Wartawan Jangan Netral

0
51

Wartawan Jangan Netral
Oleh: Rusdy Nurdiansyah

Keren komentar Vini (Wartawan Warta Kota) bertajuk Jurnalisme vs Perut. Patut di contoh wartawan lainnya untuk berani berpendapat dengan tulisan. Walaupun ada yang sependat dan ada juga yang tidak. Tapi, itu tidak penting, yang penting tetap jaga kekompakan sesama wartawan, jangan mudah di adu domba hanya untuk kepetingan sesaat.

Terkait momen Pilkada Depok 2020 yang memunculkan 2 calon pasangan (Paslon), Pradi-Afifah dan Idris-Imam, sudah dipastikan akan juga memunculkan 2 pandangan berbeda dari kacamata masing-masing. Pemberitaan juga menghiasi 2 angle berbeda.

Dalam situasi head to head seperti ini, media yang profesional akan mengambil pilihan untuk menyajikan berita berimbang, bukan netral.

Saya pernah ditugaskan dalam Darurat Militer Aceh pada 2003, Republika menugaskan saya di pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sedangkan rekan saya ditugaskan di pihak TNI. Jadilah berita yang berimbang yang selanjutnya pembacalah yang menilai dan menentukan kebenaran yang disajikan.

Dan, dalam perhelatan Pilkada Depok 2020, Republika juga akan menerjunkan 2 jurnalisnya untuk ‘berpihak’ ke masing-masing Paslon. Lalu disajikan berimbang dan masyarakatlah yang menentukan pilihannya.

Pengalaman selama 30 tahun bergelut di dunia pers, telah mengajarkan saya bahwa tidak ada wartawan dan media yang netral atau tak berpihak. Tapi, yang harus dipegang teguh adalah independensi wartawan dan media diatas kebenaran yang hakiki dengan taat pada kode etik jurnalistik.

Saat ini telah terjadi perubahan di dunia jurnalisme. Wartawan dan media disituasi tak terkontrol menuju senjakala dan itu bukan hanya milik koran-koran namun juga media online, karena sesungguhnya yang bisa membunuh sebuah media hanyalah wartawan dan media itu sendiri.

Bila jurnalis tidak lagi mampu menjadi obor atau sumber pencerahan bagi informasi masyarakat maka semua media akan mati suri bahkan bukan tidak mungkin mati sesungguhnya.

Jurnalis harus terus menjadi sarana memilah informasi dan jangan sampai menjadi penyesat informasi. Khususnya jurnalis profesional yang sudah mengetahui kode etik jurnalistik dan paham bagaimana menulis berita yang objektif haruslah bisa mengambil peranan penting menyelamatkan media dari senjakala.

***

Seseorang mendesak saya, sebagai wartawan senior agar memberi contoh yang baik mengenai kenetralan saya dalam perhelatan Pilkada Depok 2020. Saya akui bahwa saya tidak pernah netral sejak Pilkada Depok pertama kali di gelar pada 2005.

Menurut saya, wartawan itu tidak boleh netral, yang benar itu adalah harus independen. Justru wartawan harus berpihak, masalahnya kita harus berpihak kemana?

Sikap netral dalam diri seorang wartawan itu sangat berbahaya karena netral menunjukkan seorang jurnalis tidak tahu bagaimana harus menempatkan diri.

Bahaya sikap netral ini misalkan bila ada yang korupsi maka sang wartawan tidak tahu bagaimana harus mengambil tindakan sehingga korupsi pun terus bertumbuh subur.

Jangan mau menjadi wartawan netral karena netral artinya tidak memiliki sikap dan tidak berpendirian. Alih-alih bersikap netral, tapi membuat ketidaktahuan apa yang akan di tulis. Jangan jadi wartawan tapi tidak tahu isi tulisan yang ditulisnya.

Sikap netral kelihatannya memang bagus namun ternyata sangat berbahaya. Netral bisa didefinisikan berpihak kepada semua atau tidak memihak sama sekali.

Sikap netral ini juga tidak baik karena menunjukkan tindakan sulit menilai mana yang hitam, putih, dan abu-abu sehingga tidak bisa mengambil tindakan.

Jurnalis harus bersikap independen dan harus berpihak. Netral tidak sama dengan independen. Masalahnya kita berpihak kemana? Haruslah berpihak kepada nilai-nilai kebenaran universal.

Wartawan adalah ujung tombak informasi masyarakat sehingga dituntut harus memiliki keberpihakan kepada nilai-nilai yang kebenaran.

Bagaimana supaya wartawan bisa terus berpihak kepada kebenaran? Menurut saya, seorang wartawan harus pintar memilah suatu permasalahan dengan membuka mata dan telinga lebar-lebar. Wartawan juga harus memiliki mata hati yang jernih, tidak emosional, dan menggunakan pemikiran yang rasional.

***

Tudingan jelang Pilkada Depok 2020 bahwa saya tidak netral dan cenderung lebih banyak mengkritis Idris daripada Pradi.

Kebenaran dalam Pilkada Depok 2020, terjadi head to head petahana. Kritik saya kepada sosok Idris lebih kepada kepemimpinannya sebagai Wali Kota Depok dan terus saya lakukan konsisten sejak terpilih pada 2015.

Penentu kebijakan itu, wali kota tentu mendapat lebih banyak porsi untuk dikritik dibandingkan Pradi yang hanya sebagai wakil wali kota.

Saya yakin sebagian besar wartawan yang profesional dalam menulis akan berpihak untuk kepetingan masyarakat. Lima tahun Idris memimpin Kota Depok, tentu ada plus dan tak sedikit minus yang diberitakan wartawan menjadi penilaian masyarakat untuk cerdas menentukan pilihan, Idris atau Pradi.

Jurnalis harus berpihak kepada kebenaran dan keadilan. Jadi, Wartawan Jangan netral!

Rusdy Nurdiansyah
Wartawan Republika/Ketua Pembina Depok Media Center (DMC)

 49 total views

LEAVE A REPLY