Kami Pun Terpapar

0
391

DEPOK – Kacang kawangkoan kiriman teman dari Minahasa, Sulawesi Utara, menemani obrolan wangur ngidul di sudut teras rumah. Pertemuan dengan teman sewaktu SMA di Jakarta itu tidak direncanakan. Serba kebetulan.

Tempat tinggal kami ternyata hanya beda blok. Kami bertiga ber-KTP Depok, satu kelurahan. Tapi sama-sama tak tahu. Maklum, komplek, kadang sebelah rumah saja tak kenal. Pandemi Covid-19 mempertemukan kami. Untungnya bukan bertemu di rumah sakit rujukan.

Suatu hari, saya order ojol untuk pesan makanan. Saya tak tahu kalau driver ojol itu teman lama. Saya hanya baca namanya: Kartono. Tidak perhatikan fotonya. Lagian nama tersebut saya pikir pasaran. Ketika pesanan tiba di rumah, Kartono berteriak. “Go food…pesanan go food-nya Pak!” pekik Kartono sembari mengetuk pagar pintu rumah saya dengan yakin.

Sejurus kemudian, saya keluar menyambutnya. Saya langsung sodorkan uang seratus ribu. “Ambil saja sisanya, Bang,” seru saya tanpa melihat wajah Kartono yang tertutup helm. “Eitt… perasaan kenal,” sahut Kartono sembari melepas masker dan helm. “Gimana kabar,” lanjutnya sambil menyebut nama saya.

Kontan saya kaget. Lebih dari 20 tahun kami kehilangan kontak. Ternyata driver ojol itu teman SMA saya. Namun pertemuan hanya sebentar karena handphone Kartono berbunyi. Dia kembali mendapat order. Hari-hari berikutnya kami lanjutkan lewat pesan singkat.

Selang sepekan, Kartono mampir ke rumah saya. Sepertinya dia habis mengantar tetagga, tiga rumah dari rumah saya. Dia masih memakai perlengkapan serba hijau. Tak lama berselang Bambang juga datang. Saya dapatkan nomor Bambang dari Pak Luruh.

“Kontak kepala Puskemas dokter Bambang saja. Secara teknis beliau yang tangani kasus di wilayah kita,” saran Pak Lurah ketika saya hendak membantu tetangga yang berstatus PDP.

Ternyata Bambang yang dimaksud teman kongkow-kongkow saya dan Kartono. Saya tak menyangka dia menjadi seorang dokter. Setelah urusan beres, kami masih kontak-kontakan. Bambang janji akan mampir ke rumah saya jika ada waktu senggang.

Bicara masa SMA, Kartono cukup encer otaknya. Dia ranking lima besar di kelas. Sayang, garis tangannya kurang bagus. Dia bekerja serabutan sejak kena PHK sebulan terakhir. Kartono akhirnya beralih jadi driver ojek online.

Berbeda dengan Bambang. Otaknya pas-pasan. Tapi orang tuanya cukup tajir. Dia pun bisa mencicipi kursi kuliahan. Gelar sarjana kedokteran disandangnya. Datang ke rumah saya dengan mengendarai mobil. Dia nyetir sendiri tanpa driver pribadinya. Maklum dia sekalian pulang ke rumahnya sekitar 700 meter.

Obrolan diawali dengan social distancing. Kami pun jaga jarak satu sama lain. Tentu dilengkapi dengan masker. Tak ada salaman. Cukup say hello. Momennya memang kurang pas.

Kami memang sangat dekat sewaktu sekolah. Kompak luar dalam. Kadang suka iseng, ada kalanya jaim. Nakal pun bareng-bareng. Tapi, masih dalam batas kenakalan yang wajar. Di sekolah dulu dijuluki trio Belanda. Bukan berarti keturunan Belanda atau berperawakan bule. Kami bertiga sama-sama mengidolakan trio AC Milan yang kebetulan dari Belanda: Ruud Gullit, Van Basten, dan Frank Rijkaard.

Urusan pelajaran, Kartono tentu paling jempolan. Saya tak meragukan itu. Bambang yang agak bengal, juga kami acungkan jempol. Dia ringan tangan jika teman dalam masalah. Terutama soal keuangan. Dia paling sering traktir teman-teman di kantin sekolah.

Tak ada ‘otot-ototan’ dalam obrolan. Perbedaan pandangan biasa. Hanya sebatas riak kecil. Kartono mengeluh soal orderannya yang drastis anjlok. Sehari paling cuma dapat 2-3 penumpang.

Nasibnya setali tiga uang dengan anak gadisnya. Belum genap setahun kerja sudah dirumahkan. Imbas virus corona memang menjalar kemana-mana. “Lengkap penderitaan. Corona benar-benar gila,” keluh Kartono.

Kartono merasa rezekinya telah diblokir oleh pemerintah. Berbagai himbauan mengurangi penyebaran virus corona, berdampak pada priuk dapurnya. Terlebih sekarang ada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Petugas keamanan ada di mana-mana. Kartono makin nelangsa. Tampangnya benar-benar kusut. Raut wajahnya terlihat mengerut berlipat. Dia seperti lebih tua dari usianya.

