CCTV, Tampak Diduga Oknum TNI dan Bersenjata Dalam Kasus Penyekapan Pengusaha di Depok

0
202

www.depoktren.com–Dalam layar tangkap rekaman kamera CCTV terlihat ada penampakan diduga oknum TNI berseragam loreng menenteng senjata laras panjang. Tampak juga seorang diduga pelaku memepet korban dan seorang perempuan istri korban menyaksikannya sambil berusaha lari yang kemudian dikejar oleh oknum TNI.

Begitulah, rekaman CCTV yang disaksikan depoktren dalam kasus penyekapan seorang pengusaha asal Kota Depok, berinisial HS (44) di sebuah hotel di Jalan Margonda Depok. Korban mengaku disekap bersama istrinya selama tiga hari dari Rabu (25/8/2021) hingga Jumat (27/8/2021).

Pengakuan korban, sedikitnya empat aparat TNI bersenjata terlibat dalam kasus penyekapan HS tersebut. Hal itu disampaikan pengacara korban, Tatang Supriyadi.

“Informasi klien kami, setiap 10 menit sekali, aparat tersebut bergantian masuk ke kamar hotel yang dipakai untuk menyekap korban selama tiga hari itu. Mereka mengancam korban menggunakan senjata api. Lalu, pada hari terakhir, ada lagi aparat yang datang, kali ini disebut menggunakan pakaian dinas lengkap,” ujar Tatang dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu (1/92021).

Pada Jumat (27/8/2021), korban bersama istri nekat melarikan diri hingga tercipta keributan. Petugas keamanan hotel turun tangan, sebelum kemudian polisi datang ke lokasi.

Sejauh ini baru dua orang ditahan polisi, diduga merupakan teknisi perusahaan yang juga terlibat dalam penyekapan. Polisi mengklaim masih mencari lima pelaku lain.

Lantas, ke mana para aparat yang selama tiga hari ini turut menyekap korban?. “Sudah tidak ada. Saat kejadian (ribut-ribut), mereka bubar. Yang tersisa hanya dua orang itu saja yang diamankan sekuriti di atas,” ucap Tatang.

Lanjut Tatang, pihaknya, kebetulan ikut saat pengamanan kliennya di kamar 1215. “Begitu kita sampai atas, kita coba ketuk-ketuk pintu 1215 (kamar yang digunakan untuk penyekapan), ternyata yang menggunakan baju dinas lengkap sudah ambil mobil di bawah dan sudah keluar hotel. Ketika kami naik, mereka turun,” tuturnya.

Tatang mengklaim telah mengantongi bukti-bukti dokumentasi keterlibatan para aparat tersebut. Korban baru kenal setelah ada penyekapan itu. Mereka memperkenalkan diri, mengenalkan namanya. Fotonya juga ada di kami. Termasuk foto yang menggunakan pakaian lengkap dinas juga sudah ada di kami. Nama-namanya sudah dilaporkan ke Polres Depok,” jelasnya.

Kasatreskrim Polres Metro Depok AKBP Yogen Heroes mengatakan, pihaknya telah mengamankan dua orang pelaku yang merupakan teknisi perusahaan rekan bisnis korban. “Kami masih memburu lima pelaku lain. Kami belum dapat memastikan adanya keterlibatan aparat TNI. Belum tentu itu aparat TNI,” terangnya.

Berdasarkan keterangan korban, para pelaku melakukan penyekapan karena ingin menyita aset-aset HS yang diduga hasil penggelapan uang perusahaan. “Diduga awalnya terkait masalah uang perusahaan, penggelapan uang perusahaan yang dilakukan korban. Nilainya sekitar Rp 73 miliar untuk sebuah proyek,” ungkap Yogen.

Pada hari ketiga, lanjut Yogen, terjadi konfrontasi antara korban dan para pelaku. Korban melarikan diri dan meminta pertolongan kepada petugas keamanan hotel “Karena yang kami tangani itu kasus penyekapannya bukan penggelapannya. Penggelapannya tempat kejadian perkara (TKP) nya bukan di Depok,” ungkap Yogen.

Korban lalu melaporkan peristiwa tersebut dengan nomor laporan LP/BP/1666/VIII/SPKT/2021/Polres Metro Depok/Polda Metro Jaya tertanggal 27 Agustus 2021.

“Saya masih trauma, istri saya juga sama. Saya pun merasa keselamatan saya tidak terjamin saat ini. Saya belum berani pulang ke rumah sampai sekarang,” kata AHS.

Selama disekap, ia mengaku mengalami kekerasan fisik maupun mental. Ia menduga, penyekapan ini dilakukan oleh pihak suruhan perusahaan tempatnya bekerja untuk menyerahkan seluruh aset dan harta kekayaan karena dianggap telah menggelapkan uang perusahaan.

HS mengaku ditekan untuk menandatangani surat pernyataan telah menggelapkan uang perusahaan dan ditekan untuk menandatangani pernyataan.

AHS mengaku diangkat menjadi direktur utama di perusahaan tersebut pada 6 Juli 2021. Pengangkatan itu disebut berlaku selama 5 tahun.

Pemilik perusahaan juga memberi kepemilikan saham di perusahaan tersebut. AHS berkeberatan apabila disebut menggelapkan uang perusahaan.

“Seolah mengelapkan uang perusahaan. Seharusnya kalau ada kerugian maka harus ada dasar audit keuangan dahulu, tapi ini kan tidak ada. Semuanya atas dasar tuduhan. Saya diancam dan dipukul supaya mengakui dan akhirnya menandatanganinya,” jelas HS.

Berdasarkan informasi yang didapat depoktren, ada tiga kamar yang di tempati setelah seseorang memesan kamar lewat aplikasi booking hotel. Mereka datang ke hotel seperti layaknya tamu hotel, melakukan registrasi, lalu mendapatkan kunci kamar, kemudian naik lift menuju kamar hotel. Tidak ada tanda-tanda adanya penyekapan, semuanya berjalan normal dan baru terjadi adanya kericuhan pada Jumat (27/8/2021). (Papi Ipul/Ruz)

 205 total views

LEAVE A REPLY