McDonald’s Margonda Lakukan Larangan Liputan dan Pelecahan, Wartawan T*i A*jing

0
147

www.deoktren.com–“Saya nggak peduli ormas, saya nggak peduli wartawan. T*i a*jng!,” ujar Wartawan Warta Kota, Vini Rizki Amelia saat menyampaikan kata-kata pelecehan yang dialaminya saat konferensi pers di Kantor PWI Kota Depok ,Kamis (2/9/2021).

Kemudian, Vini yang di dampingi tim lawyers DNT menceritakan lebih jauh apa yang dialaminya saat bertugas meliput keriuhan dan antrean penjualan BTS meals di Restauran McDonald’s di lokasi Food Theater di Jalan Margonda Raya, Kota Depok pada 9 Juni 2021 lalu.

“Waktu itu McDonald’s lagi ada promo produk BTS Meal. Saya dapat tugas dari kantor untuk meliput suasana pembeli di McDonlad’s yang ada di Kota Depok sesuai wilayah peliputan saya. Karena promo BTS Meal ini sebenarnya serentak di McDonald’s seluruh Indonesia, bukan hanya di Kota Depok,” jelas Vini.

Lanjut Vini, tapi saat ia sedang melakukan peliputan di lokasi secara live streaming melalui kanal media sosial facebook Warta Kota, dihampiri seorang karyawan McDonald’s inisial H untuk meminta kegiatan peliputan yang sedang dilakukan dihentikan.

“Maaf darimana mba,” tanya H.

“Dari wartawan pak,” jawab Vini.

“Ngga boleh mba, kami dapat instruksi untuk videoin McD, ngga boleh,” ucap H.

“Tapi kan saya diluar pak, di trotoar,” jawab Vini lagi.

“Sama aja nggak boleh, kan mba ambil videonya ke arah situ-situ (McD) juga kan intinya, ya ngga boleh mba,” ucap H lagi.

Vini mengambil video suasana karena memang pelayanan pembeli di McDonald’s Jalan Raya Margonda sedang ramai. Baik yang pesan melalui ojek online maupun yang pesan di layanan drive-thru. Sampai sampai pihak keamanan McDonald’s menerapkan sistem buka-tutup. Bahkan ada beberapa pengendara roda empat ditolak hendak masuk ke McDonald’s karena penuh.

“Penuh bu, maaf ya,” ujar salah satu security McDonald’s kepada pengendara mobil yang hendak masuk ke area parkir McDonald’s.

Tak lama setelah H melarang Vimi meliput dilokasi, salah satu security McDonald’s inisial A menghampiri dan juga melarang untuk melakukan peliputan.

“Ada apa ya?,” tanya A.

“Ngga ada apa apa, saya lagi liputan,” jawab Vini.

“Liputan, dari?,” tanya A lagi.

“Saya dari Warta Kota,” jawab Vini.

“Warta Kota, maaf kalau ngeliput udah ngga bisa bu ya,” ujar A.

“Ya kan saya ngeliput ngga di dalam. Saya ngeliput diluar area parkir,” jawab Vini.

“Ini harus ada izinnya dulu bu,” jawab A sambil berlalu.

Usai percakapan itu, Vini kembali melanjutkan liputan pantauan di sekitar McDonald’s.

Tiba-tiba orang ketiga berpakaian preman inisial Q datang menghampiri Vini untuk kembali melarang dilakukannya peliputan di lokasi McDonald’s itu.

“Ibu ada apa ya bu?,” tanya Q.

“Ngga ada apa apa cuman mantau antrian aja disini, kan di buka-tutup,” jawab Vini singkat.

“Dari wartawan mana bu?,” tanya Q lagi.

“Warta Kota,” jawab Vini tegas.

“Sudah ada izinnya bu dari pihak McD nya?,” tanya Q lagi.

“Saya kan disini (trotoar) pak liputan, bukan di dalam,” terang Vini.

“Tapi sasarannya ibu ke McD. Dari tadi saya lihatin lho bu. Itu kan namanya privasi McD bu harus izin dulu ibu,” ucap Q.

