Curhatan Wartawan di Curigai Covid-19

0
97

Berawal dari keluhan lambung yang ber gas, masuk angin dan tenggorokan kering. Sebelumnya, memang aku ikut pelatihan UKM di Jaktim selama 6 hari yang sebelumnya seluruh peserta di rapid test dan semua non reaktif (24 Juli rapid, 25-29 Juli pelatihan). Terlalu forsir tenaga.

Sebenarnya, tenggorokan sudah mulai enak karena sudah dua kali makan antibiotik dari klinik tapi pola makan tidak benar membuat aku ingin opname saja di rumah sakit karena nggak ada yang urus makanan di rumah.

Dapatlah rujukan di RS Tumbuh Kembang tapi di sini dibilang lab tak mendukung jadi dikirim ke RS Bunda (RSB) Margonda Depok. Aku memang ingin di rumah sakit yang kira-kira dinilai lebih aman dari Covid karena memang sebenarnya supaya istirahat dan makan yang sehat. Tadinya sudah dilarang ke rumah samit jaman pandemi ini. Tapi karena lambung bermasalah aku pikir ya nggak masalah. Toh ini perawatan yang berbeda dan di RS ibu dan anak.

Eh ternyata ketika di IGD RSB, dokternya malah lebih konsen ke tenggorokan. Jadi mulai aku dirontgen, cek darah, dll. Seharian yang membuat aku makin lemas dan tak berdaya, terlalu lama di IGD.

Aku diantar adikku. Aku sdh ingin istirahat betul. Adikku tidak cerita, apa yang dia bicarakan dengan dokter. Eh pas Magrib, tiba-tiba aku dijemput ambulans untuk diantar ke ruang Pinere, gedung khusus untuk isolasi Covid di RSB. Itu lho, tempat wartawan DMC lakukan rapid tes.

Aku kaget setengah mati kenapa aku jadi di ruangan seperti itu, adikku tidak bilang apa-apa. Karena aku sudah terlalu lelah, sudah nggak sanggup protes. Mulailah aku diinfus, dikasih obat-an, sepertinya dicurigai suspect karena batuk kering.

Jelas aku tak tahan dengan obat dan infus itu. Terlalu keras buat aku. Aku jarang makan obat. Jadi tiba-tiba dengan obat dan infus yg “banyak” bikin aku nggak tahan. Tapi karena sudah terlalu lemas jadi aku hanya diam menunggu hari esok.

Keluarga pun semua panik bingung kok dari yang asam lambung tiba-tiba dimasukkan ke ruang isolasi suspect. Akhirnya aku tahu, bahwa aku sewaktu di IGD di rapid tes, hasilnya reaktif.

Ya iyalah, kan lagi minum obat. Adikku nurut saja apa kata dokter. Tidak kasih tahu juga ke aku. Anehnya, besoknya hasil Swab keluar, hasilnya negatif.

Semua keluargaku panik, mereka pun ikut Swab mandiri dengan biaya per org Rp 1,6 juta dan satupun tidak ada yang positif. Termasuk pembantu di rumah. Aku juga sangat berkeyakinan ini masuk angin (sewaktu dikerok sudah kehitaman) dan asam lambung tidak beres.

Tapi rupanya karena RSB memang sebagai salah satu RS rujukan Covid, ya kalau ada yang dicurigai paru-parunya pasti arahnya jadi suspect dan harus isolasi mandiri.

Dan bagi aku, secara psikis, makin bikin lemas karena, aku disatukan dengan pasien lain, obat dan infus terlalu banyak membuat jantungku berdebar-debar, nggak karu-karuan, tak ada air panas, jangankan buat mandi buat minum saja harus ambil sendiri keluar. Toiletnya juga toilet umum di luar kamar. Sesekali memang dilayani.

Dan aku dengar, anakku disuruh tanda tangan ini itu untuk memenuhi aturan isolasi mandiri Covid. Bahkan kalau memburuk ya dimakamkan langsung dari situ, tak boleh dilihat atau dijenguk, sama sekali baik selama dirawat apalagi kalau memburuk. Ngeri sekali. Menangis dan berdoa anakku disodorkan form itu.

Semua panik seperti bingung. Karena semua tak percaya aku terinfeksi, masalahnya adalah lambung tapi terlalu jauh sudah digarap. Aku tak pernah demam, batuk pun saat itu tidak. Oksigen pun jarang aku pakai. Aku hanya ngeri yg di sebelahku itu batuknya parah kedengarannya.

