Penanganan Kemiskinan Butuh Upaya Collaborative Governance

0
131

www.depoktren.com–Berdasarkan studi literatur, hampir semua model kerangka kerja Collaborative Governance menunjukkan bahwa kepemimpinan selalu memiliki peran utama dan strategis, namun kajian spesifik terkait hal tersebut cenderung masih terbatas.

Hal ini melatarbelakangi Muh. Azis Muslim melakukan kajian terkait kepemimpinan Bupati Kulon Progo dan Banyuwangi, yang dipandang dapat menjadi contoh keberhasilan dalam tata kelola kolaboratif untuk disertasinya.

Ia menyampaikan disertasi berjudul “Kepemimpinan Bupati dalam Collaborative Governance untuk Penanggulangan Kemiskinan di Daerah (Studi atas Praktik-Praktik Terbaik di Kulon Progo dan Banyuwangi)” dalam promosi doktor yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) Universitas Indonesia (UI).

Azis menjelaskan bahwa pola penanganan kemiskinan membutuhkan upaya Collaborative Governance yang melibatkan para pemangku kepentingan.

Menurutnya, kemiskinan merupakan permasalahan yang kompleks dan bersifat multidimensional, yang dialami oleh semua negara di dunia. Sekalipun pemerintah pusat maupun daerah telah menyelenggarakan banyak program penanggulangan kemiskinan, namun banyaknya program tidak serta-merta mengurangi angka kemiskinan yang ada.

“Praktik tata kelola kolaborasi yang berlangsung di Kulon Progo diinisiasi melalui inovasi program dan kolaborasi eksternal multistakeholders, sedangkan di Banyuwangi diawali dengan keberhasilan kolaborasi internal dan inovasi program. Keluaran jangka panjang praktik tata kelola kolaboratif terwujud dalam bentuk pengurangan jumlah penduduk miskin, peningkatan indeks pembangunan manusia dan produk domestik brutonya,” ujar dosen FIA UI tersebut dalam Sidang Promosi Doktor yang diselenggarakan secara virtual pada Selasa (3/8/2021) lalu.

Dalam sidang promosi doktor tersebut, Prof. Dr. Chandra Wijaya, Dekan FIA UI, bertindak selaku ketua sidang, Prof. Dr. Eko Prasojo selaku Ketua Promotor, dan Dr. Roy V. Salomo selaku ko-promotor. Tim penguji pada sidang tersebut adalah Prof. Irfan Maksum, Prof. Amy S. Rahayu, Prof. Djohermansyah Djohan, Prof. Tirta Mursitama, Dr. Reza Faturrahman, dan Dr. Vishnu Juwono.

Ansell dan Gash hanya menempatkan kepemimpinan fasilitatif memiliki relasi dengan dimensi proses kolaborasi dari kerangka model yang dikembangkannya. Aziz menemukan bahwa sosok pemimpin memiliki peran yang sangat penting pada dimensi kondisi awal (starting condition).

Temuan baru dalam penelitian ini menempatkan unsur latar belakang pemimpin (leader’s individual background) bersama dengan asimetri kekuasaan dan sejarah kerjasama/konflik, sebagai dasar yang dapat menghambat atau mendukung proses kolaborasi yang terbangun. “Kedua Kepala Daerah menunjukkan kapasitas individual dan kapasitas kepemimpinannya secara bersamaan dalam menerapkan tata kelola kolaboratif. Keberhasilannya ditunjukkan dengan peran utama sebagai fasilitator dan pemberdaya dalam membangun kolaborasi,” jelas Azis.

Dalam rangka menjaga keberlanjutan capaian kinerja di masa mendatang, maka pemimpin perlu mempersiapkan suksesor, membangun sistem, regulasi, serta nilai-nilai atau budaya. Azis mengungkapkan bahwa keberhasilan kepemimpinan dalam tata kelola kolaboratif di Kulon Progo dan Banyuwangi baiknya disusun dalam bentuk cerita sukses penanggulangan kemiskinan sebagai explicit knowledge, sehingga program inovasi dan proses tata kelola kolaboratifnya dapat menjadi rujukan dan pembelajaran bagi daerah lain.

Menurutnya, keberhasilan pemerintah daerah dalam menanggulangi kemiskinan tidak akan optimal tanpa kemitraan dengan pemangku kepentingan lain. Oleh karena itu perlu adanya peningkatan kapasitas warga masyarakat serta membangun kepemilikan bersama (share ownership) atas masalah kemiskinan sehingga terbangun kesadaran dan kepedulian untuk menyukseskan program penanggulangan kemiskinan dengan membuka partisipasi secara luas kepada semua pihak.

Prof. Dr. Eko Prasojo menyampaikan bahwa disertasi yang ditulis oleh Azis memiliki relevansi dan kebaharuan dalam teori maupun praktik kepemimpinan di pemerintahan daerah. Perkembangan kepemimpinan pada saat ini ditandai oleh model kolaborasi bukan lagi hierarki. Model kepemimpinan kolaboratif ini memberikan kesempatan yang luas kepada seluruh stakeholders baik di dalam maupun di luar organisasi untuk menciptakan berbagai inovasi dan kebaikan bagi masyarakat.

“Ada tiga karakter utama yang dimiliki oleh Bupati Banyuwangi dan Bupati Kulonprogo sebagai pemimpin kolaboratif, yaitu semangat entrepreneur, membangun tata kelola berjejaring, dan bersifat transformasional. Kepemimpinan dan tata kelola kolaboratif ini ternyata mampu menjadi ekosistem pemerintahan untuk mengurangi angka kemiskinan di kedua daerah yang diteliti secara signifikan. Praktik baik kepemimpinan kolaboratif ini memiliki potensi untuk dibentuk, diperluas, dan dilaksanakan di pemerintahan daerah lainnya,” papar Eko.

Dalam sidang promosi doktor tersebut, turut hadir para tamu kehormatan seperti Ketua KASN RI/Ketua IAPA (Indonesian Association for Public Administration) Prof. Dr. Agus Pramusinto, Dirjen Gakkum KLHK Dr. Rasio Ridho Sani, Menpan RB Periode 2011 – 2014 Dr. Azwar Abu Bakar, Dekan FIA Universitas Brawijaya (UB) Dr. Andy Fefta, Dekan FIA UB Periode 2013-2021 Prof. Bambang Supriyono, Guru Besar Unika Atmajaya Prof Hana Panggabean, Guru Besar STIA LAN Bandung Prof. Dr. Endang Wirjatmi, Guru Besar Bidang Ilmu Administrasi Negara UNHAS Prof. Dr. Sangkala, M.Si., dan Sekjen IAPA sekaligus Ketua Program Studi S3 Manajemen Kebijakan Publik UGM Dr. Bevaola Kusumasari. (Ruzka Azra Muhammad)

 131 total views

LEAVE A REPLY