Seminar Awam Bicara Sehat RSUI ke-35, COVID-19 Update, Kondisi Terkini dan Vaksinasi

0
74

www.depoktren.com–RSUI kembali menggelar rangkaian seminar awam dengan tajuk utama: “COVID-19 Update: Kondisi Terkini dan Vaksinasi”, Jumat (15/1/2021).

Sejak kasus pertama di Indonesia, yang dilaporkan pada awal Maret 2020, pandemi COVID-19 masih memperlihatkan kurva peningkatan baik kasus maupun kematian akibatnya. Selain itu, saat ini juga sedang ramai diperbincangkan terkait Vaksin Sinovac COVID-19 yang telah mendapatkan izin dari Badan POM dan direncanakan akan diberikan sesuai dengan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah. Apa saja informasi ter-update saat ini tentang virus dan penyakit Covid? Lalu apa yang perlu kita siapkan saat nanti vaksin telah siap?

Diharapkan melalui penyelenggaraan Bicara Sehat ini dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait COVID-19 dan lebih mengenal vaksinnya. Seminar ini dimoderatori oleh Meilisa Rahmadani, SKM, MKKK yang merupakan Kepala Unit K3 di RSUI.

Narasumber pertama yaitu dr. Ardiana Kusumaningrum, Sp.MK yakni seorang dokter spesialis mikrobiologi klinik yang merupakan Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dokter Ardiana membawakan materi dengan tema “Data dan Fakta Terbaru Seputar Virus COVID-19”. Dokter Ardiana mengawali materi dengan menjelaskan struktur dari virus SARS CoV-2 yang menjadi penyebab dari Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

“Virus ini awalnya menginfeksi pada hewan yang akhirnya menularkan ke manusia. SARS CoV-2 berasal dari ‘jalur keturunan’ yang sama dengan virus penyebab SARS, namun secara genetik jauh berbeda. COVID-19 memiliki perjalanan penyakit yang less severe, tapi memiliki kemungkinan transmisi yang lebih tinggi. Seiring berjalannya waktu, sering dibahas terkait mutasi pada SARS CoV-2.” ujar dr. Ardiana

Lebih lanjut, Dokter Ardiana mengatakan sejak Januari 2020 hingga Desember 2020 terdapat beberapa varian dari SARS CoV-2 yaitu sebanyak tujuh varian yang tersebar di beberapa daerah di dunia. Selain itu, banyak pula laporan kasus terkait fenomena mutasi, salah satunya di Inggris. Mutasi alami terjadi, namun untuk SARS CoV-2 belum terdapat bukti ilmiah yang menyatakan bahwa mutasi baru membuat virus ini menjadi lebih ganas atau menyebabkan sakit lebih berat. Hanya saja varian baru lebih cepat menular dengan laju 50-74% lebih cepat dari varian sebelumnya. Di akhir dokter Ardiana berpesan untuk tetap menerapkan 3M untuk mencegah penularan virus ini.

Narasumber kedua yaitu dr. Irandi Putra Pratomo, Ph.D, Sp.P(K), FAPSR yakni seorang dokter spesialis paru di RSUI yang juga merupakan Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dokter Irandi juga merupakan Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 di RSUI. Beliau membawakan materi dengan tema “Kondisi Terkini COVID-19”.

Dokter Irandi mengawali materi dengan menampilkan sejumlah grafik yang menunjukkan kenaikan kasus COVID-19 dan belum ada tanda-tanda grafik akan menurun.

“Kelompok umur yang paling banyak menderita COVID-19 yaitu usia produktif, namun yang lebih banyak meninggal dunia yaitu pada kelompok lansia.” ujar dr. Iranadi.

Lebih lanjut, Dokter Irandi menjelaskan beberapa kondisi dimana transmisi COVID-19 dapat lebih menular, yaitu ruangan yang sempit dan tertutup tanpa ventilasi serta keadaan tanpa masker. Pada beberapa pasien COVID-19 dalam beberapa penelitian mengalami efek samping atau komplikasi, diantaranya yaitu adanya kerusakan saraf.