Aku sangat berkeyakinan dan merasa ini banyak angin di paru-paru dan perut. Karena beberapa hari sebelum dirawat aku cari-cari udara dan menghirup dalam-dalam hutan Buperta dan Kebun Raya Bogor. Jadi ya pastilah kalau dirontgen ada Pneumonia. Aku sebenarnya ingin diuap supaya lendir bisa keluar tapi tak kesampaian. Sudah keburu ditangani dr BPJS ke Dinkes sesuai protokol. Aku jadi pasrah. Lemas.

Berkali-kali aku baca, beda sekali gejala batuk Covid dan batuk yang aku alami. Tapi, ya namanya jaman edan pandemi, asal ada batuk pasti sudah dicurigai Covid. Dan parahnya, orang-orang jadi nganggap aku pasien Corona. Duh!

Suster-suster RSB sebenarnya ramah-ramah tapi mungkin karena prosedur penanganan pasien Covid maka, isolasi mandiri benar-benar mandiri mengurus diri sendiri. Ketika minta air panas disuruh beli termos, ketika minta pispot pipis karena nggak kuat bulak balik ke luar ruangan, disuruh beli pampers. Padahal aku hanya seperti lemas tak berdaya karena obat dan infus terlalu kuat dan bikin tak tahan. Ya, aku maklum, ini ternyata yang namanya isolasi mandiri.

Sebagai wartawan yang pernah bertugas di Kota Depok, aku teringat, untuk minta bantu ke pengurus Depok Media Center (DMC).

Setelah dibantu pengurus DMC, pihak RSB melalui humasnya, ibu Mawar banyak membantu aku dan selalu merespon positif setiap aku komplain. Terima kasih bu Mawar yang akhirnya membuat aku bersemangat untuk sembuh.

Hari ke-5 aku sudah merasa psikis, tidak nyaman, jantung kencang (bukan sesak karena batuk), tidak mandi-mandi selama 5 hari dan setiap habis makan obat dan infus rasanya malah makin tidak nyaman. Banyak obatnya tak kumakan. Ku simpan saja. Tiga malam berturut setelah infus aku tidak bisa tidur-tidur.

Akhirnya aku bilang sama abangku Simson tolong beritahu Ketua Pembina DMC Rusdy Nurdiansyah, bila memang harus nunggu Swab ke-2 kali sesuai aturan Dinkes, tolong pindah kamar.

Hari keenam, Minggu, 16 Agustus 2020, tiba-tiba, Dr. Anna, Sp Paru visit, dan bilang hasil cek lab semua makin baik. Terus siang itu juga aku dirontgen sekali lagi dan di Swab. Lalu, dikatakan sudah boleh pulang untuk isolasi mandiri di rumah, dikasih obat-obatan.

Tak ada lebih bahagia dari apapun pada saat itu karena aku boleh pulang ke rumah. Dan malam itu juga aku tidur nyenyak di rumah setelah mandi air hangat.

So far, selama di rumah aku sangat merasa semua, baik lambung maupun batuknya, sudah jauh lebih baik. Semua obat yg dikasih betul-betul aku makan semua sesuai petunjuk. Tak ada lagi yang bikin dug dug denyut jantung kencang.

Sekali lagi, aku sangat berterima kasih bisa pulang ke rumah dan sudah isolasi mandiri sampai Senin 24 Agustus 2020, sudah 9 hari.

Puji Tuhan, hasil swab ke-2, pada Senin 24 Agustus 2020, hasil Swab, aku negatif Covid.

Maaf, aku baru berkabar langsung ke DMC pada Senin 24 Agustus 2020, setelah keluar dari RSB sejak 16 Agustus lalu. Aku opname dari tanggal 11-16 Agustus 2020 di RSB Margonda Depok.

Semua keluarga sangat bersyukur. Terutama anakku Goldy. Lalu, ingin bilang terima kasih ke pengurus DMC, terutama ke Ketua Pembina DMC Rusdy Nurdiansyah dan Humas RSB ibu Mawar.

Demikian, ternyata peran DMC di Depok memang sangat luar biasa. Salam sehat dan makin sukses untuk semua pengurus DMC, teman-teman wartawan di DMC. Terima kasih untuk Humas RSB ibu Mawar serta para staf medis, perawat, dokter dan manajemen RSB Margonda Depok.

Pengalaman ini, saya tulis untuk sekiranya memotivasi kita semua untuk bersemangat sehat dan bahagia serta profesional dalam bekerja dan saling membantu dalam kebaikan. Aku jg mohon maaf bila ada yg kurang berkenan selama aku dirawat.

Salam Sehat, Bahagia dan Terima Kasih DMC serta RS Bunda Margonda

Demikian
Cisalak, 24 Agustus 2020

Rina Ginting
Wartawan Senior

 97 total views

LEAVE A REPLY