Afifah Alia Bukan Sofia Latjuba

0
130

Nama Afifah Alia mulai dikenal di masyarakat Kota Depok karena muncul sebagai calon wali kota dalam perhelatan di Pilkada Depok 2020.

Wajah wanita kelahiran Jakarta 16 November 1975 ‘bertebaran” di setiap jalan yang terpampang di baliho berukuran 5 x 10 meter.

Hijab yang serasi dengan senyum manisnya terlihat cantik dan modis membuat penasaran wartawan senior Hendrata Yudha untuk menguliknya. Ekspetasinya pudar tak kala melihat langsung sosok Afifiah di acara Depok Media Center (DMC) dengan penampilan sederhana, tanpa meke up dan wajah keibuan.

Mungkin, saat itu langsung muncul ‘jurnalistik liar’ Hendrata Yudha (suhu saya di bidang penulisan jurnalistik) yang dengan cerdas mengambil sisi lain dari pemberitaan yang dipahami pasti ingin diketahui masyarakat dan jadi polemik pro dan kotra. Sekaligus filosofi kritik yang cukup dalam, tak hanya perlu disikapi Afifah, tapi juga calon lainnya dan para pejabat untuk tampil jujur apa adanya.

Afifah Alia bukan Sofia Latjuba, artis era 90-an yang saat ini masih cantik dan seksi. Mau diapain aja tetap cantik, baru bangun tidur dan belum mandi tetap cantik. Dan itu, mungkin menjadi ‘cita-cita semua wanita dapat awet cantik seperti Sofia Latjuba hingga jelang usia kepala lima.

Begitu juga Afifah, tak dipungkiri lagi bahwa setiap wanita ingin selalu tampil cantik. Mereka akan selalu merias wajah agar terlihat cantik dan menarik. Disitulah sebuah kejujuran seorang wanita.

Lalu, apa yang salah dari wajah Afifah yang terlalu cantik terpampang di baliho dan dibandingkan dengan foto Afifah yang di jepret tanpa make up berlebihan menjadi foto berita?. Keduanya, tidak ada yang salah. Mungkin yang salah karena dibandingkan saja. Faktanya, memang Afifah tak secantik di baliho, tapi masih terlihat cantik jika tampil dengan polesan sedikit make up dan Afifah dengan jujur tampil tanpa make up bertemu dengan wartawan.

Di group DMC ini, setidaknya ada 3 fotografer senior yakni M Soleh (Fotografer Media Indonesia), Firman Wibowo (Fotografer Bisnis Indonesia) dan Hendra Lesmana (Fotografer Profesional/Mantan Fotografer Antara). Sedangkan saya sendiri, pernah bertugas menjadi riset foto dan fotografer di Republika selama lima tahun. Mohon ijin para suhu fotografi, saya mencoba menganalisa penampilan foto Afifah.

Menurut saya, kunci dalam hasil sebuah foto tidak akan pernah sama dengan aslinya. Itu juga berlaku pada foto potrait. Terkait dengan foto Afifah, itu merupakan foto potrait untuk kebutuhan promosi atau iklan.

Dibenak fotografernya sudah ada kosep menjadikan Afifah lebih cantik dari aslinya, termasuk untuk pemilihan make up, harmonisasi dari warna baju serta hijabnya. Tentu, “haram’ hukumnya dalam kode etik fotografi membuat cantik model foto dengan editan merubah struktur wajah yang tak wajar, seperti banyak tersedia di era IT sekarang aplikasi mempercantik atau membuat ganteng wajah.

Pengambilan foto untuk kepentingan promosi, diimbangi dengan teknik fotogarafi dengan menggunakan kamera SLR, diafragma, lensa fix dan pencahayaan yang pas yang menghasilkan bokeh yang lebih “creamy” dan soft, terpisah dari background dan seperti timbul dari foto. Dipastikan, foto dihasilkan oleh tim fotografi dan tata rias di studio foto.

Untuk hasil fotografi jurnalistik, juga ‘haram’ mengedit struktur wajah dan tubuh. Harus hasil karya foto tanpa editan dan dengan hanya sedikit memperbolehkan koreksi pencahayaan serta koreksi warna dengan penggabungan yellow, cyan dan magenta. Selain tentu kemampuan teknik fotografi diafragma, speed, pencahayaan, penggunaan lensa dan angle tentunya, menjadikan sebuah foto yang memiliki kemampuan untuk menunjukkan emosi, gairah, narasi, gagasan serta pesan. Semua itu adalah elemen-elemen penting dari aktifitas “bercerita” nya sebuah karya foto.

Terkait foto tersebut untuk kepentingan Pilkada, apakah melanggar aturan?. Tidak ada peraturan KPU yang melarang penampilan foto terbaik jadi brand yang dipampang di baliho, bahkan di surat suara. Tidak dijelaskan juga secara detail dalam undang-undang.

Yurisprudensi pernah terjadi saat Calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB) Evi Apita Maya yang digugat caleg pesaingnya Farouk Muhammad yang mempersoalkan foto rekayasa atau editan yang dinilai terlalu cantik dan tidak sesuai dengan kenyataan ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Juli 2019 lalu.

Menurut Evi, setiap calon pemimpin yang ingin menampilkan identitasnya di depan umum untuk dikenal dinilainya pasti menampilkan foto terbaik. “Termasuk saya yang tampil ingin ikut kontestasi, wajar dong saya. Masa saya foto bangun tidur. Wajar. Perlulah saya dandan sedikit, asal tidak berlebihan atau merubah struktur wajah,” tuturnya.

Hasil putusan, MK menolak gugatan terhadap Evi dan bagi KPU akan menjadikan kasus tersebut sebagai bahan evaluasi dan akan membuat aturan untuk mewajibkan melampirkan pas foto tanpa editan sebagai syarat berkas pencalonan.

Afifah Alia bukan Sofia Latjuba. Dengan sedikit polesan make up dan dengan Inner beauty yang dimiliki setiap wanita, Afifah tetap cantik kok.

Rusdy Nurdiansyah
Wartawan Republika/Ketua Pembina Depok Media Center (DMC)

 129 total views

LEAVE A REPLY