Rusdy Nurdiansyah, Sosok Jurnalis Kawakan yang Bernyali dan Gaul

0
698

www.depoktren.com–Profesi jurnalis itu harus dijiwai, harus profesional yang menjujung tinggi kode etik pers serta mengutamakan kepetingan masyarakat. Seorang jurnalis senantiasa menyajikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat bukan yang menyesatkan.

Begitulah prinsip yang dipegang teguh Wartawan Senior Republika, Rusdy Nurdiansyah yang mengawali karir di dunia jurnalistik saat masih dibangku kuliah di IISIP Jakarta, pada 1990 sebagai penulis lepas di Tabloid Tribun Olahraga dan Mutiara. Pada 1991-1992, Rusdy menjadi reporter di majalah property Info Papan.

Usai lulus S1 IISIP Jakarta pada 1993, Rusdy mulai mengawali karir jurnalistiknya di Harian Umum Republika pada 1993 sebagai Riset Foto. Tugas menyediakan foto yang dibutuhkan serta pendokumentasian foto untuk menunjang karya foto jurnalistik dilakoninya hingga 1997.

Kemudian, Rusdy mulai menapak karir sebagai Fotografer Republika pada 1997-2003. Peristiwa kerusuhan 1998, liputan ke Penjara Nusakambangan 2000 dan Pemberotakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 2002-2003 menjadi liputan yang mencekam yang pernah dialami.

Pada 2003, Rusdy beralih profesi sebagai wartawan tulis atau reporter di Republika, namun tetap menenteng kamera disetiap liputannya. Bencana Tsunami Aceh 2004-2005 menjadi liputan Rusdy sebagai wartawan tulis merangkap fotografer yang kemudian dibukukan bertajuk Aceh Loen Sayang.

Beberapa liputan yang cukup menantang lainnya yakni liputan Pilkada Depok 2005, liputan ke perbatasan Mesir-Palestina 2006, Liputan Backpecker Keliling Asia 2007, liputan ke Jepang 2009, liputan kecelakaan pesawat Sukhoi di Gunung Salak 2012, liputan kecelakaan Air Asia di Kalbar 2017 dan liputan ke perbatasan Indonesia-Malaysia di Etikong Kalimantan 2018.

Selama berkarir di Republika, Rusdy sudah bertugas di berbagai macam desk yakni di perkotaan dan kriminal, hiburan dan budaya, politik, olahraga dan bertugas di wilayah Kota Depok hingga sekarang.

Karya-karya tulisannya yang cukup heboh yakni soal lambang group musik Dewa yang membuat Ahmad Dhani geram dan mendatangi Rusdy. Lalu berita rencana kedatangan Presiden Libya, Muammar Khadafi ke Indonesia membuat Kedutaan Amerika Serika (AS) meradang dan memanggil Rusdy untuk interogasi.

Selanjutnya berita penutupan Diskotik Stadium dan gugatan Pilkada Depok 2005. Bahkan, tulisan-tulisan yang cukup kritis di Kota Depok sempat membuat Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail sempat miminta agar Rusdy dipecat dari Republika.

Adapun karya bukunya yakni Aceh Loen Sayang (2005), Depok Membangun Asa (2006) dan Kumpulan Tulisan Pengalaman Wartawan Republika (2010).

Rusdy juga aktif di organisasi diantaranya Pelaksana Harian Humas ICMI Pusat (1992-1993), Pendiri dan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Depok (2004-2005), Ketua Depok Media Center (DMC) (2010-2015), Ketua Pembina DMC (2015-Sekarang) dan Anggota PWI Depok (2017-sekarang).

Rusdy, lahir di Banda Aceh, 1 Agustus 1969 yang juga hobi olahraga terutama sepakbola ini sudah mengikuti Uji Kopentensi Wartawan (UKW) Dewan Pers pada 2017.

Rusdy Nurdiansyah
FB: Rusdy Nurdiansyah Nurdiansyah
Twitter: @rusdynurdiansya
Instagram: rusdynurdiansyah69
Youtube: rusdy nurdiansyah
Email:
rusdynurdiansyah69@gmail.com
rusdy_n@yahoo.com

 698 total views

LEAVE A REPLY