Hanya Butuh Waktu 3×24 Jam, Idris-Imam Unggul Sementara

0
135

Hanya Butuh Waktu 3×24 Jam, Idris-Imam Unggul Sementara
Oleh: Rusdy Nurdiansyah

Keajaiban Istambul. Begitulah gambaran yang disematkan dalam drama Final Piala Champions dalam pertandingan sepak bola AC Milan versus Liverpool di Stadion Ataturk Olympic, Istanbul, Turki, pada 2005.

Dibilang keajaiban karena dalam laga tersebut The Reds–julukan Liverpool yang tertinggal 0-3 di babak pertama sanggup menyamakan kedudukan (3-3), hanya dalam waktu 30 menit. The Reds keluar sebagai juara menjungkalkan Rossoneri-julukan AC Milan yang dijagokan dan menguasai permainan, setelah adu pinalti dengan hasil akhir 6-5 (3-3).

Ada Keajaiban Istanbul, ada juga keajaiban di Pilkada Depok yang disematkan dengan istilah Keajaiban KPK. Membandingkan dan coba di analisa apa yang terjadi dalam Pilkada Depok yang berlangsung 9 Desember 2020.

Sejak digulirkan tahapan Pilkada Depok, pasangan calon (paslon) Pradi Supriatna-Afifah Alia (Pradi-Afifah) sangat diunggulkan dan menguasai segala lini dibandingkan paslon Mohammad Idris-Imam Budi Hartono (Idris-Imam).

Paslon Pradi-Afifah didukung kekuatan besar partai yakni Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, PAN dan PSI serta beberapa partai non parlemen yakni partai pecahan PKS yakni Gelora Indonesia, Hanura, Perindo, Nasdem dan PBB. Sedangkan paslon Idris-Imam hanya didukung PKS, Demokrat, PPP dan satu kekuatan partai non parlemen yakni Berkarya.

Pradi-Afifah juga didukung sebagian besar ormas, tokoh agama, tokoh masyarakat, artis dan tokoh politik nasional sebut saja, Akbar Tanjung, Muhaimin Iskandar, Dedy Mizwar, Fahrie Hamzah, Anis Matta, Sandiaga Uno, Bima Arya, Dessy Ratnasari, Krisdayanti dan Andre Taulani. Sedangkan paslon Idris-Imam bisa dibilang ‘miskin’ dukungan ormas dan dikalangan tokoh cuma ada nama beken Rhoma Irama dan terakhir dukungan HRS yang sempat jadi ‘blunder’.

Dalam perjalanan kampanye, bisa dibilang paslon Pradi-Afifah lebih unggul segala-galanya, mulai dari blusukan kedua paslon, spanduk dan baliho terpampang dimana-mana hingga unggul pencintraan dan pembentukan opini media.

Tidak banyak yang dilakukan paslon Idris-Imam karena disibukan ‘menangkis’ serangan dari segala lini, mulai dari sorotan negatif ke PKS sebagai partai golongan dengan stigma Depok gagal 15 tahun berkuasa, Idris sebagai incumben yang dinilai gagal memimpin Depok dan Imam yang dinilai terlalu ‘pecicilan’ serta sempat was-was dengan kasus dugaan pelecehan terhadap lawannya Afifah.

Paslon Idris-Imam dipaksa terus bertahan dan hanya sekali-sekali keluar dengan serangan balik, isu adu ayam dan sorotan isu korupsi Lobster petinggi Gerindra. Bahkan, paslon Idris-Imam sempat ‘pincang’ tak kala Idris dinyatakan positif Covid-19 yang diharuskan menjalankan isolasi. Jadilah, Imam sendirian menghadapi paslon Pradi-Afifah.

Hingga Debat Publik KPU Depok terakhir, dimana Afifah jadi bintangnya, hampir semua survei mengungguli paslon Pradi-Afifah bekisar 54 persen hingga 60 persen.

Petaka muncul tak kala KPK membekuk Mensos Juliari P Batubara diduga korupsi Bansos jelang pencoblosan 6 Desember 2020. Kubu Idris-Imam melakukan serangan balik dengan cepat dan maksimal, tersebar foto Pradi-Afifah bersama petinggi PDIP tersebut serta tersebar meme korupsi Lobster Edy Prabowo (Gerindra) dan korupsi Bansos Juliari (PDIP) dengan masif.

Perlahan tapi pasti kubu Idris-Imam terus bergerak di dua hari tersisa dengan kencang memainkan isu dua kasus petinggi partai pengusung utama Pradi-Afifah tersebut serta yang mengejutkan para anggota DPRD Depok pengusung Idris-Imam menggelar proyek perbaikan jalan lingkungan di 64 kelurahan di saat hari tenang pada 7-8 Desember 2020.

Vox populi, vox dei. Suara rakyat, suara tuhan. Suara rakyatlah yang akan menentukan hitam dan putihnya panggung politik atau yang menentukan hasil dari kontes politik.

Dan, sebelum KPK menghukum kedua tersangka kasus korupsi Lobters dan Bansos, warga Kota Depok terlebih dahulu ‘menghukum’ Pradi-Afifah.

Hanya butuh waktu 3×24 jam, paslon Idris-Imam membalikan keadaan untuk unggul sementara hasil hitungan cepat (quick count) dari lembaga survei Voxpol Center yang ditayangkan Kompas TV dengan raihan 55,57 persen dan Pradi-Afifah meraih 44,43 persen. Namun, keputusan finalnya akan disampaikan KPU Depok pada 15 Desember 2020. Tentu, Pradi-Afifah berharap ada keajaiban.

Debat sengit dari dua pemikiran dukungan di group WA Depok Media Center (DMC) menunjukkan kedewasaan berdemokrasi, walaupun dalam perjalanan ada yang belum siap mental dan memilih keluar dan itu merupakan bagian dari suatu proses pembelajaran dalam berdemokrasi.

Untuk rekan wartawan Rahmad Tarmuji, Andi Sopandi dan Wahyu Saputra dengan pemikiran dukung Idris-Imam agar terus pertahankan cara berbeda pendapat yang sehat dan profesional dalam berdemokrasi serta rekan-rekan wartawan yang masih di DMC telah menunujukan kematangan dan kedewasaan berdemokrasi sebagai wartawan di Kota Depok.

Pilkada menghasilkan kemenangan untuk semua warga Kota Depok. Yang penting, “Menang Ora Umuk, Kalah Ora Ngamuk”.

Penulis:
Rusdy Nurdiansyah
Wartawan Republika
Ketua Pembina Depok Media Center (DMC)

 133 total views

LEAVE A REPLY