PKS Tak Sekuat Era Nur, Diperkirakan Idris-IBH Terjungkal Memalukan

0
1296

www.depoktren.com–15 tahun Kota Depok dikuasai PKS. 10 tahun, Depok di pimpin Nur Mahmudi Ismali (NMI) dan 5 tahun di pimpin Mohammad Idris.

10 tahun, NMI membangun Depok dengan beragam program pembangunan yang cukup dirasakan seperti pembangunan jalan baru, betonisasi jalan dan menuai prestasi dalam program Unit Pengelolaan Sampah (UPS) serta One Day No Rice (ODNR).

Namun, 5 tahun Idris berkuasa, disibukan mendelate program-program NMI. ODNR dihentikan dan UPS tidak lagi menjadi prioritas mangatasi persoalan sampah. Tidak ada pembangunan jalan baru, tak terhindakan kemacetan terjadi dimana-mana.

Dan, itulah yang membuat perhelatan Pilkada 2020, kekuatan PKS Depok yang menjadi mesin pengusung Idris-Imam tak sesolid era Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismali (NMI).

Pasalnya, PKS saat ini sudah cerai-berai dan sosok petahana Mohammad Idris tak begitu disukai sebagian pengurus dan kader partai berlambang padi emas itu.

Kepemimpinan Idris dinilai telah menjalankan politik balas dendam terhadap NMI. Beragam program NMI di ‘bumi hanguskan’, diantaranya yang sungguh menyakitkan di hentikannya program unggulan ODNR, sehari usai pelantikan Idris menduduki kursi Wali Kota Depok pada Januari 2016.

ODNR, adalah sebuah program yang dicanangkan NMI demi menggalakkan diversifikasi pangan di wilayahnya. Program ODNR dikaji secara ilmiah dengan menelan dana milayaran rupiah ini dicanagkan sejak 2010 yang membuat NMI didaulat sebagai Wali kota teladan dan ODNR menjadi contoh wilayah lain.

Tidak hanya itu, Idris dengan tanpa belas kasihan, menghentikan program NMI lainnya yakni One Day No Car ( ODNC) dan mempersulit proyek-proyek pembangunan yang ‘berbau’ NMI, salah satunya seperti proyek Metro Starter di lahan bekas Terminal Depok.

Konon, infonya NMI sempat jatuh sakit dengan perbuatan Idris yang notabene anak didiknya itu, dengan harapan dapat melanjutkan program pembangunan yang sudah di jalankan sejak berkuasa pada 2006.

NMI dibuat Idris semakin ‘tak berdaya’, tak kala harus juga mengahdapi proses hukum dalam kasus Jalan Nangka yang diduga ada unsur korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Hingga saat ini, kasus Nangka Gate tersebut belum jelas penyelesaian hukumnya.

Ulah Idris terhadap NMI membuat gonjang-ganjing di internal PKS. Idris menempatkan orang-orang terdekatnya, salah satunya
Khoirulloh yang ujuk-ujuk jadi kader PKS dan terpilih menjadi anggota DPRD Depok.

Selain itu, dipilihnya Yusufsyah Putra menjadi Ketua DPRD Depok juga dianggap tidak lazim dalam pola kaderisasi partai. Kader PKS Supariyono dianggap lebih layak menduduki Ketua DPRD Depok karena sudah 4 periode menjadi anggota dewan.

PKS Depok dulu bukanlah yang sekarang. Saat ini banyak kader potensialnya yang hengkang dan rencananya pada pertengahan November akan mendeklarasikan Partai Gelora yang merupakakn besutan mantan petinggi PKS, Anis Matta dan Fahri Hamzah.

Seperti diberitakan, sebanyak 500 orang mantan kader dan pengurus PKS Kota Depok siap ‘benamkan’ pasangan calon (paslon) yang di usung PKS, Mohammad Idris-Imam Budi Hartono.

Dari ratusan orang tersebut juga terdapat kader PKS yang masih aktif yang memilih mendukung paslon Pradi Supriatna-Afifah Alia (Pradi-Afifah) dengan alasan tidak suka atas arogansi dan kesombongan kepemimpinan Mohammad Idris selama menjadi Wali Kota Depok.

“Tunggu timingnya, dalam waktu dekat ini, kami akan deklarasi mendukung Pradi-Afifah,” kata mantan Ketua Bidang Humas DPD PKS Kota Depok, Bram Bontas, Kamis (15/10/2020) lalu.

Bram yang juga pernah mejabat Ketua Tim Konten Idris-Pradi pada Pilkada Depok 2015 lalu itu mengutarakan, selain para mantan kader juga terdapat kader PKS aktif yang juga mantan pengurus PKS untuk mendukung Pradi-Afifah dari ‘balik layar’ dan siap ‘membenamkan’ Idris-Imam.

“Kader PKS nggak solid kok dukung Idris-Imam karena faktor pak Idris nya yang selama jadi Wali Kota Depok terasa kaku dan sombong. Untuk para kader PKS yang masih aktif akan secara diam-diam dan masif memenangkan Pradi-Afifah,” terangnya.

PKS Depok dulu bukanlah yang sekarang. Apalagi yang diusung di Pilkada yakni sosok Idris yang di internal partai sempat terjadi pro dan kontra. Idris-Imam yang hanya di dukung 18 kursi di DPRD Depok semakin tidak solid dengan tidak maksimalnya mesin partai pengusung lainnya yakni Demokrat dan PPP.

Tak berperannya, mantan Ketua PKS Depok, Prihandoko yang sempat jadi tim sukses Imam Budi Hartono (IBH) juga semakin memperkuat sinyalemen tidak solidnya PKS Depok dalam mendukung Idris-Imam.

Ditambah lagi, pejabat-pejabat ‘binaan’ PKS yang ada di Pemkot Depok pun sepertinya setengah hati mendukung Idris. Seperti dipertontonkan beberapa pejabat yang sempat bersitegang dengan Idris, salah satunya Sekda Depok, Hardiono yang kerap tak sejalan dengan Idris.

Paslon Idris-Imam akan berhadapan dengan Pradi Supriatna-Afifah Alia (Pradi-Afifah) yang secara dukungan lebih solid dengan dukungan 32 kursi di parlemen. Tentu diatas kertas Pradi-Afifah yang diusung Geridra, PDIP, Golkar, PKB, PAN dan PSI lebih unggul.

Banyak orang memperkirakan paslon Idirs-Imam akan terjungkal memalukan, dengan hanya memperoleh 30 persen suara saja saat memperebutkan kekuasaan di Kota Depok.

Nah, pembuktianya, tunggu hasilnya pada 9 Desember 2020. Datanglah ke TPS dan gunakan hak pilih untuk masa depan Kota Depok yang lebih baik.

*Catatan Ketua Pembina Depok Media Center (DMC), Rusdy Nurdiansyah*

 1,293 total views

LEAVE A REPLY