Lebaran: Akhir dari Tradisi Salaman

0
231
Ustaz Herdi Qoharrudin mengajak jamaah memohon: “Semoga Allah segera mengangkat wabah, bencana dan corona.

DUA kali lebaran auranya berbeda. Tapi kali ini saya sedikit lega. Bisa shalat Ied. Meski terbatas di lingkungan tempat tinggal. Alhamdulillah…

Saya memilih shaf barisan belakang. Sengaja untuk merekam suasana. Seluruh jamaah sangat tertib. Jumlahnya sekitar 400 orang. Memakai masker dan membawa sajadah. Maklum masih pandemi Covid-19.

Sesuai anjuran pemerintah. Pengurus DKM Musala Al Qolam -Permata Depok- tak henti wanti-wanti. Ketua (RT) juga rajin mengingatkan warganya. Kita semua saling menjaga dan mengingatkan.

Memang butuh kesadaran masyarakat. Butuh kerja sama semua pihak. Pemerintah telah bekerja maksimal. Beragam kebijakan dibuat. Tentu dengan kajian yang matang. Kesehatan jadi prioritas.

Indonesia Tak ingin terjebak seperti India, kini masuk zona hitam. Begitu melonggarkan protokol kesehatan, semua berubah jadi ambyar. Lupaya lockdown jadi sia-sia. Mereka lupa pesan Mathama Gandhi. Harta sejati adalah kesehatan. Bukan emas dan perak.

India mencatat lebih dari 4.000 kematian Covid-19 untuk hari kedua berturut-turut pada Kamis (13/5). Total yang terkonfirmasi lebih dari 23,7 juta.

Kita masih bersyukur. Meski Covid-19 belum berakhir, masih bisa shalat Ied. Kecuali wilayah zona merah dan oranye. Wajib melaksanakannya di rumah. Seperti tahun lalu.

Saya melihatnya ini sebuah kemenangan kecil. Dibanding tahun lalu. Hanya boleh takbiran, tapi shalat Ied di rumah masing-masing. Kini, pintu musala dan masjid dibuka. Masyarakat sedikit plong. Tapi tetap harus waspada. Tidak bisa seenaknya. Apalagi menyelepekannya.

Gema takbir berkumandang. Sejak malam takbiran, Rabu 12 Mei 2021. Allaahu akbar … allaahu akbar allaahu akbar… Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd… (Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tidak ada tuhan melainkan Allah, dan Allah maha besar, Allah maha besar dan segala puji bagi Allah).

Indahnya lantunan gema takbir membuat hati bergetar. Inilah cara umat Islam menyambut hari kemenangan. Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa disunahkan untuk menggemakan takbir pada malam Hari Raya.

Anak-anak menabuh beduk. Menambah gairah suasana. Saya mencoba ikutan. Di musala Al-Qolam. Sektor Nilam Permata Depok, Jawa Barat. Walaupun cuma sebentar. Tangan terasa pegal.

Tapi hati senang. Dibanding tahun lalu. Lebaran terasa hampa. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sepi seperti mati suri. Semua serba dilarang. Karena Covid-19. Rumah ibadah dikunci rapat. Apalagi mudik.

Haji Kusnan Wartoyo, pengurus musala wanti-wanti. Tolong jaga protokol kesehatan.

“Ini pertama kali kita menggelar shalat Ied. Di lingkungan. Terima kasih pak RT telah memberi arahan. Mohon para jamaah perhatikan protokol kesehatan. Jaga jarak dan pakai masker,” imbuh H. Kusnan.

Ustaz Herdi Qoharrudin naik mimbar usai memimpin salat Ied. Khotbahnya singkat dan padat. Tak lebih dari 20 menit. Mengingatkan kita soal menjaga istiqomah setelah Ramadhan. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala selama bulan Ramadhan.

“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Subhanahu wa ta’ala).” (HR. Ahmad [2/254], Al-Bukhari dalam al-Adabul mufrad No. 644, Ibnu Hibban No. 907 dan al-Hakim [4/170]; dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, adz-Dzahabi dan al-Albani)

Dalam doanya, Ustaz Herdi mengajak jamaah memohon: “Semoga Allah segera mengangkat wabah, bencana dan corona yang tengah melanda negeri ini.“

Usai Khotbah, H. Kusnan kembali mengingatkan dengan pengeras suara. Para jamaah diminta tidak segera pulang. Silaturrahim. Maaf maafan. Tapi tidak boleh bersentuhan. Seperti film seri boneka Si Unyil.

Si Unyil adalah film seri produksi PPFN. Film ini mengudara setiap hari Minggu pagi di stasiun TVRI sejak 5 April 1981. Saya masih kelas 6 SD.

Salaman gaya Si Unyil menangkupkan kedua tangan di depan dada kepada orang yang ingin disalami. Tanpa bersentuhan satu sama lain.

Itu peraturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Masyarakat dunia diminta tidak berjabat tangan. Sebab, salah satu cara penularan virus Corona atau Covid-19 adalah dengan saling bersalaman langsung.

Saat dua orang berjabat tangan, mereka bisa menempelkan berbagai virus, bakteri, maupun kuman yang ada di tangan. Tak terkecuali virus corona.

Janggal memang salaman tanpa sentuhan. Tapi suka atau tidak, kita patut terbiasa. Bukan sombong. Bukan tidak hormat. Ini demi diri kita. Demi keluarga kita. Pun lingkungan.

Kita harus ‘simpan’ sejenak budaya ketimuran. Selama era pandemi ini. Budaya baru kalau dibiasakan, tidak ada salahnya. Selama itu baik untuk kita semua.

Menyapa orang misalnya. Disarankan berganti menjadi melambaikan tangan, menganggukkan kepala, atau membungkukkan badan.

Direktur Eksekutif Program Keadaan Darurat WHO, Mike Ryan, MB, MPH bilang, virus corona berpotensi menjadi endemik baru yang hidup di tengah masyarakat.

Virus corona mungkin tidak akan pernah hilang. (Seperti) HIV yang masih gentayangan. Jadi kita akan hidup berdampingan dengan virus. Tahun lalu Presiden Joko Widodo juga bilang begitu.

Saya setuju dengan Direktur National Institute of Allergy and Infectious Disease AS, Dr. Anthony Fauci. Dia menyebut virus corona menjadi akhir dari tradisi salaman.

Berarti kita diminta bersiap menyambut gaya new normal. Hidup dengan sesuatu yang mungkin tidak lazim. Memakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan. Tentu juga tanpa salaman.

Berat, itu pasti. Bersalaman sudah mengakar. Apalagi, jika kita berhadapan dengan orang yang lebih tua. Bukan hanya di Indonesia. Juga dunia.

Tapi inilah pilihan. Suka atau tidak. Tanpa mengurangi rasa hormat. Suatu era baru butuh pengorbanan.

Sekali lagi. Demi kelangsungan hidup dan kehidupan. Berusaha untuk tetap hidup adalah fitrah manusia. Kesehatan adalah emas.

Mari sambut hari kemenangan umat Muslim sedunia ini. Tentu dengan konsisten menjaga protokol kesehatan. Mohon maaf lahir batin. Allaahu akbar … allaahu akbar allaahu akbar… Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd…***

Suryansyah
Sekjen Siwo PWI Pusat

 235 total views

LEAVE A REPLY