Namanya Pudjo Bukan Bowo

0
180

Namanya Pudjo Bukan Bowo
Oleh: Rusdy Nurdiansyah/Wartawan Senior Republika

Nama aslinya, Sungkowo Pudjodinomo. Di Jakarta dipanggil Pudjo bukan Bowo. Depok Media Center (DMC) menganugrahi Bowo sebagai Paritsipasi Warga Terbaik DMC Award 2020-2021 pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2021 lalu.

Memang kontroversial. Tapi pengurus DMC tidak peduli. Yang penting hasil yang diperbuat Bowo tidak membawa kerusakan. Terutama bisa bermanfaat untuk orang banyak. Menghijaukan Jalan Juanda, indah, nyaman dan aman.

Aku belakangan ini kerap berdiskusi dengan Bowo yang kadang aku panggil Pakde. Ya, karena selain usianya lebih tua, 58 tahun, juga wajahnya jauh terlihat tua. Banyak hal kami obrolkan. Termasuk berbagai kontroversi yang timbul dalam perjalanan hidupnya.

Kamus filosofi hidup cukup banyak dikuasai Bowo, menandakan kematangan sosok laki-laki yang akan memasuki fase lansia pertama.

Malu mendengarnya karena Bowo telah berbuat banyak bagi kebaikan dan kemaslahatan umat manusia dan alam di Kota Depok sejak 2017 lalu.

Bermula, Bowo membentuk Komunitas Kampung Kita Depok (K3D). Dalam sekejab, bak pemain sulap, Bowo mampu mengubah wajah Jalan Juanda yang kumuh dengan ratusan bangunan liar menjadi kawasan hijau dan asri.

Ratusan bagunan liar yang dijadikan tempat prostitusi, peredaran miras dan narkoba yang tak pernah mampu digusur Satpol PP Depok sejak tahun 2000, berhasil ‘disulap’ menjadi sentra pedagang tanaman hias yang berdampak peningkatan perekonomian Kota Depok.

Dan, itu semua dilakukan tanpa penggunaan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Depok. Fenomena K3D adalah yang paling seru. Bowo mampu menjalin hubungan yang cukup baik dengan pihak PT Pertamina Gas yang memiliki lahan jalur pipa gas.

Tentu, Bowo berkewajiban menjaga jalur pipa gas menjadi aman. Tak mudah mendapat kepercayaan seperti itu. Itulah mungkin anugrah kemampuan Bowo yang diberikan Allah yang belum tentu dimiliki semua orang. Jadi, kenapa kita harus iri, selama amanah yang dijalankan Bowo untuk kebaikan warga Kota Depok.

Itu baru tiga contoh besar kontroversi yang pernah terkait dengan pria yang low profile dan murah tawa ini. Mestinya awet muda, tapi Bowo tetap terlihat tua, mungkin setua jalur pipa gas yang dibagun sejak 1970.

Bowo kelihatannya memang tidak pernah berhenti berpikir untuk menghijaukan kawasan Jalan Juanda. Bahkan, cita-citanya, jadikan kawasan tersebut sentra UMKM tanaman hiasa sekaligus destinasi wisata. Apa pun risikonya. Mungkin karena ia sudah terlatih mengambil resiko, yang terukur.

Bowo juga sudah dibentuk menjadi pribadi dengan prinsip kepercayaan dan kejujuran, siap mengorbankan diri demi orang lain, untuk masyarakat dan Kota Depok yang baru lima tahun ia cintai itu.

Kontroversi paling seru dan terheboh se Kota Depok, bahkan Pemprov Propinsi Jawa Barat (Jabar) adalah soal Saung di Setu Pengarengan. Peluru-peluru serangan menjurus fitnah berdatangan yang ‘diamini’ pejabat Pemkot Depok karena ketakutan dari bluving informasi menjurus distorsi.

Dinas PUPR Kota Depok bilang, itu melanggar, tidak ada izin.

Sumber Daya Air (SDA) Propinsi Jabar memasang plang larangan membangun di area setu.

Lurah Cisalak melapor ke Camat Sukmajaya. Sementara ratusan bangunan liar, ia tutup mata. Bangunan mewah permanen dan bahkan banyak bangunan di jadikan tempat prostitusi serta peredaran minuman keras dan narkoba.

Satpol PP Kota Depok sudah menempuh prosedur yang panjang, untuk sampai pada nafsu mengusur satu saung yang notabene tidak menggangu ketertiban umum dan alam.

Namanya Pudjo kalau di Jakarta bukan Bowo, tetap tidak merasa bersalah. Tidak ada prinsipil yang dilanggar. Tidak mengguruk setu dan menghalangi aliran air. Justru membantu membersihkan setu dari sampah dan kotoran sapi yang selama ini menyelimuti permukaan air.

Bowo terlindungi dengan praktik menjaga lingkungan agar bersih dan nyaman. Ia tetap membenahi Saung Pemantau Sampah diatas pulau yang terbentuk akibat abrasi aliran air dan sempat menjadi tempat pembuangan sampah dan sempat terbakar pula.

Namanya Pudjo bukan Bowo, yang dari segi usia tak terlalu tua, tapi sudah tampak tua itu, menunjukkan bukti sebuah peta bidang lahan dari BPN yang ikut ditandatangani Wali Kota Depok, Nur Mahmudi pada 2010 lalu.