Mendapat larangan seperti itu, secara bergantian sebanyak tiga kali berturut-turut oleh karyawan dan keamanan McDonald’s. Vini pun mengakhiri liputan live streaming nya di facebook Warta Kota.

Setelah itu, Vini pun pergi meninggalkan lokasi menuju parkir di belakang gedung McDonald’s hendak mengambil sepeda motornya.

Saat Vini berjalan tiba-tiba kata-kata kasar dan keras keluar dari mulut Q.

“Saya ngga peduli ormas, saya ngga peduli wartawan, t*i a*jing!,” ujar Q yang terdengar jelas oleh Vini.

Tak terima dilontarkan dengan kata kata kasar padahal ia hanya melakukan tugas peliputan yang di lindungi oleh UU Pers No 40 Tahun 1999. Vini berpaling dan menanyakan kapasitas Q melarang dirinya meliput dilokasi.

“Bapak siapa ya ngelarang saya liputan. Saya di lindungi undang undang lho pak meliput,” kata Vini kepada Q.

“Saya yang punya wilayah,” jawab Q kepada Vini.

Aksi debat itu pun tak berlangsung lama karena langsung dipisahkan oleh para pengendara ojol yang ada dilokasi.

Dampak dari pelarangan, pelecehan dan kekerasan verbal yang diterima Vini saat melakukan peliputan membuatnya merasa trauma dan takut secara pribadi. “Secara pribadi saya takutlah, karena merasa di intimidasi,” tutur Vini.

Sementara dari sisi profesi yang jelas-jelas di lindungi undang undang, Vini merasa profesi nya sebagai wartawan dilecehkan dan di halang-halangi.

“Saya sudah lama jadi wartawan dan saya mencintai profesi saya. Melihat perlakuan yang saya terima dari karyawan dan keamanan McD Jalan Margonda saya merasa profesi saya telah dilecehkan,” ungkap Vini.

Oleh sebab itu, untuk menghindari kejadian serupa tak terulang lagi. Vini.pun melaporkan kasus ini ke polisi dengan nomor pelaporan, Nomor: LP/B/1113/VI/2021/SPKT/Polres Metro Depok/Polda Metro Jaya.

Pasal yang disangkakan adalah pasal 18 ayat 1 Undang Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Yang berbunyi,.”Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.

“Kami mendesak penyidik kepolisian Polrestro Depok segera melakukan proses hukum yang serius. Apa yang dialami Vini, contoh buruk bagi perkembangan kebebasan pers di Indonesia,” ujar Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah.

Rusdy mengecam keras apa yang dilakukan pihak McDonald’s terhadap wartawan yang sedang menjalankan tugas liputan. Tidak ada peraturan saat seorang wartawan yang meliput di area publik harus meminta ijin. Kalaupun ada hanya pemberitahuan kalau liputan itu di area publik yang merupakan kewanangan suatu perusahan atau instansi yang bukan wilayah pribadi.

“Liputan yang harus memerlukan ijin itu terkait liputan istana negara, instalasi militer dan batas garis polisi, serta tempat tinggal pribadi. Jadi, saya mengecam keras, apalagi ini terjadi dan alami oleh seorang wartawan wanita. Kejadian ini sudah 3 bulan berlalu, polisi tidak ada alasan lagi untuk melanjutkan perkara ini ke pihak kejaksaaan. Mari bersatu melawan kekerasan, intimidasi dan pelarangan kepada jurnalis oleh siapapun yang mencederai demokrasi,” paparnya.

Pengacara dari DNT Lawyers, Boris Tampubolon, SH menegaskan, menuntut aparat penyidik kepolisian Polrestro Depok segera melakukan proses hukum tindak pidana yang terjadi dan menindak tegas pihak-pihak yang melakukan maupun menyuruh melakukan pelarangan peliputan oleh Vini.

“Di mana persitiwa tersebut sudah menciderai tugas-tugas wartawan/jurnalis/pers untuk memberikan informasi kepada publik sekaligus menghalangi hak publik untuk mendapatkan informasi yang terjamin sebagaimana diatur Pasal 4 UU Pers No 40 Tahun 1999. Perkara ini sudah cukup alat bukti dan memenuhi unsur hukummya,” pungkas Boris. (Papi Ipul)

 152 total views

LEAVE A REPLY