Pionir Itu Wartawan Depok

0
588

Nasi bok kiriman Hotel Margo belum tuntas disantap. Baru menikmati empuknya daging cincang sesuap. Saya harus menunda menikmati ‘kemerdekaan’ perut itu sejenak.

Di ujung pintu petugas medis RS Bunda Margonda, Depok memanggil. Giliran saya harus masuk ke ruang medis. Petugas itu berseragam serba putih. Wajahnya tak terlihat. Benar-benar tertutup rapat. Mereka pakai masker, kacamata pelindung, pakaian pelindung tubuh “hazmat” dan sarung tangan.

Saya tak sempat bertanya namanya. Itu tak penting. Pastinya, petugas wanita itu menjelaskan fungsi alat rapid test. Sangat ramah. Detail dan jelas. Sejurus kemudian mengambil darah dari jari telunjuk saya.

“Selama 15 menit hasil sudah bisa diketahui. Semoga negatif,” tuturnya yang dengan ramah melayani 100 wartawan Depok melakukan rapid test.

Rapid test atau tes cepat secara massal untuk pemeriksaan imuniglobulin sebagai screening awal. Rapid test ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus corona COVID-19.

Metode pemeriksaan coronavirus ini ada beberapa macam, dilihat dari sensitifitasnya. Untuk virus ini yang paling sensitif adalah pemeriksaan dengan metode molekuler yaitu menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR).

Tapi, saya tak ingin menyelami metode yang menjadi wilayah tim medis. Itu wilayah kedokteran. Saya hanya ingin bilang inisiatif wartawan Depok yang melakukan rapid test adalah jempolan.

Pentingkah?
Teramat penting. Kinerja wartawan sangat mobile. Tak kenal waktu dan ruang. Panas, hujan, bukan halangan. Wartawan bertemu dengan banyak orang. Tentu demi memberi informasi kepada masyarakat. Pekerjaan ini sangat rentan terpapar Covid-19.

Tapi, kadang mengabaikan kesehatan. Padahal, siang bisa diganti malam karena tuntutan profesional. Naluri kewartawanan kadang melupakan segalanya. Sejatinya wartawan juga manusia. Punya plus-minus seperti lainnya.

Wartawan Depok sadar pentingnya perang melawan virus corona. Mereka tak mau terpapar Covid-19. Mereka tak mau menularkan kepada siapapun. Tapi, mereka selalu ingin berada di garda terdepan. Inisiatif Depok Media Center (DMC) melakukan rapid test patut diapresiasi.

Ini mungkin yang pertama dilakukan wartawan se-Indonesia. Wartawan Depok bisa dibilang pionir. Aksi mereka patut dilakoni oleh perkumpulan wartawan lainnya. Mereka harus menyadari kesehatan penting menunjang profesionalismenya.

Bukan ingin memuji. Tapi harus diakui Pembina DMC Rusdy Nurdiansyah, sangat peka dalam situasi ini. Orang bijak bilang, “Orang percaya bukan karena ucapan, tapi tindakan yang nyata.”

Rusdy mungkin seperti tukang obat kalau diskusi. Ucapannya sangat pedas. Tak pernah mau kalah. Kandang bisa menyakitkan. Tapi, dia bukan sekadar bercuap-cuap. Dia juga memberi bukti dengan tindakan.

Wartawan senior ini patut jadi panutan. Dia mengajak semua pihak perangi virus corona bersama-sama. Minimal dia telah mengajak sesama wartawan melakukan rapid test.

“All humans come as a package deal. You can’t have just one aspect of a person and say you don’t want the rest.” (semua manusia datang sebagai satu keutuhan paket. Anda tidak bisa hanya mau memiliki satu sisinya dan menolak yang lainnya).

Kalimat lebih sederhananya lagi dalam bahasa gaul sekarang ini adalah: Inilah saya, apa adanya dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Diterjemahkan lagi dalam bahasa yang lebih cuek kira kira akan berbunyi: Kamu mau gak sih? Kalau mau ayo kita jalani.

Saya setuju dan tidak setuju dengan ungkapan ungkapan diatas. Setuju dalam arti bahwa saya menyadari semua manusia punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Artinya wartawan juga bisa terpapar virus corona. Covid-19 tidak tebang pilih. Virus ini bisa menyerang siapa saja. Tidak lihat jabatan, profesi, jenis kelamin.

Saya ambil contoh sederhana. Kalau kita berjalan ‘meleng’ pasti tersandung. Batu di jalan pasti disalahkan. Entah darimana datangnya batu itu. Padahal, dia sendiri tak lihat batu itu. Sumpah serapah pasti keluar dari mulut orang itu.

Orang itu lupa, bukan karena batu dia tersandung. Tapi dia sendiri yang tidak hati-hati berjalan. Dia tidak melihat ke bawah. Dia tidak bisa menyalahkan orang. Apalagi menuding ada yang menaruh batu di jalan.

Jangan pula kita menyalahkan pemerintah jika segala himbauannya tak diperhatian. ‘Boro-boro’ dijalankan. Jangan merasa diri kita kuat. Ingat, virus corona tak bisa dilihat dengan mata tapi nyata.

Diminta menjaga jarak fisik malah desak-desakan antre. Dihimbau social distancing malah nongkrong di tempat keramaian. Dianjurkan stay at home malah berkeliaran.

Seorang bijak bilang,”Itulah salah satu sifat buruk kebanyakan manusia. Ketika mereka tersandung, selalu menunjuk hidung orang daripada diri sendiri. Mereka mencari penyebab, tanpa koreksi diri.”

Jadi dalam hal ini, wartawan Depok tak mau terpapar Corona. Mereka memerangi virus corona lewat diri sendiri. Mereka bukan hanya memberikan contoh bagaimana menjaga jarak fisik aman, sosial, dan pemakaian masker. Tapi, juga melakukan tindakan preventif dengan rapid test.

Tidak berlebihan kalau saya bilang wartawan Depok sebagai pionir rapid test. Selama 30 tahun jadi wartawan baru kali ini saya melihat komunitas wartawan yang kompak, aktif dan kritis. Tentu saya beruntung berada di antara mereka. Tapi, saya juga tak mau terpapar. Saya ingin melanjutkan makan nasi boks yang tertunda 10 menit tadi. Demi kesehatan.*Suryansyah, Sekjen Siwo PWI Pusat

 586 total views

LEAVE A REPLY