Ternyata, Setu Pangarengan itu ada di selatan, seberang Jalan Juanda di lahan UIII. Sedangkan di utara yang saat ini terbentang Jalan Tol Cijago dan jalur pipa gas Pertamina merupakan tanah daratan milik Pertagas Pertamina, Tol Cijago dan UIII.

Aliran air Setu Pengarengan mengalir melalui saluran yang dibuat menuju lahan yang lebih rendah, akhirnya membentuk sebuah kolam besar yang seolah menyatu dengan Setu Pangarengan. Sebagian lahan kosong UIII, saat ini telah berfungsi menjadi bangunan rumah mewah.

Namanya Pudjo bukan Bowo, memiliki integritas kepedulian terhadap sesama, lingkungan dan alam yang membuatnya dipercaya mengelola, mengawasi dan menjaga aset Pertagas Pertamina dan Tol Cijago. Sebuah kepercayaan yang cukup berisiko menghadapi orang-orang yang tak kreatif, iri dan dengki. Bahkan, jika tak kuat mental, Bowo mungkin akan menyerah tergilas kebencian itu.

Aku baru mengenalnya dua tahun lalu, ia memperkenalkan diri, namanya Pudjo kalau di Jakarta dan Bowo kalau di Depok. Kesan pertama, sosok pak tua ini santai ramah dan penuh tawa yang tetap tampak tua yang sedikit terlihat muda dibandingkan rekan sejawatnya yang saat ini sebagai Ketua KCD, Haji Hamid.

Sarat dengan pengalaman lapangan, Bowo akhirnya memiliki cukup banyak filosofi hidup yang selama ini, aku kuasai dengan beragam banyak filsuf. Aku juga dibuat ‘minder’ dengan petuah-petuah semangat menikmati hidup menuju puncak kesuksesan sesungguhnya di usia 80 tahun seperti yang digambarkan Socrates, Aristoteles, Jalaluddin Rumi, Ibnu Khaldun dan Buya Hamka.

Dibenakku, itu mungkin ikut memacu kreatifitasku. Tapi, di hati kecilku, itu mungkin sebagai upaya menghibur diri orang-orang yang masuk usia senja. Aku hanya tertawa kecil di hati untuk menghina pikiranku.

Jadilah lilin yang melambangkan harapan dan bimbingan. Bagi orang lain, mereka mewakili kehidupan, kebijaksanaan, dan kepemimpinan.

Lilin juga kerap menjadi simbol pengorbanan. Dia rela memberikan dirinya untuk menolong dengan memberi penerangan di saat kegelapan melanda. “Jangan menjadi lilin yang menyinari orang lain, tapi melelehkan diri sendiri,” ucap Bowo menasehatiku.

“Dari gunung arus air deras mengalir, dari tubuh kita jiwa pun bergerak karena ilham cinta”. (Jalaludin Rumi)

“Nilai seseorang adalah terletak kepada keahliannya. Kekayaan adalah proses dari hasil sosial bukan orang seorang. Dan, uang bukanlah kekayaan tetapi ukuran penyimpanan nilai.” (Ibnu Khaldun)

“Jalan terdekat untuk meraih kemuliaan adalah dengan berusaha keras menjadi apa yang dinginkan dan sesuai dengan apa yang dipikirkan.” (Socrates)

“Setiap orang bisa menjadi marah, itu adalah hal yang mudah, tetapi menjadi marah kepada orang yang tepat, dengan kadar yang tepat, di saat yang tepat, dengan tujuan yang tepat serta dengan cara yang tepat, bukanlah kemampuan setiap orang dan bukanlah hal yang mudah.” (Aristoteles)

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja. Hiduplah dengan kerja kreatif, bukan kerja untuk hidup,” (Buya Hamka)

Bowo, sudah cukup banyak mendidik generasi penerusnya, baik yang muda maupun orang-orang tua yang masih ingin salurkan kiprah kreatifitasnya. Itu juga yang membuat aku malu dengan Pakde Bowo dan Pak Haji Hamid yang begitu banyaknya yang merasa mendapatkan manfaatnya. Awalnya memang kontroversi. Akhirnya begitu banyak yang memanfaatkannya.

Namanya Pudjo bukan Bowo, sekarang sebagai Ketua Pembina K3D kelahiran Yogjakarta 7 Juli 1963. Bowo aktif di kegiatan sosial di bidang lingkungan khusus nya keindahan kota pendampingan umum pemula dan pendampingan UMKM pemula. Bowo yang berpendidikan S1 juga berprofesi sebagai even organiser dan advertising.

Khawatir kinerja tak maksimal, Bowo mundur dari Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Ormas dan LSM Kota Depok, Sabtu 26 Maret 2021. Bowo akan fokus membenahi indah dan hijau Jalan Juanda dan sepanjang jalur pipa gas serta Jalan Tol Cijago.

Bowo mengakui hal tersebut bukanlah perkara mudah. Tapi, ia tetap semangat 45, dengan keyakinan kebaikan untuk manusia dan alam di Kota Depok yang saat ini ia cintai melebihi cinta kaisar legendaris Romawi, Julius Caesar saat tertidur pulas dipusar Ratu Mesir, Cleopatra.

“Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tugas kita adalah untuk mencoba karena di dalam mencoba, itulah kita menemukan kesempatan untuk berhasil.” (Buya Hamka)

 174 total views

LEAVE A REPLY