Menuju Setengah Miliar Pelanggan 5G

0
42

www.depoktren.com–Industri teknologi kini terus bergerak dengan hadirnya konektivitas generasi kelima (5G). Ericsson memperkirakan, jumlah pelanggan seluler 5G akan melebihi 580 juta pada akhir 2021.

Hal ini, didorong oleh sekitar satu juta pelanggan seluler 5G baru setiap hari. Perkiraan ini, yang dimuat dalam Ericsson Mobility Report edisi ke-20, memperkirakan 5G akan menjadi generasi seluler yang diadopsi paling cepat.

Pada akhir 2026, jumlah pelanggan 5G diperkirakan akan mencapai sekitar 3,5 miliar dan cakupan populasi 5G akan mencapai 60 persen. Namun, kecepatan adopsi sangat bervariasi berdasarkan wilayah.

Eropa akan memulai lebih lambat dan terus tertinggal jauh di belakang pasar Cina, Amerika Serikat (AS), Korea Selatan, Jepang dan Dewan Kerjasama Teluk atau Gulf Cooperation Council (GCC) dalam hal kecepatan penerapan 5G. Jumlah pelanggan 5G juga diharapkan akan melampaui satu miliar, dua tahun lebih cepat dibandingkan 4G.

Country Head Ericsson Indonesia Jerry Soper mengungkapkan, pandemi telah menyebabkan lonjakan permintaan untuk koneksi lebih cepat karena kini kita sangat bergantung pada internet dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan bisnis dari jarak jauh. “Saat ini, fixed dan mobile broadband berkualitas tinggi menjadi infrastruktur nasional yang penting”, ujarnya.

Untuk mengatasi pertumbuhan data yang cepat dan mengurangi biaya per GB, Soper melanjutkan, diperlukan teknologi yang lebih baik dan transisi ke teknologi 5G dengan mudah dan lancar. Teknologi 5G yang cepat, andal dan responsif, menurut Soper, akan membuka peluang transformatif baru bagi Indonesia.

Ericsson sebagai pemimpin ICT global akan terus berinvestasi dalam inovasi teknologi, serta membangun ekosistem 5G yang kuat bersama dengan penyedia layanan komunikasi dan pemerintah guna mendukung transformasi digital di Indonesia.

Mendorong Perubahan Perilaku

Saat ini, konektivitas seluler menjadi sangat penting dalam menjaga kelangsungan bisnis saat bekerja atau belajar jarak jauh. Berdasarkan Ericsson ConsumerLab, The Future Urban Reality, konsumen Indonesia rata-rata berada di dunia daring, selama tiga jam lebih lama setiap harinya atau sekitar delapan jam 45 menit per hari.

Head of ConsumerLab, Ericsson Research Jasmeet Sethi mengungkapkan, ada segmen yang berbeda di pasar saat ini. Ia menyebut, peningkatan yang lebih besar datang dari siswa karena transisi di kehidupan sekolah dan pekerja kantoran. “Jadi semua segmen ini sebenarnya telah meningkatkan aktivitas digital mereka dan telah meningkatkan waktu yang dihabiskan untuk daring dengan menggunakan internet,” kata Sethi.

Kemudian, lebih dari separuh waktu (59 persen) yang digunakan untuk daring terjadi pada smartphone. Konsumen Indonesia pun bertambah niat untuk menjelajah aplikasi baru (51 persen), peningkatan perangkat (41 persen) dan peningkatan konektivitas (46 persen).

Di sisi lain, laporan Consumer Lab “Five Ways to a Better 5G” membahas minat konsumen untuk beralih ke 5G, meski tengah pandemi Covid-19. Ericsson melihat Indonesia ada keinginan yang kuat untuk bergerak ke arah 5G.

Jadi, sekitar setengah dari pengguna smartphone di Indonesia (49 persen) menunjukkan mereka masih ingin melanjutkan dan meningkatkan ke 5G. Tetapi niat ini sekarang lebih rendah dibandingkan saat 2019. “Niat untuk meningkatkan (ke 5G-Red) ini sedikit turun dari 2019 karena ketidakpastian tentang kapan peluncuran komersial tersebut pada dasarnya akan terjadi,” ujarnya.

Selain itu, di Indonesia, sudah ada landasan kuat untuk penerapan 5G. Sekitar 19 persen pengguna smartphone di perkotaan, kini memiliki smartphone yang mendukung 5G, di mana sekitar lima juta pengguna lainnya, akan beralih ke 5G dalam dua tahun pertama setelah jaringan 5G tersedia secara komersial.

