Lomba Covid-19, Sosialisasi dan Foto Tersenyum

0
93

Lomba Covid-19, Sosialisasi dan Foto Tersenyum

Oleh: Rusdy Nurdiansyah

Siapa yang tak kenal Habibie, orang jenius denga IQ diatas rata-rata. Namun, kegeniusanya menjadi sirna tak kala terjun berpolitik hingga menjadi Presiden RI.

Setelah itu, banyak kalangan menilai Habibie orang jenius berada di tempat dan waktu yang salah. Bukan berarti Habibie tak layak jadi presiden, bahkan lebih dari layak.

Ya, Habibie jadi presiden disaat situasi efouria kebencian dengan Presiden Soeharto dan Pemerintahan Orde Baru (Orba). Dan, Habibie dianggap sebagai antek Soeharto.

Habibie sadar itu, dan tidak mencoba ‘berbusa-busa’ menjelaskan kalau dirinya bukan antek Soeharto dan Orba. Dan, lebih memilih mundur untuk dicalonkan kembali.
Habibie memilih mendengarkan kritik demi kepentingan rakyat dan bangsa daripada sekedar ego kekuasaan.

Lalu apa hubungannya Lomba Education Covid-19 untuk pelajar PAUD, SD dan SMP di Kota Depok dan agenda sosialisasi pencegahan Covid-19 dengan tampilan foto Wali Kota Depok, Mohammad Idris yang sedang tersenyum?.

Jika membaca maksud dan tujuan Lomba Education Covid-19 itu cukup bagus. Namun sayangnya lomba diadakan disaat situasi sedang berlangsung darurat bencana Covid-19 yang juga terjadi diseluruh dunia.

Tentu lomba tersebut tidak di waktu yang tepat dan konotasi lomba yang identik dengan sesuatu yang menyenagkan, ada kompetisi dan hadiah. Jadi lain, kalau lomba tersebut diadakan saat bencana Covid-19 sudah berlalu.

Saat ini, semua orang menjadi korban bencana Covid-19, tak hanya berusaha sembuh, mencegah penularan, juga sedang berjuang mengatasi persoalan ekonomi. Bukan tidak mungkin akan muncul bencana lain yakni kelaparan yang dapat memicu kerusuhan sosial dan ekonomi.

Tentu itu tidak kita harapkan kalau kita semua bahu-membahu fokus mengatasi bencana Covid-19 yang tak satupun orang dapat memprediksi kapan akan berakhir.

Lomba Education Covid-19 tentu sangat menyakitkan bagi korban meninggal dan korban positif yang masih berjuang sembuh. Mungkin sebagian besar masyarakat menilai lomba itu tidak etis karena eduaksi kegembiraan diatas penderitaan orang lain. Dan, mungkin sedikit orang saja yang menilai lomba itu pantas. Ya, bisa dengan alasan menjalankan program edukasi.

Lalu soal sosialisasi pencegahan penularan Covid-19 tentu cukup bagus. Namun, pose Wali Kota Depok, Mohammad Idris yang berukuran cukup besar dibandingkan tulisan sosialisasinya, tidak tepat dan juga tidak tepat lagi dengan pose yang tersenyum serta semakin tidak tepat lagi tercantum logo-logo pendukungnya bukan logo resmi Pemkot Depok.

Nuansa politiknya lebih kental karena jelang Pilkada Depok 2020. Bukan sekedar tidak tepat lagi, tapi sudah tak elok dan tak pantas, bencana dijadikan ajang kampanye terselubung.

Apa Wali Kota Depok, Mohammad Idris sadar akan hal itu atau sama sekali tidak tahu?.

Demi menjaga rasa positif sebagian besar warga, sebaiknya lomba tersebut dibatakkan dan meminta fotonya tidak dipasang di segala macam bentuk sosialisasi pencegahan Covid-19. Apalagi dengan foto tersenyum.

*Dan, coba simak pesan Habibie: “Ketika seseoran mengkritik kamu itu adalah sebuah pujian bahwa selama ini mereka menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan kamu, bahkan ketika kamu tidak memikirkan mereka. Dan, Tidak ada gunanya IQ Anda tinggi kalau tidak tahan kritik.”*

Depok, 31 Maret 2020
Penulis: Wartawan Republika/Ketua Dewan Pembina Depok Media Center (DMC)

 93 total views

LEAVE A REPLY