Tim Pengmas FIK UI Edukasi Risiko HIV/AIDS bagi 120 Siswa SMA

0
27

www.depoktren.com–Pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Indonesia, tidak menghambat para akademisi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) untuk menjalankan kegiatan pengabdian masyarakat (pengmas). Melalui program SHINTA dan Sadar HIV/AIDS antar Remaja, tim Pengmas FIK UI melakukan serangkaian kegiatan berupa pembentukan dan melatih 18 siswi SMA sebagai peer educator dan mengadakan seminar edukasi kesehatan kepada 120 siswa-siswi SMA.

Kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi remaja putri, pengetahuan tentang HIV/AIDS dan pencegahan penularannya, serta strategi mencegah perilaku negatif remaja.

Tim Pengmas FIK UI diketuai oleh Sri Yona, SKp., MN., PhD (Kepala Departemen Medikal Bedah), serta didukung oleh tim yang terdiri atas Prof. Elly Nurachmah MappSc., DNSc (Guru Besar FIK UI); Ns. Anggri Noorana Zahra, Skep., M.Sc dan Ns. Cut Sarida Pompey, S.Kep., MNS (Dosen Keperawatan Medikal Bedah FIK UI) selaku narasumber, dan Anita Rezeki Carolina; Arini Salsabila Ramadhani; Rama Adi Saputra (mahasiswa FIK UI) sebagai fasilitator.

Sri menuturkan, program pengmas kami menyasar kelompok remaja putri dengan rentang usia 15-24 tahun yang memiliki risiko terhadap penularan HIV/AIDS. Kami merasa sangat perlu untuk memberikan pengetahuan yang memadai tentang HIV/AIDS beserta upaya pencegahannya. Remaja putri juga mengalami pertumbuhan seksual lebih cepat dan lebih rentan terkena infeksi menular seksual (IMS) dibandingkan remaja putra. Di Indonesia, topik kesehatan reproduksi masih tabu.

“Remaja putri lebih memilih temannya sendiri untuk berdiskusi mengenai kesehatan reproduksi dibandingkan dengan orang tua mereka sendiri. Untuk itu, melalui program pengmas berupa pelatihan peer educator, dan program “SHINTA: Sadar HIV/AIDS”, siswi dapat berkomunikasi dengan baik tanpa rasa tabu, sungkan, dan jauh lebih terbuka, serta mampu menolak ajakan perilaku negatif dari lingkungan sekitarnya,” ujar Sri dalam siaran pers yang diterima Republika, Jumat (9/10).

Pembentukan dan pelatihan peer educator program SHINTA meliputi kegiatan focus group discussion (FGD), sesi edukasi dan diskusi interaktif tentang pengetahuan pubertas pada remaja, dampak pergaulan bebas dan HIV/AIDS, upaya menjadi remaja sehat dan role play keterampilan refusal skill dan cara mengatasi bullying.

“Sebanyak 18 siswa yang dilatih menjadi peer educator, berasal dari salah satu sekolah SMAN di Jakarta Timur, harapannya mereka dapat menjalankan upaya keberlanjutan program untuk mengedukasi teman sebaya. Lebih lanjut, kegiatan puncak pengmas SHINTA berupa seminar edukasi kesehatan online yang diikuti oleh sekitar 120 siswa-siswi SMA yang berasal dari sekolah di Jakarta, Depok, dan Serang. Seminar ini menghadirkan diskusi interaktif dengan narasumber dan roleplay dan penampilan dari siswi yang menjadi peer educator,” jelas Sri.

Semua rangkaian kegiatan ini mendapatkan dukungan dan sambutan yang baik dari pihak sekolah. Wakil Kepala SMAN 104 Jakarta Timur, Drs. Carusdi, MM, yang juga hadir dalam acara seminar tersebut menuturkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk membekali siswa menjadi remaja yang sehat dan bertanggung jawab. (Siska Thresia)

 27 total views

LEAVE A REPLY