Walikota Tak Mampu, Pradi Berhasil Lobi Hotel di Depok untuk Tampung Pasien Covid-19

0
537

www.depoktren.com–Melonjaknya pasien positif Covid-19 di menyebabkan penuhnya ketersediaan ruang perawatan di rumah sakit rujukan di Kota Depok.

Untuk itu, Wali Kota Depok Mohammad Idris mencoba mencari jalan keluar dengan alternatif hotel dijadikan tempat isolasi pasien positif Covid-19 bergejala ringan dan sedang. Namun, upaya tersebut tak membuahkan hasil. “Belum ada hotel yang bersedia untuk dijadikan tempat karantina pasien positif Covid-19 tak bergejala,” tegas Idris pada Selasa (15/9) lalu.

Hal tersebut, membuat Wakil Wali Kota Depok, Pradi Supriatna prihatin. Walau tidak masuk dalam Tim Gugus Tugas Perceapatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, Pradi berinisiatif untuk melobi penginapan dan hotel agar bersedia dijadikan tempat isolasi pasien positif Covid-19 bergejala ringan.

“Kita bisa sewa tempat penginapan atau hotel. Itu harus dilakukan, karena kita masih ada dana cadangan. Saya rasa dalam aturan dari Pemerintah Pusat mengenai anggaran, sudah begitu longgar terkait dengan penggunaan dana untuk penanganan Covid-19,” terang Pradi, Senin (21/9).

Pradi menegaskan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan tim gugus tugas untuk menindaklanjuti usulan tersebut sebagai upaya penanganan cepat menampung membludaknya pasien positif Covid-19. “Untuk hotel bisa digunakan untuk pasien dengan gejala ringan, tinggal kita lihat sarana pendukungnya. Saya akan lobi pengelola hotel dan penginapan,” tegasnya.

Upaya lobi-lobi calon Wali Kota Depok membuahkan hasil. Setidaknya ada dua hotel yang akhirnya bersedia menjadi tempat isolasi pasien positif Covid-19 bergejala ringan yakni Wisma Makara UI dan Hotel Sifaana. “Alhamdulillah, saya apresiasi pihak Wisma Makara UI dan Hotel Sifaana yang bersedia dijadikan tempat isolasi pasien positif Covid-19 bergejala ringan,” tutur Pradi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok Novarita mengatakan, Wisma Makara yang berada di Universitas Indonesia (UI), rencananya akan dijadikan tempat isolasi bagi pasien Covid-19 bergejala ringan. “Rencananya akan ditempatkan disana, saat ini sedang persiapan,” kata Novarita saat dihubungi, Selasa (22/9/2020).

Novarita melanjutkan, nantinya Wisma Makara akan seperti Wisma Atlet. Pasien yang berada disana akan disuplai obat-obatan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Untuk pengobatan sendiri, pasien akan diberikan berbagai macam vitamin untuk peningkatan daya tahan tubuh.

“Selama masa isolasi tentu ada suplai obat-obatan, pasien pun harus tenang agar tidak menjadi beban pikirannya,” lanjutnya.

Wisma Makara sendiri, lanjut Novarita, bisa dikatakan layak dan memenuhi persyaratan untuk ruang isolasi. Seperti memiliki ventilasi udara, bersih, kamar mandi didalam kamar. “Ada 60 kamar, dan tiap kamar akan diisi dua pasien,” tutup Novarita.

Pihak manajemen Hotel Sifaana, April mengatakan masih menunggu keputusan dari pihak Pemkot Depok dan sebenarnya telah mengajukan permohonan tersebut sejak empat hari lalu. “Dari PHRI Jawa Barat mengajukan ke kita, nah kita isi data-datanya bersedia gitu,” ucap April saat ditemui awak media pada Selasa (22/9/2020).

April mengatakan, alasan pihaknya mendaftar tak lain karena omset yang menurun sejak pandemi Covid-19 terjadi. “Ini dari manajemen, kita enggak bisa jawab. Mungkin juga kondisi sekarang ini kan sepi juga, mungkin kalau dipake itu ada pendapatanlah. Karyawan kita kan juga kan kena imbas karena sepi konsumen,” jelasnya

Dia berharap, dengan adanya kebijakan tersebut dapat membantu memulihkan perekonomian hotel.“Ya lah, sekarang ini kan kita rugi untuk operasional, bayar karyawan. Omset sudah turun jauh, hancur, okupansinya cuma 15 persen sekarang. Keterpurukan itu terjadi sejak Januari. Ya, Januari, Februari masih mending. Tapi kesananya sudah hancur. Maret hingga Juli kita tutup,” keluhnya.

Saat ini, lanjut April, pihaknya masih menunggu keputusan dari gugus tugas. Jika pengajuan itu dikabulkan, maka Hotel Sifaana bakal menyiapkan sebanyak 50 unit kamar tidur. Namun dengan catatan, yang bisa diterima hanyalah pasien dengan gejala ringan.

“Oiya kita gamau kalau yang berat, kita terima yang OTG itu kita masih berani mau, cuma memang APD (alat pelindung diri)-nya yang sulit. Yang jelas kita ikutin prosedur harus pake APD,” tegas April. (Rul/Papi Ipul)

 540 total views

LEAVE A REPLY