20 Tahun Lalu

0
210

20 Tahun Lalu
Oleh : Rusdy Nurdiansyah
Wartawan Republika/Ketua PWI Kota Depok

Dulu, 23 Juli 2001, Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ‘memutuskan’ untuk keluar dari Istana Negara Jakarta.

Selaku teman dekat adiknya istri Presiden, Sinta Nuriyah yakni M Toyip, aku bersama dua rekanya, Novli Siregar dan Agus datang ke istana diminta untuk membantu mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke rumah Gus Dur di Ciganjur.

Di istana, tampak Gus Dur berkaos biru muda serasi dengan celana pendek yang dikenakan, berdiri melambaikan tangan kearah pendukungnya di depan istana. Gus Dur didampingi anaknya, Yeni Wahid dan seorang ajudan yang memeganginya. Dibalik tembok teras istana puluhan Paspampres berjaga-jaga dan puluhan tentara dengan senjata laras panjang mengawasi setiap orang yang sedang membantu mengemasi dan mengangkat barang-barang pribadi milik Gus Dur dan keluarga.

Kami diminta memasuki kamar Gus Dur menemui Bu Sinta. Tampak Bu Sinta yang duduk di kursi roda melempar senyum saat kami bersalaman. Bu Sinta dengan ramah meminta tolong kami mengemasi barang-barang dan membawa ke mobil-mobil box yang telah tersedia di parkir pintu samping istana. Bu Sinta dengan senyumannya bercerita mengenai rencana bersama Gusdur akan dibawa pergi berobat dan meminta kami menjaga diri.

Lalu ajudan mendorong kursi roda Bu Sinta ke luar kamar menuju ruang tengah istana menemui Gus Dur, anak-anaknya dan keluarga besarnya. Raut wajah Gus Dur terlihat tenang dan tetap melempar guyon yang penuh arti. “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan dengan tetesan darah. Biar sejarah akan membuktikan kebenarannya,” tegas Gus Dur yang meminta seluruh keluarganya memahami situasi genting pencopatanya dari kursi Presiden Republik Indonesia oleh MPR.

Informasinya, moncong panser sudah mengarah ke istana. Terlintas sedikit wajah Gus Dur gundah saat memandangi cucu pertamanya dari putri sulungnya Alissa Wahid yang baru berusia 40 hari. Kemudian Gus Dur meminta kepada anaknya dan kami untuk segera meninggalkan istana.

“Hindarkan pertikaian yang sering terjadi dalam sejarah. Inilah esensi tugas kesejarahan, yang tidak boleh dilupakan sama sekali. Jangan sampai terjadi pertumpahan darah sesama anak bangsa,” pesan Gus Dur ke semua orang, termasuk ke Paspampres dan para tentara yang ada.

Situasi tersebut, membawa bayanganku ke masa lampau dari buku-buku yang ku baca mengenai jelang jatuhnya Presiden Soekarno atau Bung Karno. Kebayang Bung Karno tanpa sanak keluarga diminta segera meninggalkan istana dibawah todongan senjata para tentara. Bung Karno hanya membawa satu tas dan pakaiannya yang dikenakan di badannya. Aku juga membayangkan Bung Karno diasingkan di Wisma Yaso Jakarta dalam keadaan sakit tanpa satupun orang mendampinginya. Tentu aku berharap Gus Dur tidak mengalami apa yang dialami Bung Karno.

“Rus, jangan bertanya saya sholat atau tidak. Orang yang rajin ibadah dan ingin dilihat orang itu, kemungkinan pamer atau dia baru masuk Islam,” terang Gus Dur saat aku bertanya di suatu acara budaya di TIM Jakarta sebelum Gus Dur jadi Presiden pada 1998. (***)

 215 total views

LEAVE A REPLY