Metro Stater Mangkrak Sudah 6 Tahun, Batalkan dan Sebaiknya Dibangun Masjid

0
89

www.depoktren.com–Mega proyek Super Blok Metro Stater sudah 6 tahun mangkrak tidak ada pembangunan. Saat ini, lahan ex Terminal Margonda seluas 2,6 hektar milik Pemerintah Kota (Pemkot) Depok itu ditumbuhi alang-alang dan pepohonan yang cukup rimbun.

Tidak ada tanda-tanda telihat pengerjaan dan pekerja proyek pembangunan super blok apartemen dan mal terbesar di Kota Depok itu. Bahkan lokasi lahan disebelah ITC di Jalan Margonda itu tampak kumuh dan dikwatirkan akan menjadi sarang ular.

Warga Kota Depok berharap sebaiknya Wali Kota Depok membatalkan proyek yang dinilai lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya bagi warga. “Proyek Metro Starter ini, terkesan Pemkot Depok menjual diri untuk kepentingan komersial, padahal mal dan apartemen di Kota Depok sudah banyak, buat apa lagi nambah mal dan apartemen. Yang ada saja banyak mal yang tutup dan banyak apartemen nggak laku,” ujar Ketua Pembina Depok Media Center (DMC), Rusdy Nurdiansyah, Sabtu (20/2/2021).

Ia menambahkan, apalagi banyak keberadaan apartemen yang tidak laku akhirnya dijadikan hotel jam-jaman untuk kegiatan prostitusi dan juga narkoba. “Lebih banyak madharatnya daripada kemanfaatan bagi warga. Lebih baik dibangun masjid dan taman kota. Pasti lebih bermanfaat dunia dan akherat,” tutur Rusdy yang juga wartawan senior Republika ini.

Indahnya Masjid Zamzam Towers jika terwujud. Zamzam Towers pernah berencana membangun masjid di Jalan Margonda, namun sayang batal tak mendapat dukungan Pemkot Depok.

Menurut Rusdy, Wali Kota Depok tidak perlu malu dan takut membatakan kontrak dengan Metro Stater. Bahkan, harus bangga karena Wali Kota Depok mampu mengendalikan hawa nafsu duniawi untuk kebermanfaatan yang lebih baik bagi warga kotanya yang berikon Kota Relijius dengan membangun masjid di Jalan Margonda. Sepanjang 6,5 Km Jalan Margonda hanya terdapat satu masjid kecil di Pertigaan Ramanda.

“Sebagai Depok Kota Relijius, akan lebih lengkap lagi jika ada situs masjid raya di Jalan Margonda yang dibanggakan warganya. Selain Kota Depok juga dijulukin Kota Sejuta Maulid juga wali kota nya seorang kiyai dan Ketua DPRD nya seorang ustadz,” jelasnya.

Metro Stater digarap PT Andyka Investa, anak perusahaan Trivo Group, mendapat dukungan penuh dari Pemkot Depok, Departemen Perhubungan dan PT Kereta Api Indonesia.

Penampakan alat-alat berat terongok di dalam lokasi proyek pembangunan Metro Stater

Proyek Metro Starter berdiri di lahan seluas 2,6 hektar milik Pemkot Depok ini, dibangun dengan perjanjian bangun guna serah (BGS) dalam 30 tahun. Pemkot Depok melakukan MoU hanya untuk Terminal Terpadu ini dan setelah rampung pengelolaan dilaksanakan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok.

Sebenarnya tujuan Pemkot Depok cukup baik yang berharap keberadaan Metro Stater memberikan manfaat yang sangat positif kepada masyarakat, menyerap tenaga kerja dan petumbuhan ekonomi daerah.

Terminal Terpadu atau Metro Stater ini akan mengintegrasikan terminal angkutan dengan Stasiun Commuter Line Kereta Api Depok. Terminal ini diklaim akan menjadi yang termegah karena akan dilengkapi fasilitas modern untuk kemudahan dan kenyamanan penumpang mencari alat transportasi, tentu dengan ratusan mega unit ruko komersil, dan apartemen tiga menara setinggi 28 lantai.

Mimpi yang mangkrak. Maket Metro Stater yang terkesan tak ramah sebagai Depok Kota Relijius.

Megaproyek Metro Stater atau Terminal Modern Terpadu yang dilengkapi hunian vertikal dan pusat perbelanjaan ini sudah mengalami tiga kali penundaan pembangunan sejak 2015. Lalu ditunda pembangunannya pada 2017 dan direncanakan selesai pada 2019.

Kemudian, pengembang meminta adendum waktu mundur dari semestinya.pembangunan dengan inventasi Rp 1,3 Triliun ini. Lalu, direncanakan ulang pembangunan kawasan berkonsep Transit Oriented Development (TOD) yang akan diselesaikan pada 2021, selaras dengan Rancangan Akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Depok Tahun 2016-2021

Dan, hingga saat ini 2021, Metro Stater yang terlihat hanya megah di maket reklame di dinding proyek di Jalan Margonda samping ITC, sedangkan di dalamnya terongok alat-alat berat tanpa ada pekerjaan dan pekerja yang lahannya sudah ditumbuhi alang-alang dan pepohonan. Sebuah mimpi mubazir, padahal lebih bermanfaat dibangun masjid. (Kawan Syam/Papi Ipul)

 87 total views

LEAVE A REPLY