Dia cerita, belakangan istrinya sering ngomel kalau dia di rumah. Di satu sisi, dia terbentur dengan peraturan pemerintah. Batinnya menjerit, tapi dia tak kuat berteriak. Jika keluar rumah atau mangkal dia juga takut. Bukan takut terpapar, tapi harus main kucing-kuningan dengan petugas keamanan. Dilematis, antara urusan perut dan nyawa.

Berbeda dengan Bambang yang mapan. Rumahnya saja diambil dua kapling. Saat ini profesinya sebagai garda terdepan. Misi kemanusiaan jadi prioritas. Bukan bisnis yang sebelumnya melekat kuat di mata masyarakat terhadap rumah sakit. Duit dulu, baru pasien ditangani.

Dia bilang dalam situasi seperti ini, ekonomi bukan tidak penting. Semua orang butuh uang untuk makan. Tapi, kesehatan dan keselamatan saat ini prioritas. Kerja di rumah, hari ini banyak manfaatnya. Selain dekat dengan keluarga juga ikut membantu memutus penyebaran virus corona.

“Kita harus sayang dengan diri dan keluarga kita. Kesehatan hari ini jauh lebih penting dari rupiah yang kita kantongi,” Bambang ceramah.

“Kalian tetap di rumah, biar kami yang berperang di garis depan,” lanjutnya.

Kartono menyela. Dia tak sependapat dengan Bambang. “Bagaimana dengan nasib orang kecil seperti saya,” sela Kartono. “Kalian enak ngomong suruh kami di rumah. Siapa yang ngebulin dapur? Siapa yang bayar listrik, bayar sekolah, uang jajan anak…,” gumannya.

“Apa artinya WFH jika perut keroncongan. Tak ada uang untuk kehidupan. Bukan corona yang ditakutkan. Tapi mati kelaparan…,” Kartono makin mengernyitkan dahi.

Saya pun tergoda ikut bicara. Saya mencoba memahami perasaan Kartono. Saya juga tidak membantah pendapat Bambang. Saya tak ingin mencibir. Argumen keduanya benar. Tak gampang cari solusinya. Kedewasaan, kematangan berpikir, bersikap dibutuhkan sebelum bertindak.

Jujur saya juga gundah. Saya juga terpapar seperti Kartono. Tapi, saya mendukung upaya Bambang dan rekan seprofesinya. Mereka berjuang dari pagi, siang dan malam di rumah sakit. Berapa banyak orang kehilangan nyawa. Setiap saat terus berjatuhan. Jika kita tidak patuhi himbauan pemerintah, jumlah korban bakal makin tinggi. Bukan tidak mungkin berikutnya giliran kita.

Tidak hanya menimbulkan korban jiwa, penyebaran virus Corona juga berimbas ke berbagai sektor, seperti ekonomi dan bisnis. Tak kurang 1,5 juta orang dirumahkan dan kena PHK. Pengangguran makin tinggi. Ekonomi terus terpuruk. Dolar sudah menembus 16 ribu lebih. Ini lebih parah dibanding 1998 ketika krisis ekonomi.

Si kaya maupun orang miskin, yang lemah maupun orang kuat, semua merasakan ketidaknyamanan karena kerusakan di sana-sini. Kini, warga planet ini pun tak bisa mengelak ketika perekonomian dirundung masalah teramat serius.

Perusahaan media pun tak luput terpapar. Banyak yang gulung tikar. Mulai dari pemotongan gaji hingga THR ditangguhkan atau ditiadakan. Tapi, wartawan tak boleh ‘mati’. Profesinya itu harus diselamatkan. Hanya saja sekarang ini pers bukan lagi alat perjuangan. Pers sudah ditunggangi kapitalis. Siapa punya uang, itu yang berkuasa.

WFH sesuatu yang membosankan. Wartawan butuh kebebasan. Tak bisa kerja seperti dalam tahanan. Benar saat ini teknologi sudah canggih. Wawancara bisa via WhatsApp, video call dan sebagainya. Tapi, naluri jurnalistik seperti terkukung dengan WFH.

Tahun ini benar-benar prihatin. Sedihnya justru terjadi jelang bulan Ramadhan. Ujian hidup terasa makin berat. Bukan hanya menahan hawa napsu, tapi juga menahan gempuran corona. Saya menyebutnya ‘Mahluk Ghaib, tak bisa dilihat tapi nyata.

Saya tak perlu menggurui Bambang maupun Kartono. Saya hanya bilang kita tidak perlu egois dalam melihat masalah. Kita tak bisa mementingkan diri sendiri. Pandemi corona bukan hanya terjadi di negeri ini. Tapi hampir di seluruh dunia. Inilah saatnya kita bersatu. Selamatkan diri kita dan orang lain. Dengan diam di rumah berarti kita menyelamatkan banyak orang.

Tak sadar hari makin larut. Kopi yang panas sudah dingin dihempas embun malam. Tapi, kacang kawangkoan sudah tak tersisa di piring. Kartono dan Bambang pun pamit pulang. Saya kembali merenung di tengah malam.*

Suryansyah, Sekjen Siwo PWI Pusat
Depok, 13 April 2020

 391 total views

LEAVE A REPLY