Ketegangan AS-Iran, ISIS Kembali Bangkit

0
79

www.depoktren.com–Sejak tahun lalu ISIS tampaknya sudah kalah. Mereka kehilangan sebagian besar wilayah. Pemimpin kelompok itu juga sudah terbunuh dan mesin propaganda mereka di media sosial pun sudah ditutup.

Namun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran serta bentrokan karena kehadiran pasukan AS di Timur Tengah menciptakan kesepakatan bagi kelompok teroris itu bangkit kembali. Para pakar mengatakan ISIS mulai membangun kampanye serangan gerilya selama satu tahun terakhir.

“Ketegangan ini tentu akan membantu Deash (ISIS) karena seluruh pasukan menjadi sibuk dengan urusan yang lain,” kata peneliti Suriah, Abdullah Suleiman Ali, Selasa (28/1/2020).

Pasukan Amerika di Irak menghentikan operasi mereka melawan ISIS selama dua pekan. Di sisi lain milisi Irak yang didukung Iran mengalihkan fokus mereka dari melawan ISIS menjadi mengusir pasukan AS dari Timur Tengah.

Sel-sel ISIS yang tertidur mengintensifkan serangan mereka di Irak dan Suriah dalam beberapa pekan terakhir. Mereka membunuh dan melukai puluhan orang di dua negara itu.

Aktivis dan warga setempat mengatakan sejak AS membunuh komandan militer Iran Jenderal Qasem Soleimani pada 3 Januari lalu dengan drone di Bandara Baghdad, ISIS semakin intensif melancarkan serangan-serangan mereka. Belum diketahui apakah kenaikan serangan ini berkaitan dengan serangan itu.

Ada kemungkinan serangan sudah direncanakan sebelum AS membunuh Soleimani. AS menyangkal ada kenaikan aktivitas ISIS.

“Mereka belum mengambil keuntungan dari itu, sejauh yang kami lihat,” kata utusan Departemen Luar Negeri AS untuk koalisi internasional yang memerangi ISIS, James Jeffrey.

Juru bicara pasukan Kurdi Suriah Mervan Qamishlo mengatakan serangan ISIS semakin intensif sejak Oktober, ketika Turki mulai menggelar operasi militer terhadap pasukan Kurdi di utara Suriah. ISIS jelas mendapatkan ruang bernapas setelah pembunuhan Soleimani.

Hal itu mendorong Iran dan AS perang terbuka dan membuat pemerintah dan rakyat Irak marah sebab pembunuhan tersebut telah melanggar kedaulatan mereka. Pada 5 Januari lalu parlemen Irak meminta 5.200 pasukan AS di negara itu segera ditarik mundur. Pasukan AS sudah berada di Irak sejak 2014. Mereka melatih pasukan Irak dan membantu mereka memerangi ISIS.

Menurut Suleiman Ali, ketegangan antara AS dan Iran membantu ketua ISIS yang baru Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi memperkuat cengkeramannya. Setelah Abu Bakar al-Baghdadi tewas di Suriah pada Oktober lalu, Al-Qurayshi menjadi pemimpin baru ISIS.

“Di hari pertama bentrokan Amerika-Iran dimulai, ISIS mengintensifkan serangan,” kata kepala organisasi kemanusiaan Syrian Observatory for Human Rights, Rami Aburrahman.

Pada 14 Januari ISIS melancarkan serangan dari Suriah sampai Irak. Mereka membunuh pejabat Irak. Satu hari kemudian anggota ISIS menyerang pasukan Irak di pusat wilayah Salaheddine.

Serangan tersebut menewaskan dua orang pasukan dan melukai lima orang lainnya. Dua hari kemudian petinggi intelijen Irak terbunuh dalam serangan bom mobil di utara Baghdad.

Serangan paling mematikan di Suriah terjadi pada 14 Januari. Anggota ISIS mencuri dua ribu hewan ternak dari desa dekat timur kota Mayadeen. Satu dari empat orang penggembala memberitahu pihak berwenang.

Pasukan militer pemerintah Suriah pun dikirim ke wilayah itu. Di sana mereka ditembaki anggota ISIS. Saat kembali ke pangkalan, anggota ISIS melakukan penyergapan dan membunuh 11 orang pasukan dan pasukan pro pemerintah serta dua orang pengembala.

ISIS mempublikasikan foto-foto yang memperlihat jenazah para prajurit yang mereka bunuh dalam serangan tersebut. Dalam foto-foto tersebut juga terlihat kendaraan bersenjata yang hancur dan truk yang terbalik.

Di hari yang sama tujuh orang pengembala ditembak mati di timur kota Deir el-Zour. Pada 4 Januari sebanyak 21 pengembala ditemukan tewas dengan luka tembakan di belakang kepala dengan tangan terikat. (Siska Thresia/AP)

 79 total views

LEAVE A REPLY