Dokter Irandi juga menyampaikan terkait tantangan saat ini diantaranya masih banyak beredar hoax terkait COVID-19 (ada anggapan bahwa Virus Corona merupakan senjata biologis yang dibuat oleh suatu negara, mencuci tangan boleh pakai air saja, menjemur barang-barang di bawah sinar matahari selama 30 menit dapat menghilangkan virus padahal seharusnya masih perlu untuk didisinfeksi, dll). Hal ini disebabkan masih rendahnya literasi dan kesadaran kesehatan masyarakat Indonesia.

Terkait vaksin, banyak pula orang yang beranggapan bahwa vaksin dapat menjadi peluru perak (silver bullet) satu-satunya dalam menghadapi COVID-19. Dokter Irandi berpesan untuk tidak melupakan 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas). 5M ini sangatlah efektif untuk mencegah COVID-19.

Narasumber ketiga yaitu dr. Alvina Widhani, Sp.PD-KAI yakni seorang dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi di RSUI yang juga merupakan Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dokter Alvina membawakan materi dengan tema “Peran Vaksinasi dan Perkembangan Vaksin COVID-19”. Dokter Alvina mengawali materi dengan memaparkan diagram tentang bagaimana proses infeksi terjadi pada seseorang.

“Seseorang dapat terienfeksi karena interaksi 3 faktor, yaitu karakteristik individu (genetik, respon imun tubuh, usia, adanya penyakit penyerta), lingkungan (ventilasi, sanitasi, suhu/kelembaban), dan patogen (mikroorganisme, mutasi, jumlah, virulensi). Karena COVID-19 merupakan penyakit akibat virus, kekebalan tubuh sangatlah penting mengingat tidak banyaknya antivirus yang tersedia (tidak seperti bakteri yang banyak tersedia antibiotik). Interaksi antara daya tahan tubuh dan virus nantinya akan menentukan apakah nantinya tubuh akan sembuh atau malah makin memburuk. Vaksin dapat memberikan respon kekebalan tubuh yang spesifik.” papar dr. Alvina.

Lebih lanjut, dr. Alvina mengatakan bahwa vaksinasi tergolong dalam imunitas aktif yang biasanya dapat bertahan selama beberapa tahun atau bahkan bisa sepanjang hidup. Pada orang yang sudah terinfeksi COVID-19 diharapkan sudah memiliki memori kekebalan tubuh, sehingga jika suatu saat terinfeksi kembali tubuh sudah kebal.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa memori kekebalan tubuh terhadap COVID-19 berkisar 8 bulan (namun masih diperlukan penelitian-penelitian lainnya). Dengan diberikan vaksin diharapkan tubuh dapat membentuk memori kekebalan tubuh tanpa harus terinfeksi virus terlebih dahulu. Dengan pemberian vaksin, diharapkan pula dapat terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok yang dapat menurunkan angka penyebaran antar orang dan individu yang tidak divaksin juga mendapatkan manfaat.

Vaksin COVID-19 yang saat ini siap diberikan termasuk dalam tipe vaksin mati/inaktivasi. Pengembangan vaksin COVID-19 bisa lebih cepat karena pengetahuan sebelumnya tentang virus ini dan kekebalan tubuh terhadapnya sudah ada, penggunaan teknologi baru, serta beberapa aktivitas dilakukan paralel.

Antusiasme masyarakat cukup tinggi terhadap kegiatan ini, dengan jumlah peserta sebanyak 230 orang. Banyak peserta yang mengajukan pertanyaan seputar tema yang tengah dibahas. RSUI berharap kegiatan Seminar Awam Bicara Sehat Virtual ini dapat terus hadir sebagai salah satu upaya promotif dan preventif kepada masyarakat luas. Untuk mendapatkan informasi terkait pelaksanaan seminar Bicara Sehat selanjutnya dapat dipantau melalui media sosial RSUI.

Tayangan ulang seminar ini dapat disaksikan pada kanal YouTube RSUI https://youtu.be/0Qle0eMlJK8

(Siska Thresia)

*Humas RSUI*

 42 total views

LEAVE A REPLY