Depok Juara Covid-19 Oleh: Suryansyah

0
29

Depok Juara Covid-19
Oleh: Suryansyah

Cinta Ridwan Kamil terhadap Persib tak terhingga. Beragam cara dilakoninya. Tak hanya nazar plontoskan kepala. Telanjang dada pun ‘dijabani’. Sekalipun dihadapan Presiden Jokowi. Edan..!

Kang Emil – begitu dia disapa- bukan menantang. Spontan luapan kegembiraan. Dia larut dalam euforia. Persib juara!

Saya melihatnya dengan mata terpanah. Pun puluhan ribu mata di Stadion Bung Karno Senayan, Jakarta. Pada 18 Oktober 2015.

‘Pangeran Biru’ tampil paripurna. Sriwijaya FC diperdaya 2-0. Di laga pamungkas Piala Presiden. Zulham Zamrun jadi bintang idola. Dia donasikan 6 gol. Terbanyak di turnamen tersebut.

Kang Emil makin ‘menggila’. Tawanya begitu renyah. Teriakannya memecah langit. Dia larut bersama bobotoh. Semua itu terjadi mengalir begitu saja. Lepas.

Ketika itu Kang Emil menjabat Wali Kota Bandung. Perhatian terhadap warganya luar biasa. Bahkan dia dikenal pencinta Persib nomor satu.

Kini Kang Emil naik pangkat. Jadi Gubernur Jawa Barat yang membawahi 27 kabupaten kota. Luas wilayahnya: 35.377,76 km2.

Cintan Kang Emil mendadak berpaling ke Depok. Kota yang sepak bolanya datar-datar saja. Depok bukan Bandung, markas Persib. Mungkin malah lebih banyak Jakmania ketimbang Bobotoh. Maklum Depok lebih dekat di bibir Jakarta.

Tapi cinta kang Emil terhadap Depok berbeda. Bukan karena sepak bola. Bukan lantaran Persikad yang akan berlaga di Liga 3. Tapi ini: Depok juara covid-19!

Data pikobar, Senin (5/10), Depok memimpin di puncak klasemen. Tercatat 4.898 kasus positif, 3.363 sembuh, dan meninggal 141. Kota Bekasi di posisi kedua dan menyusul Kabupaten Bogor.

“Hari ini kita membawa banyak bantuan, semata-mata karena cinta kepada Kota Depok,” kata Ridwan Kamil.

Kang Emil mulai berkantor di Depok pada Jumat (2/10). Dia memantau pelaksanaan pencegahan virus Corona (Covid-19). Kota Depok saat ini berstatus zona merah. Tugas Kang Emil mendegradasikan Depok dari puncak klasemen covid-19. Bukan sekadar mengeluarkan dari zona merah.

Masih ada bukti lain cinta Kang Emil pada Depok. Bukan hanya memaksimalkan koordinasi dalam penanganan pandemi global COVID-19. Kang Emil juga meninjau fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes). Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kota Depok dan Rumah Sakit (RS) Citra Medika Depok.

Kang Emil juga datang membawa ‘ole-ole’. 6 unit ventilator dan alat kesehatan untuk 6 rumah sakit di Kota Depok. Yakni RSUD Kota Depok, RS Meilia Cibubur, RSU Bunda Margonda, RS Hermina, RSU Hasanah Graha Afiah (HGA), dan RS Sentra Medika Cisalak.

Pokoknya lengkap. Kang Emil juga bawa rapit test antigen 3.000 pcs, rapid test antibodi 2.000 pcs, lancet 23G 2.000 pcs, sarung tangan 400 pcs, safety box 40 pcs, APD coverall 500 pcs, Oseltamivir 10.000 tab, dan UTM 2.000 pcs.

Tapi cinta Kang Emil ditafsirkan berbeda. Anggota DPR RI, Mahfudz Abdurrahman, misalnya. Kader PKS ini ‘mencium’ aroma politik. Maklum, Desember nanti digelar Pilkada serentak. Termasuk di Depok. Menurutnya Kang Emil tak perlu ngantor di Depok.

Sah-sah saja berpendapat. Tergantung dari sudut mana memandang. Saya justru melihat kebalikannya. Saya analogikan Kang Emil sebagi orang tudan dan Depok anaknya.

Ini bentuk kasih sayang dari seorang bapak terhadap anaknya. Orang tua patut membimbing anaknya. Apalagi anaknya tengah menghadapi ‘masalah’ besar.

Buktinya: 11 kecamatan di Kota Depok, sudah terkepung virus corona. Tertinggi di Kecamatan Cilodong dengan 174 kasus positif. Diikuti Kecamatan Cimanggis 173 kasus.

Ini indikasi kegagalan Wali Kota Depok sebagai Kepala Gugus Tugas. Belum mampu membendung angka penambahan kasus baru positif. Pun penemuan baru dari OTG (Orang Tanpa Gejala).

Sebagai daerah penyangga Kota Jakarta dan perbatasan dengan Bogor- pintu keluar masuk Kota Depok patut diperketat. Tidak cukup dengan himbauan lewat surat edaran.

Saya melihat Kampung Siaga tidak maksimal. Masih banyak warga yang tidak patuh. Tidak memakai masker. Kongkow kongkow di pusat keramaian. Butuh tim khusus dan serius untuk memantau pergerakan warga.

Disiplin memang menjadi kunci utama pencegahan dan penyebaran. Tapi, ketegasan seorang pemimpin mutlak dibutuhkan. Apalagi saat ini petahana tengah cuti untuk Pilkada 2020. Meski ada petugas Gugus Tugas tapi raung geraknya tidak maksimal.

Anda ingin membantu mengurangi atau menambah kasus baru Covid-19? Tergantung diri Anda. Ada beberapa hal yang patut diketahui. Biasakan hidup bersih dan sehat. Menerapkan physical distancing. Jangan lupa pakai masker!

Menurut Prof. Wing-Hong Seto, guru besar Hong Kong University dan Wakil Direktur Pusat Kolaborasi WHO, pemakaian masker yang tepat adalah dengan menempatkan bagian berwarna biru atau hijau di bagian luar karena bagian ini dilengkapi dengan material yang waterproof.

Dimana letak kegagalannya? Bukan untuk mencari kesalahan. Tapi, mari sama-sama evaluasi. Termasuk diri kita sendiri.

Covid-19 berdampak buruk pada kesehatan mental masyarakat. Berdasarkan survei Puslitbangkes Kemenkes pada 2020, sekitar 6,8 persen masyarakat Indonesia mengalami gangguan cemas. Dari angka tersebut, 85,3 persen di antaranya tidak memiliki riwayat gangguan psikiatri.

Itu lantaran masifnya informasi hoaks, stigma, sampai tingginya angka kematian. Belum lagi ketidakjelasan kapan covid-19 berakhir. Belum adanya vaksin, isu isolasi sosial, stigma, kehilangan pekerjaan, dan perubahan cara belajar mengajar, membuat masyarakat seperti dalam ‘penjara’. Disatu sisi mereka butuh nafkah.

Inlah kenapa Kang Emil harus berkantor di Depok. Semata karena cinta. Dia ingin ‘mendegradasikan’ Depok dari status sang juara.

Penulis: Suryansyah adalah Wartawan Olahraga TopSkor dan Pengelola Korannasional.com dan sekarang aktif sebagai pemerhati Kota Depok

 29 total views

LEAVE A REPLY