Din Hadiri Konperensi Toleransi di Abu Dhabi

0
112

www.depoktren.com–Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin menghadiri konperensi tentang toleransi, dari kemungkinan kepada keniscayaan (At-Tasamuh Minal Imkan ilal Ilzam/Tolerance From Possibility to Necessity) di Abu Dhabi sejak 9 Desember 2019.

Konperensi merupakan konperensi keenam yg diselenggarakan oleh Forum Promosi Perdamaian dalam Masyarakat Islam (Muntadat Ta’zis Silmi fil Mujtama’at al-Islamiyah/Forum for Promoting Peace in Muslim Societies) yang dipimpin okeh Syaikh Abdullah Bin Bayyah, seorang ulama terkemuka di dunia dewasa ini.

Konperensi dihadiri oleh sekitar 300 tokoh berbagai agama dari berbagai negara. Dari Indonesia, selain Din Syamsuddin, hadir Rektor UIN Jakarta Prof. Amany Lubis, Rektor Unida Prof. Amal Fathullah Zarkasyi, Rektor IIQ Prof. Khuzaimah Y Tanggo, Dosen UIN Jakarta Dr. Zaitunah dan Ketia MUI, KH. Abdullah Jaidi.

“Dalam konperensi dibahas beberapa aspek dari pengembangan budaya toleransi dalam kehidupan masyarakat majemuk, seperti formulasi baru toleransi, etika toleransi, peluang bagi perdamaian, dan Aliansi Keutamaan (Alliance of Virtous). Yang terakhir merupakan tajuk dari Deklarasi Washington yg disepakati pada konperensi 2018,” ujar Din Syamsudin dalam siaran pers yang diterima depoktren.com, Selasa (10/12/2019).

Dia menambahkan, Aliansi Keutamaan merupakan upaya mengangkat nilai-nilai keutamaan dari berbagai agama utk ditampilkan sebagai lingkaran kebenaran. Lingkaran Keutamaan (Virtous Circle) diharapkan dapat menggantikan Lingkaran Setan (Vicious Circle) yang melilit peradaban dunia dewasa ini.

“Saya menyambut baik percakapan tentang toleransi ini dan menganggapnya sebagai pilar kehidupan dunia yang majemuk,” terangnya.

Menurut Din, pengembangan kemajemukan menuntut beberapa prasyarat, antara lain, pengakuan akan kemajemukan, kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai, toleransi, dan kerja sama.

“Toleransi, adalah sikap dan pandangan mengakui bahwa di antara anasir masyarakat majemuk ada persamaan dan ada perbedaan. Toleransi adalah menghargai perbedaan disertai tenggang rasa terhadap perbedaan itu,” jelasnya.

Konperensi tentang toleransi di Abu Dhabi, menurut Ketua Dewan Pertimbangan MUI ini membawa pesan kuat dan relevan dengan bangsa Indonesia yg memiliki kemajemukan. Untuk menjaga keutuhan, kerukunan, dan persatuan maka toleransi merupakan prasyarat mutlak. Dengan demikian, toleransi bukan sekedar kemungkinan tapi adalah keniscayaan.

“Namun, saya mengingatkan agar tidak ada satu kelompok yang mudah mengklaim paling toleran dan kelompok lain intoleran. Klaim sepihak yang bersifat subyektif seperti itu justru akan merusak iklim toleransi yang ada,” tutur Din.

Tuduhan sepihak, lanjunya, seperti itu sering muncul sebagai bermotif politik, dan dengan demikian sikap itu sejatinya merupakan bentuk intoleransi. Dari pada mengembangkan pendekatan bernada fobia demikian, sebaiknya bangsa mengembangkan budaya toleransi sejati.

“Jika ada masalah di antara kelompok-kelompok, sebaiknya dikembangkan budaya dialog. Dialog adalah cara bermartabat utk mengatasi yang ada,” tegas Din.

Dari Abu Dhabi, Din sebagai Presiden Asian Conference on Religions for Peace (ACRP) melanjutkan perjalanan ke New York untuk hadiri Pertemuan Para Tokoh Agama-Agama Dunia (Multi Religious Partnership for Peace and Development) yang diselenggarakan oleh Religions for Peace. Pada pertemuan itu Din menjadi moderator pada sesi tentang peran agama dalam menanggulangi krisis lingkungan hidup. (Ahmadi)

 112 total views

LEAVE A REPLY