap, Minggu (17/11/2019).

Warga Jalan Margonda, Tito mengatakan, juga tidak setuju jika Jalan Margonda berbayar. “Jalan Margonda itu, jalan utama di Kota Depok menuju Jakarta. Masih ada upaya lain kok untuk atasi kemacetan,” tuturnya.

BPTJ akan menerapkan sistem jalan berbayar atau ERP pada 2020. Tahap awal, jalan berbayar akan diterapkan di Jalan Margonda (Depok), Jalan Daan Mogot (Tangerang), dan Jalan Kalimalang (Bekasi).

Kepala BPTJ Bambang Prihartono mengatakan, sampai saat ini BPTJ sedang menyusun road map dan sedang mengkaji regulasi yang ada. Dalam penerapan ERP tersebut, BPTJ pun akan bertanggung jawab di ruas jalan nasional, sementara pemerintah provinsi akan bertanggung jawab di jalan daerah masing-masing.

“Nanti untuk jalan nasional, diterapkan di jalan Margonda, Depok, jalan Daan Mogot Tangerang, dan Kalimalang, Bekasi. Ini baru untuk tahap I,” ungkap Bambang, Kamis (14/11/2019) lalu.

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok menegaskan bahwa belum ada komunikasi dengan pihak Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ).

“Itu hanya wacana, BPJT belum ada komunikasi dan koordinasi dengan kami,” tegas Kepala Dinas Dishub Kota Depok, Dadang Wihana.

Dia menambahkan, wacana tersebut masih dalam pembahasan BPTJ. Sehingga belum ada pembahasan terkait penerapannya pada 2020. “Dalam setiap kebijakan semua elemen (stakeholder) harus diikutsertakan. Keputusan tersebut menyangkut hajat hidup banyak orang,” terang Dadang.

Menurut Dadang, penerapan ERP di Jalan Margonda pada 2020 agar tidak djadikan polemik. Saat ini, Dishub Depok sedang fokus pada pembenahan transportasi umum dan infrastruktur pendukungnya.

“Kami sedang fokus pada pembenahan transportasi publik, misalnya dengan pembahasan Bus Jabodetabek Residence (JR) Conection yaitu angkutan permukiman sampai ke tujuan. Kemudian juga kami akan mengaktifkan kembali jalur bus yang tidak aktif, serta membenahi kenyamanan angkutan kota agar ber-AC,” jelanya. (Siska Thresia)

 133 total views

LEAVE A REPLY