Saat ini, pengguna device 5G-ready sudah menghabiskan waktu untuk aplikasi Augmented Reality (AR) dan 1,5 jam lebih banyak per pekan untuk streaming video, dibandingkan dengan pengguna 4G. Penggunaan data juga sudah 1,2 kali lebih tinggi di antara pengguna ponsel cerdas yang siap 5G. “Orang-orang ini menghabiskan banyak waktu untuk aplikasi augmented reality, menonton aplikasi streaming langsung, media yang disempurnakan seperti video 360 (derajat) atau bahkan gim online, misalnya,” kata Sethi.

Jadi, ia melanjutkan, para pengguna ini sangat berinvestasi dalam layanan digital. Mereka biasanya memiliki lalu lintas data yang sangat tinggi. Ericsson melihat bahwa para pengguna di Indonesia ini membawa smartphone 5G-ready menggunakan sekitar 13 GB per pengguna per bulan.

Pilah-pilih Perangkat 5G

Smartphone yang mendukung teknologi jaringan 5G kian digandrungi saat ini. Terutama sejak beberapa operator selular tanah air melakukan uji coba dan sosialisasi terhadap pengadaan jaringan ini di beberapa kota di Tanah Air.

Makin banyak masyarakat yang kini makin tidak sabar mencicipi kecepatan teknologi 5G yang lebih canggih. Namun, banyaknya pilihan perangkat 5G juga membuat pecinta teknologi harus ekstra selektif memilih smartphone yang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Dengan jaringan yang masih dikembangkan untuk dapat merata di berbagai pelosok negeri, tak hanya sekadar harga, kita juga tetap harus mempertimbangkan banyak aspek yang dapat mendukung performa perangkat, agar dapat semakin optimal dalam pemakaiannya.

Beberapa pertimbangan, sebelum membeli perangkat 5G, antara lain:

1. Mampu menunjang berbagai aktivitas

Perangkat 5G yang akan dipilih, sebaiknya membawa sejumlah teknologi yang paling mumpuni. Sehingga, menjadikannya sebagai perangkat yang nyaman digunakan untuk aktivitas sehari-hari.

Saat ini, beberapa perangkat 5G memiliki kapasitas penyimpanan yang besar 8+128GB, dan bisa ditambah hingga 1TB. Dengan begitu, perangkat 5G yang dipilih, akan bisa menunjang berbagai kegiatan kita. Mulai dari, menyimpan ratusan dokumen, ribuan foto, dan ratusan video penting lainnya.

Apalagi dalam kondisi bekerja dari rumah yang harus dijalani sebagian besar masyarakat saat ini, smartphone dengan kapasitas besar akan sangat mendukung aktivitas bekerja maupun sekolah dari rumah.

2. Fitur meningkatkan RAM

Perkembangan teknologi, kini mulai memungkinkan penguna menambah RAM dari perangkatnya. Salah satunya, adalah teknologi Dynamic RAM Expansion (DRE) yang dimiliki Realme.

Teknologi yang satu ini memungkinkan pengguna memperbesar RAM dari 8GB menjadi 11GB secara virtual dengan mengonversi 3GB pada penyimpanan internal. Dengan begitu, aktivitas jaringan 5G yang biasanya memakan daya besar, akan mampu terakomodasi.

3. Perhatikan performa

Chipset pada perangkat 5G, tentunya memerlukan kemampuan yang lebih mumpuni, ketimbang smartphone 4G. Saat ini, telah hadir beberapa jenis chipset yang diperuntukkan untuk menunjang kinerja perangkat 5G.

Salah satuya, MediaTek Dimensity 700 5G. Chipset dengan fabrikasi 7-nanometer ini merupakan chipset high-end di kelas mid-range, dan mencatatkan skor AnTuTu sebesar 360.000. Nilai ini, lebih tinggi dibanding dengan prosesor 5G lainnya yang beredar saat ini di pasaran.

Selain itu, ada pula yaitu Snapdragon 888 Plus 5G Mobile Platform yang dapat memberikan pengalaman memuaskan dengan hiburan pintar. Termasuk gameplay, streaming, fotografi, dan lainnya yang didorong dengan AI.

Selain itu, chipset ini juga dilengkapi fitur lengkap Snapdragon Elite Gaming untuk memberikan kualitas mobile gaming yang setara dengan desktop.

Ada pula Qualcomm 5G DU X100 Accelerator Card yang dirancang untuk memungkinkan operator dan vendor infrastruktur dapat dengan mudah merasakan manfaat dari 5G berkinerja tinggi, berlatensi rendah, dan hemat daya. Sehingga dapat mempercepat transisi ekosistem seluler menuju jaringan akses radio yang terbuka dan tervirtualisasi.

Pandemi telah menyebabkan lonjakan permintaan untuk koneksi lebih cepat karena kini kita sangat bergantung pada internet dalam memenuhi kebutuhan pribadi dan bisnis dari jarak jauh. (Ruzka Azra Muhammad)

 46 total views

LEAVE A REPLY